Kapan Waktu Terbaik untuk Sunat Anak? Ini Penjelasan Medis

Jumali
Jumali Senin, 26 Oktober 2026 17:17 WIB
Kapan Waktu Terbaik untuk Sunat Anak? Ini Penjelasan Medis

Anak-anak saat dikhitan di Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Sleman, Selasa (18/12/2018)./Harian Jogja-Fahmi Ahmad Burhan

Harianjogja.com, JOGJA—Menentukan waktu yang tepat untuk menyunat anak laki-laki menjadi pertimbangan bagi banyak orangtua. Selain tradisi dan keyakinan agama, kesiapan fisik anak, manfaat kesehatan, serta risiko prosedur perlu diperhitungkan sebelum mengambil keputusan.

Secara medis, sunat atau sirkumsisi merupakan prosedur untuk mengangkat kulup, yaitu kulit yang menutupi kepala penis. Prosedur ini dapat dilakukan sejak bayi hingga usia yang lebih besar, tetapi tidak ada satu usia yang otomatis menjadi pilihan terbaik bagi semua anak.

American Academy of Pediatrics (AAP) menyebut sunat pada bayi baru lahir memiliki sejumlah manfaat kesehatan, meski manfaat tersebut tidak cukup untuk merekomendasikan prosedur ini secara rutin kepada semua bayi laki-laki. Karena itu, orangtua perlu mempertimbangkan manfaat dan risikonya bersama tenaga medis.

Sunat Saat Bayi, Apa Kelebihannya?

Sunat pada masa bayi, terutama ketika kondisi kesehatan sudah stabil, dapat menjadi pilihan bagi keluarga yang memutuskan menjalani prosedur tersebut. Pada periode ini, tindakan umumnya lebih sederhana dibandingkan sunat pada anak yang lebih besar.

Menurut AAP, sunat pada masa bayi baru lahir memiliki tingkat komplikasi yang lebih rendah dibandingkan prosedur yang dilakukan pada usia lebih lanjut. Proses pemulihan umumnya berlangsung sekitar tujuh hingga 10 hari, meskipun waktu penyembuhan setiap anak bisa berbeda.

Sunat juga dapat menurunkan risiko infeksi saluran kemih (ISK) pada tahun pertama kehidupan. Meski demikian, ISK pada bayi laki-laki relatif jarang terjadi sehingga manfaat ini perlu dipahami bersama kondisi kesehatan masing-masing anak.

Orangtua tetap perlu memastikan bayi sehat dan cukup stabil untuk menjalani prosedur. Bayi yang lahir prematur, memiliki gangguan pembekuan darah, atau mengalami kelainan bawaan pada penis mungkin perlu menunda sunat atau menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

Sunat pada bayi juga bukan berarti prosedur tersebut bebas rasa sakit. Dokter perlu memberikan penanganan nyeri yang memadai dan melakukan tindakan dengan teknik steril untuk mengurangi risiko komplikasi.

Sunat pada Usia Sekolah, Anak Bisa Lebih Memahami Prosedur

Di Indonesia, sunat pada usia sekolah dasar kerap dipilih karena anak dinilai lebih siap memahami tujuan prosedur. Pada rentang usia sekitar 6–10 tahun, orangtua dapat menjelaskan tahapan sunat dan membantu anak mempersiapkan diri secara psikologis.

Namun, kesiapan anak berbeda-beda. Sebagian anak mungkin merasa cemas atau takut menghadapi tindakan medis, sehingga komunikasi yang baik dengan orangtua dan tenaga kesehatan menjadi penting.

Dari sisi medis, pemulihan setelah sunat pada anak yang lebih besar dapat membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan pada bayi. Risiko komplikasi juga dapat meningkat seiring bertambahnya usia, bergantung pada kondisi pasien dan metode yang digunakan.

Karena itu, keputusan tidak sebaiknya hanya didasarkan pada usia atau kebiasaan keluarga. Dokter dapat membantu menilai kondisi fisik anak, menjelaskan pilihan penanganan nyeri, serta memberikan petunjuk perawatan setelah prosedur.

Kapan Sunat Diperlukan karena Kondisi Medis?

Selain alasan budaya dan agama, sunat dapat dipertimbangkan untuk menangani kondisi medis tertentu. Namun, tidak semua masalah pada kulup harus langsung ditangani dengan operasi.

Berikut beberapa kondisi yang perlu diperiksa oleh dokter:

  • Fimosis: Kulup sulit ditarik ke belakang. Kondisi ini bisa normal pada bayi dan anak kecil selama tidak menimbulkan masalah. Jika disertai nyeri, kesulitan buang air kecil, atau infeksi berulang, dokter perlu melakukan evaluasi. Penanganan dapat berupa obat oles atau tindakan bedah, bergantung pada penyebab dan tingkat keparahannya.

