Leontinus Bawa Cara Kerja Startup ke Pemerintahan

Naufal Hibatul Aghni
Naufal Hibatul Aghni Senin, 26 Oktober 2026 16:53 WIB
Leontinus Bawa Cara Kerja Startup ke Pemerintahan

Leontinus Alpha Edison/Harian Jogja-Naufal Hibatul Aghni

Pengalaman mendirikan Tokopedia membentuk pendekatan Leontinus Alpha Edison dalam mengelola program pemberdayaan. Ia membawa prinsip penetapan target, kolaborasi, dan manajemen proyek ke birokrasi, tanpa mengabaikan tata kelola pemerintahan.

Selepas berdiskusi selama dua jam bersama wirausahawan dan akademisi, lalu melanjutkan dialog dengan mahasiswa di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada (Fisipol UGM), Leontinus Alpha Edison masih bersemangat menceritakan pekerjaannya. Pada Jumat (9/10) petang itu, Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat dan Pelindungan Pekerja Migran Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Kemenko PM) tersebut menjelaskan bagaimana pengalaman di industri teknologi ia bawa ke pemerintahan.

Leon, sapaan akrabnya, dikenal sebagai salah satu pendiri Tokopedia bersama William Tanuwijaya. Kini, pengalaman membangun perusahaan teknologi itu menjadi bekal untuk mengembangkan program pemberdayaan ekonomi masyarakat, termasuk Perintis Berdaya.

Menurut Leon, pengalaman di dunia bisnis memberinya sudut pandang untuk memahami kebutuhan pelaku usaha. Ia mencoba menerapkan prinsip kerja yang lazim digunakan perusahaan teknologi, terutama dalam menetapkan sasaran, mengukur kemajuan, dan mempercepat penyelesaian masalah.

“Saya membawa pengalaman dan sudut pandang dari sisi bisnis, cara kerja, semangat, dan nilai-nilai yang biasanya dipegang teguh oleh orang-orang teknologi,” ujarnya.

Salah satu pendekatan yang ia gunakan adalah Objectives and Key Results (OKR), metode untuk menetapkan tujuan dan menentukan hasil kunci sebagai tolok ukur pencapaiannya. Melalui pendekatan ini, tim diharapkan memahami tujuan yang ingin dicapai sebelum menetapkan indikator keberhasilan.

Leon menilai organisasi kerap disibukkan oleh kegiatan dan target, tetapi belum selalu memiliki kejelasan mengenai tujuan utama yang hendak dicapai.

“Menurut saya, yang paling penting itu objektif. Kita bekerja sibuk, tetapi harus jelas objektifnya apa. Setelah itu, key results yang harus kita pantau apa,” kata Leon.

Ia tidak bermaksud mengganti sistem perencanaan pemerintah dengan OKR. Menurutnya, program pemerintah tetap berada dalam kerangka kebijakan dan perencanaan yang berlaku, termasuk Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN). Prinsip OKR lebih banyak ia gunakan sebagai cara berpikir dan berkomunikasi ketika mengarahkan pelaksanaan program.

Dengan pendekatan itu, ia ingin memastikan setiap kegiatan memiliki tujuan yang jelas dan kemajuannya dapat dipantau. Namun, penerapannya perlu disesuaikan dengan mekanisme pemerintahan.

 

Kolaborasi Sesuai Kompetensi

Bagi Leon, salah satu tantangan bekerja di pemerintahan ialah kompleksitas tata kelola dan kepatuhan atau governance and compliance. Pengalaman di industri teknologi tidak serta-merta membuatnya menguasai seluruh aspek birokrasi.

Ia memilih berkolaborasi dengan aparatur yang memahami tata kelola pemerintahan. Ia berfokus pada perumusan masalah dan arah solusi, sedangkan detail pelaksanaan diserahkan kepada pihak yang memiliki kompetensi sesuai bidangnya.

“Kolaborasi itu mengerjakan apa yang menjadi kekuatan kita. Kalau ada hal yang tidak kita kuasai, kita harus mengandalkan orang lain yang lebih baik di bidang tersebut,” tuturnya.

