Skrining Psikososial Pekerja Tak Sama dengan Diagnosis, Ini Alasannya

Newswire
Newswire Minggu, 04 Oktober 2026 12:07 WIB
Skrining Psikososial Pekerja Tak Sama dengan Diagnosis, Ini Alasannya

Tenaga Kerja. - Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA— Skrining psikososial pada pekerja perlu dilakukan menggunakan instrumen yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya. Penggunaan instrumen juga harus disesuaikan dengan tujuan pemeriksaan serta karakteristik pekerja yang menjalani pemeriksaan.

Guru Besar dan Dokter Spesialis Kedokteran Okupasi Konsultan di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Prof. Dr. dr. Dewi S. Soemarko, M.S., Sp.Ok, Subsp.PsiKO (K) mengatakan instrumen skrining tidak dapat digunakan secara sembarangan maupun berdiri sendiri.

"Instrumen yang digunakan dalam skrining psikososial harus tervalidasi reliabilitasnya. Serta dalam penggunaannya tidak bisa berdiri sendiri dan harus disesuaikan dengan tujuan pemeriksaan serta karakteristik penggunanya," kata Dewi dalam keterangan resmi di Jakarta, Minggu (4/10/2026).

Skrining Pekerja Berbeda dengan Masyarakat Umum

Dewi menjelaskan skrining psikososial bagi pekerja memiliki pendekatan yang berbeda dibandingkan pemeriksaan pada masyarakat umum. Perbedaan tersebut berkaitan dengan faktor pemicu stres atau stressor yang dihadapi pekerja.

Karena itu, penggunaan kuesioner dalam skrining perlu mempertimbangkan konteks pemeriksaan. Langkah tersebut diperlukan agar hasil yang diperoleh sesuai dengan tujuan penggunaan instrumen.

Konteks pekerjaan menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan karena kondisi psikososial dapat berkaitan dengan bagaimana pekerjaan dirancang dan dikelola.

Faktor tersebut mencakup beban kerja, tuntutan pekerjaan, hubungan interpersonal, dukungan organisasi, hingga keseimbangan antara kehidupan kerja dan kehidupan pribadi.

Skrining Psikososial Berkaitan dengan Keselamatan Kerja

Praktisi Kesehatan Kerja dari SKK Migas dr. Royanul Arief, MM (K3L) menilai skrining psikososial, terutama di industri minyak dan gas, tidak hanya berkaitan dengan kesehatan mental pekerja. Aspek keselamatan kerja juga menjadi bagian yang perlu diperhatikan.

Menurut Royanul, kelelahan mental yang tidak ditangani dan dicegah dapat menimbulkan masalah pada pekerja. Kondisi tersebut dapat berakibat pada penurunan produktivitas hingga meningkatkan risiko kecelakaan kerja.

Meski demikian, Royanul mengingatkan bahwa hasil skrining tidak sama dengan diagnosis. Hasil pemeriksaan awal tersebut masih perlu dinilai lebih lanjut untuk penegakan diagnosis sehingga belum dapat digunakan sebagai dasar penilaian kelaikan kerja.

Pengelolaan risiko psikososial semakin relevan pada pekerjaan yang memiliki tuntutan tinggi, sistem kerja shift, lokasi kerja terpencil, paparan risiko operasional, maupun kebutuhan mempertahankan kesiapan fisik dan mental pekerja.

Kesehatan Mental Dukung Produktivitas Perusahaan

Commercial & Partnership Director PT Prodia Widyahusada Indriyanti Rafi Sukmawati menambahkan kesehatan mental pekerja menjadi bagian penting dalam mendukung produktivitas dan keberlanjutan perusahaan.

"Psikososial di dunia pekerjaan sangat penting karena jika employee-nya healthy not only physycally but also mentally, tentu akan meningkatkan produktivitas. Produktivitas juga akan memperbesar sustainabillity perusahaan," kata Indriyanti.

Topik skrining psikososial tersebut dibahas dalam seminar bertajuk "Memilih dan Menggunakan Kuesioner Psikososial secara Bertanggung Jawab: Perspektif Validitas, Reliabilitas, dan Implementasi di Tempat Kerja".

Seminar tersebut juga menghadirkan Dwiva Yulia, M. Psi, Psikolog dari bidang psikologi industri dan dr. Iwan Sugiarta, Sp.Ok yang membahas analisis data kesehatan.

Kegiatan yang diselenggarakan secara luring dan daring itu merupakan kerja sama Prodia Occupational Health Indonesia (Prodia OHI), Prodia Widyahusada, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), dan SKK Migas.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online