  • Balanitis: Peradangan pada kepala penis yang dapat menimbulkan kemerahan, bengkak, gatal, atau nyeri. Penanganan disesuaikan dengan penyebabnya. Sunat dapat dipertimbangkan jika peradangan berulang dan pengobatan lain tidak berhasil.

  • Parafimosis: Kondisi ketika kulup yang ditarik ke belakang tidak dapat dikembalikan ke posisi semula sehingga kepala penis membengkak dan berisiko mengalami gangguan aliran darah. Ini merupakan kondisi darurat yang membutuhkan pertolongan medis segera.

  • Infeksi saluran kemih berulang: Dokter dapat mempertimbangkan sunat pada kasus tertentu, terutama jika terdapat faktor risiko atau kelainan saluran kemih. Keputusan harus didasarkan pada evaluasi medis, bukan hanya frekuensi keluhan.

Orangtua juga perlu mengetahui bahwa kulup yang belum bisa ditarik pada anak kecil tidak selalu menandakan penyakit. Kulup biasanya akan terpisah secara alami seiring pertumbuhan. Jangan memaksakan penarikan kulup karena dapat menimbulkan luka dan jaringan parut.

Manfaat Sunat bagi Kesehatan Anak

Sunat dapat memberikan beberapa manfaat kesehatan, tetapi besarnya manfaat bergantung pada usia, kondisi anak, serta risiko yang mendasarinya.

Salah satu manfaatnya adalah mempermudah kebersihan penis. Tanpa kulup, kepala penis lebih mudah dibersihkan. Meski demikian, anak yang tidak disunat tetap dapat menjaga kebersihan dengan perawatan yang tepat.

Sunat juga menurunkan risiko sejumlah masalah pada kulup dan kepala penis, termasuk peradangan berulang. Dalam jangka panjang, prosedur ini dikaitkan dengan penurunan risiko kanker penis dan beberapa infeksi menular seksual. Namun, kanker penis tergolong jarang, sedangkan sunat bukan pengganti perilaku seksual yang aman untuk mencegah infeksi menular seksual.

Di sisi lain, sunat tetap merupakan prosedur bedah yang memiliki risiko. Komplikasi yang mungkin terjadi antara lain perdarahan, infeksi, jaringan parut, atau masalah penyembuhan luka. Risiko tersebut dapat ditekan dengan pemilihan tenaga medis yang terlatih dan fasilitas yang memenuhi standar kesehatan.

Hal yang Perlu Diperiksa Sebelum Anak Disunat

Sebelum menentukan jadwal sunat, orangtua sebaiknya berkonsultasi dengan dokter untuk memastikan kesiapan anak. Pemeriksaan awal juga penting untuk mendeteksi kondisi yang dapat memengaruhi keamanan prosedur.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan meliputi:

  1. Kondisi kesehatan anak. Sampaikan kepada dokter jika anak sedang sakit, mengalami infeksi, atau memiliki riwayat gangguan pembekuan darah. Keputusan untuk menunda prosedur bergantung pada hasil pemeriksaan.

  2. Kelainan bentuk penis. Jika lubang kencing tidak berada di ujung penis, misalnya pada hipospadia, sunat sebaiknya ditunda sampai anak diperiksa dokter spesialis urologi anak atau bedah anak. Kulup mungkin dibutuhkan untuk operasi perbaikan.

  3. Pilihan metode dan pengendalian nyeri. Diskusikan metode yang sesuai, manfaat, risiko, serta perawatan setelah sunat. Istilah metode seperti konvensional, kauter, atau klem tidak menjamin anak dapat langsung beraktivitas seperti biasa.

  4. Kesiapan orangtua merawat luka. Pastikan orangtua memahami cara menjaga kebersihan, memberikan obat sesuai petunjuk, dan mengenali tanda komplikasi setelah prosedur.

Pada bayi, dokter juga perlu memastikan kondisi kesehatannya stabil sebelum tindakan dilakukan. Jangan menjadikan usia atau berat badan sebagai satu-satunya patokan tanpa pemeriksaan medis.

Jadi, Kapan Waktu Terbaik untuk Sunat?

Tidak ada satu usia yang paling tepat untuk semua anak laki-laki. Sunat saat bayi memiliki sejumlah kelebihan dari sisi prosedur dan risiko komplikasi, sedangkan sunat pada usia sekolah memungkinkan anak dilibatkan dalam pemahaman dan persiapan sebelum tindakan.

Pilihan akhirnya perlu mempertimbangkan kondisi kesehatan, kesiapan anak dan keluarga, serta pertimbangan budaya atau agama. Jika terdapat keluhan pada kulup atau kepala penis, orangtua sebaiknya meminta penilaian dokter terlebih dahulu karena tidak semua kondisi membutuhkan sunat.

Hal terpenting adalah memastikan prosedur dilakukan oleh tenaga medis terlatih di fasilitas kesehatan yang memadai, dengan pengendalian nyeri dan perawatan setelah tindakan yang sesuai.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online