Ia juga mendorong pendekatan pentahelix yang melibatkan pemerintah, akademisi, pelaku usaha, masyarakat, dan unsur terkait lainnya. Menurut Leon, masing-masing pihak memiliki pengetahuan dan sumber daya yang dapat saling melengkapi.

Pendekatan kolaboratif tersebut penting dalam program pemberdayaan karena persoalan UMKM tidak hanya berkaitan dengan keterampilan usaha. Pelaku usaha juga menghadapi kendala permodalan, akses pasar, teknologi, perizinan, dan koordinasi kebijakan. Sebagian persoalan dapat diselesaikan melalui koordinasi antarlembaga, sedangkan persoalan lain membutuhkan perubahan regulasi.

Leon mengatakan tantangan yang kerap dihadapi timnya ialah memastikan rencana program dipahami dan ditindaklanjuti oleh kementerian, lembaga, serta pemerintah daerah. Komunikasi dan diskusi lintas sektor menjadi bagian dari upaya mengurai hambatan tersebut.

 

Manajemen Proyek

Selain prinsip OKR, Leon memanfaatkan perangkat manajemen proyek atau project management tools untuk mengatur pekerjaan. Menurutnya, penggunaan perangkat tersebut membuat tahapan kerja lebih tertata dan membantu anggota tim mengetahui perkembangan pekerjaan divisi lain.

Ia mengatakan memilih perangkat dengan mempertimbangkan keamanan data, privasi, dan perlindungan informasi. Dalam risetnya, Leon memperhatikan sejumlah prinsip keamanan, termasuk arsitektur zero-knowledge dan enkripsi menyeluruh atau end-to-end encryption.

Penggunaan perangkat manajemen proyek itu, menurut dia, membantu tim memantau tahapan pekerjaan dan memperkuat koordinasi. Dengan akses terhadap informasi yang sesuai kebutuhan, anggota tim dapat memahami keterkaitan pekerjaan masing-masing tanpa harus selalu menunggu laporan terpisah.

Pengalaman di bidang teknologi juga tercermin dalam sejumlah inisiatif yang dikembangkan di bawah koordinasinya. Selain Perintis Berdaya, terdapat Perintis Berdaya Connect yang dirancang untuk menyatukan layanan pengembangan usaha dalam satu pintu, program 1001 Pasar Rakyat untuk mengaktifkan ruang publik sebagai akses pemasaran UMKM, serta Global Talent Day dan Migrant Center untuk memperkuat ekosistem pekerja migran.

Inisiatif tersebut menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem pemberdayaan, meski capaian dan dampaknya tetap perlu diukur melalui pelaksanaan program.

Leon merupakan lulusan Teknik Informatika Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Sebelum bergabung dengan pemerintahan, ia terlibat membangun Tokopedia dari awal. Pengalaman itu membentuk pandangannya mengenai pentingnya membuka kesempatan yang lebih setara bagi masyarakat untuk memulai dan mengembangkan usaha.

Kini, prinsip tersebut ia bawa ke dalam program pemberdayaan ekonomi. Namun, Leon menyadari pendekatan industri teknologi tidak bisa diterapkan begitu saja di pemerintahan. Perbedaan struktur, regulasi, dan tanggung jawab publik menuntut penyesuaian.

Menurutnya, kuncinya bukan menempatkan satu pendekatan sebagai pengganti pendekatan lain, melainkan menggabungkan kekuatan setiap pihak. Birokrat memahami tata kelola, akademisi memiliki kapasitas riset, pelaku usaha memahami dinamika bisnis, sedangkan masyarakat mengetahui kebutuhan dan kendala di lapangan.

Dengan pembagian peran yang jelas, pengalaman dari dunia teknologi diharapkan bisa memperkuat pelaksanaan kebijakan publik. Bagi Leon, ukuran keberhasilannya bukan seberapa banyak metode baru diperkenalkan, melainkan seberapa jauh pendekatan tersebut membantu program berjalan lebih terarah dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online