Dari Bansos Menuju Ekonomi Produktif

Catur Dwi Janati
Catur Dwi Janati Senin, 26 Oktober 2026 17:10 WIB
Dari Bansos Menuju Ekonomi Produktif

Leontinus Alpha Edison/ Harian Jogja-Naufal Hibatul Aghni

Perintis Berdaya dirancang untuk meningkatkan pendapatan masyarakat melalui empat pilar pemberdayaan. Program ini menggabungkan pendampingan usaha, akses pasar, pembiayaan inklusif, serta perlindungan pekerja migran.

Pengentasan kemiskinan tidak cukup dilakukan dengan menyalurkan bantuan sosial. Masyarakat juga perlu memperoleh kesempatan untuk mengembangkan usaha, mengakses pembiayaan, memperluas pasar, dan meningkatkan pendapatan secara berkelanjutan.

Gagasan itulah yang mendasari Perintis Berdaya, program unggulan Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Kemenko PM). Program ini dirancang sebagai ekosistem pemberdayaan yang menghubungkan pendampingan, pengembangan usaha, pembiayaan, hingga akses ekonomi global.

Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat dan Pelindungan Pekerja Migran Kemenko PM, Leontinus Alpha Edison, menjelaskan Perintis Berdaya bertujuan mendorong masyarakat penerima bantuan sosial (bansos) agar semakin siap terlibat dalam aktivitas ekonomi produktif.

Menurut Leon, sapaan Leontinus, keterbatasan akses terhadap kegiatan ekonomi membuat masyarakat miskin rentan terjebak dalam siklus ketidakberdayaan. Karena itu, bantuan sosial perlu dilengkapi dengan pendampingan agar penerimanya memiliki kemampuan dan kesempatan meningkatkan taraf hidup.

“Penerima bansos itu harus didampingi melalui pemberdayaan sosial juga, supaya mereka graduasi dan siap serta produktif untuk berkarya di aktivitas ekonomi. Itu sebenarnya alasan utamanya [program Perintis Berdaya],” kata Leon seusai mengisi Dialog Pemberdayaan: Dari Kebun ke Kebijakan di Auditorium Fisipol UGM, Jumat (9/10).

Program ini dikembangkan untuk menjawab tiga mandat presiden sebagaimana dirujuk dalam Instruksi Presiden No.8/2025 tentang Pengentasan Kemiskinan dan Penghapusan Kemiskinan Ekstrem. Ketiga mandat tersebut ialah mengurangi kantong kemiskinan, memangkas beban pengeluaran masyarakat, dan meningkatkan pendapatan.

“Dua mandat pertama sudut pandangnya sosial. Nah, yang satu menambah pendapatan. Tugas saya memang menambah pendapatan ini,” ujar Leon.

Gagasan Perintis Berdaya mulai dirancang Leon setelah bertemu Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar sekitar Oktober 2024. Dalam perkembangannya, kerangka kerja tersebut dirancang menjadi ekosistem yang terdiri atas empat pilar, yakni Berdaya Bersama, Berdaya Berusaha, Berdaya Finansial, dan Berdaya Global.

 

Empat Pilar

Pilar pertama, Berdaya Bersama, menitikberatkan pengembangan kapasitas masyarakat melalui pelatihan dan pendampingan. Program ini dirancang dengan kurikulum yang terstruktur, metode inkubasi bisnis, serta mentor yang memiliki pengalaman praktis dalam menjalankan usaha.

Leon menilai pendampingan perlu diberikan oleh orang yang memahami langsung persoalan bisnis. Dengan begitu, materi yang diberikan tidak berhenti pada teori, tetapi dapat diterapkan sesuai kebutuhan dan kondisi usaha peserta.

Setelah kapasitas pelaku usaha diperkuat, pilar kedua, Berdaya Berusaha, diarahkan untuk membuka akses pengembangan bisnis. Pelaku usaha perlu terhubung dengan pemasok bahan baku, penyedia teknologi, lembaga pembiayaan, dan mitra pemasaran.

Untuk menjembatani kebutuhan tersebut, Perintis Berdaya akan mendorong kegiatan business matching yang mempertemukan pelaku usaha dengan berbagai mitra potensial. Akses pasar yang dikembangkan mencakup kanal daring dan luring, termasuk model pemasaran multikanal atau omnichannel.

