Masker dan Vaksin Influenza Jadi Upaya Cegah Penularan Flu A

Newswire
Newswire Senin, 12 Oktober 2026 06:17 WIB
Masker dan Vaksin Influenza Jadi Upaya Cegah Penularan Flu A

Penggunaan masker di area publik - Ilustrasi Freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Penggunaan masker, vaksinasi influenza, dan kebiasaan menjaga kebersihan menjadi sejumlah langkah untuk mengurangi risiko penularan influenza tipe A. Upaya pencegahan ini perlu diperhatikan, terutama saat beraktivitas di tempat ramai atau ruang tertutup yang berisiko meningkatkan paparan virus.

Dokter spesialis mikrobiologi klinik lulusan Universitas Diponegoro, dr. Andrew Adhytia Lieputra, Sp.MK, menyarankan masyarakat menggunakan masker ketika berada dalam situasi berisiko. Penggunaan masker dapat membantu mengurangi penyebaran partikel pernapasan dari orang yang sedang terinfeksi.

"Penggunaan masker membantu mengurangi penyebaran partikel pernapasan dari orang yang sedang sakit sekaligus memberikan perlindungan tambahan bagi orang di sekitarnya," kata Andrew dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Kamis.

Selain menggunakan masker, vaksinasi influenza secara berkala juga dianjurkan untuk membantu menekan risiko penyakit berat. Vaksinasi umumnya dilakukan setiap tahun, terutama bagi kelompok yang berisiko mengalami komplikasi, seperti anak-anak dan orang lanjut usia.

Andrew menjelaskan virus influenza terus mengalami perubahan sehingga komposisi vaksin dapat diperbarui sesuai dengan virus yang diperkirakan beredar. Sementara itu, perlindungan antibodi yang terbentuk setelah vaksinasi dapat menurun seiring waktu.

Jaga Kebersihan Tangan dan Terapkan Etika Batuk

Pencegahan influenza juga dapat dilakukan dengan menerapkan etika batuk dan bersin yang benar. Andrew mengingatkan masyarakat agar tidak menutup hidung dan mulut menggunakan telapak tangan ketika batuk atau bersin.

Sebagai gantinya, masyarakat dapat menggunakan tisu sekali pakai yang segera dibuang ke tempat sampah. Jika tisu tidak tersedia, hidung dan mulut dapat ditutup menggunakan bagian dalam siku atau lengan atas.

Kebersihan tangan juga perlu dijaga karena virus influenza dapat berpindah melalui tangan yang terkontaminasi, kemudian masuk ke tubuh ketika seseorang menyentuh hidung, mulut, atau mata.

Mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir atau memakai pembersih tangan berbasis alkohol dapat membantu mengurangi risiko penularan. Kebiasaan tersebut perlu dilakukan secara konsisten, terutama setelah beraktivitas di tempat umum.

Andrew turut mengingatkan pentingnya menjaga kondisi tubuh melalui konsumsi makanan bergizi seimbang, olahraga teratur, tidur yang cukup, serta pemeliharaan kesehatan secara umum. Kebiasaan tersebut membantu tubuh mempertahankan fungsi sistem kekebalan dengan baik.

Kenali Gejala Influenza A dan Risiko Komplikasinya

Influenza menular melalui partikel pernapasan yang dilepaskan ketika seseorang yang terinfeksi batuk, bersin, berbicara, atau bernapas. Risiko penularan dapat meningkat ketika seseorang berada dalam jarak dekat dengan penderita.

Setelah masuk ke tubuh, virus menginfeksi sel-sel pada saluran pernapasan dan berkembang biak di sana. Infeksi dapat menimbulkan gejala berupa demam, menggigil, nyeri tenggorokan, sakit kepala, nyeri otot, serta rasa lelah yang cukup berat.

Gejala tersebut umumnya muncul sekitar satu hingga empat hari setelah seseorang terpapar virus. Meski demikian, gejala dan tingkat keparahan penyakit dapat berbeda pada setiap orang.

Kelompok tertentu memiliki risiko lebih tinggi mengalami influenza berat dan komplikasi. Mereka antara lain anak-anak berusia di bawah lima tahun, lansia, ibu hamil, serta orang dengan penyakit kronis seperti diabetes, penyakit jantung, penyakit paru, atau gangguan sistem kekebalan tubuh.

Salah satu komplikasi yang perlu diwaspadai adalah pneumonia atau radang paru-paru. Kondisi ini dapat ditandai dengan sesak atau kesulitan bernapas, nyeri dada, tubuh sangat lemah, kesulitan makan atau minum, dehidrasi, hingga penurunan kesadaran.

Pada lansia dan orang dengan gangguan sistem kekebalan tubuh, gejala infeksi berat tidak selalu muncul dengan tanda-tanda yang khas. Karena itu, perubahan kondisi kesehatan perlu diperhatikan, terutama pada kelompok rentan.

Pemeriksaan Influenza Bisa Menggunakan Tes Antigen dan PCR

Andrew mengatakan pemeriksaan influenza dapat dilakukan menggunakan rapid antigen test. Pemeriksaan ini menggunakan sampel dari saluran pernapasan yang diambil melalui usap hidung atau nasofaring.

Selain tes antigen, pemeriksaan PCR atau metode molekuler lainnya dapat digunakan untuk mendeteksi virus influenza dengan sensitivitas lebih tinggi. Pemeriksaan tersebut terutama dapat dipertimbangkan pada pasien dengan gejala berat, pasien yang dirawat di rumah sakit, atau kelompok yang berisiko mengalami komplikasi.

Pengenalan gejala, penerapan langkah pencegahan, dan pemeriksaan sesuai kebutuhan menjadi bagian penting dalam penanganan influenza. Masyarakat, terutama kelompok rentan, perlu memperhatikan kondisi kesehatannya agar risiko komplikasi dapat ditangani sedini mungkin.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online