Akses tersebut juga diarahkan untuk membuka peluang kerja sama dengan pembeli atau off-taker, memperkuat legalitas usaha dan hak kekayaan intelektual, serta memperluas jangkauan pemasaran hingga pasar global.

“Ketika mereka sudah belajar, mereka menjadi pengusaha yang sebenarnya dan membutuhkan akses,” kata Leon.

Pilar ketiga, Berdaya Finansial, berfokus pada perluasan akses pembiayaan yang inklusif, adaptif, dan berkelanjutan bagi pelaku usaha, terutama usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Leon menilai penilaian kelayakan usaha tidak semestinya hanya bertumpu pada aset atau agunan. Ada sejumlah parameter lain yang dapat digunakan untuk melihat kemampuan dan prospek usaha, seperti struktur biaya, pendapatan, model bisnis, legalitas, serta kontrak dengan mitra bisnis maupun pembeli luar negeri.

Pendampingan yang lebih intensif juga dinilai penting, khususnya bagi UMKM rintisan. Selain itu, Perintis Berdaya mendorong gagasan pengembangan pusat data terpadu mengenai pinjaman UMKM dan koperasi dari berbagai lembaga pembiayaan.

Pendekatan tersebut diharapkan memperluas akses modal sekaligus membantu lembaga pembiayaan menilai risiko secara lebih menyeluruh. Pada akhirnya, pembiayaan yang tepat diharapkan mendorong UMKM berkembang, menyerap tenaga kerja, dan memperkuat pertumbuhan ekonomi.

“Kami ingin mendorong pembiayaan lebih inklusif,” ujar Leon.

Adapun pilar keempat, Berdaya Global, memiliki fokus berbeda karena menyasar pekerja migran. Pilar ini diarahkan untuk memperkuat tata kelola pekerja migran sekaligus memastikan pelindungan hak mereka.

“Intinya, negara itu melindungi dan memberdayakan. Jadi, ada dua sekaligus,” kata Leon.

 

Uji Coba

Perintis Berdaya saat ini diuji coba di Bandung dan Batu. Leon menyebut jumlah pesertanya diperkirakan mencapai ribuan orang, dengan kegiatan pendampingan dan pelatihan yang diselenggarakan secara berkala. Program serupa direncanakan dikembangkan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Dalam pelaksanaannya, program ini mengandalkan local champion atau tokoh penggerak lokal yang memahami karakteristik dan potensi ekonomi wilayah. Mereka menjadi mitra untuk menyesuaikan materi pendampingan dengan kebutuhan pelaku usaha setempat.

Menurut Leon, keberhasilan UMKM naik kelas tidak cukup diukur dari peningkatan omzet. Perubahan dalam tata kelola dan kapasitas usaha juga perlu diperhitungkan, seperti penggunaan teknologi, pembukuan yang lebih tertib, pemanfaatan pasar digital dan live shopping, peningkatan jumlah pekerja, serta perbaikan perizinan.

Berbagai indikator tersebut akan digunakan untuk menilai perkembangan usaha peserta dengan melibatkan mitra lokal di lapangan.

Meski demikian, pelaksanaan Perintis Berdaya menghadapi tantangan koordinasi lintas kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah. Sebagian persoalan dapat diselesaikan melalui koordinasi, sedangkan persoalan lain mungkin membutuhkan perubahan atau penyusunan regulasi.

Leon mengatakan Kemenko PM terus menampung masukan dari pelaku UMKM dan mengidentifikasi hambatan yang mereka hadapi. Temuan di lapangan itu diharapkan menjadi dasar rekomendasi kebijakan agar kendala pengembangan usaha tidak terus berulang.

Bagi Leon, sasaran Perintis Berdaya bukan sekadar menjalankan kegiatan pelatihan, melainkan membangun ekosistem yang memungkinkan masyarakat mengembangkan usaha secara berkelanjutan. Dengan pendampingan yang sesuai, akses pembiayaan, dan pasar yang lebih luas, pemberdayaan diharapkan membuka jalan bagi masyarakat untuk meningkatkan pendapatan dan memperkuat kemandirian

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online