Serangan Gereja Tewaskan 8 Orang, Yordania Balas Serang Suriah
Angkatan Udara Yordania menyerang persembunyian kelompok teroris di Suriah selatan sebagai balasan atas serangan gereja yang menewaskan delapan orang.
Ftoo ilustrasi makanan diet. - ist/Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA—Pola diet makan sehari sekali atau One Meal A Day (OMAD) semakin populer sebagai strategi penurunan berat badan, namun pendekatan puasa intermiten ekstrem ini dinilai berpotensi memicu gangguan kesehatan apabila diterapkan tanpa perhitungan yang tepat.
Puasa intermiten sendiri merupakan metode pengaturan waktu makan dengan membatasi asupan kalori harian melalui periode makan tertentu dan berpuasa di sisa waktu. Dalam praktiknya, OMAD menjadi salah satu bentuk paling ketat karena hanya memperbolehkan konsumsi makanan satu kali dalam sehari, sehingga memicu kekhawatiran para ahli gizi.
Dikutip dari siaran Hindustan Times, Jumat (23/1/2026), ahli gizi Dasha mengamati adanya peningkatan kasus gangguan kantung empedu pada individu yang menjalani puasa intermiten ekstrem seperti OMAD. Kondisi ini berkaitan erat dengan fungsi kantung empedu dalam sistem pencernaan tubuh.
Ia menjelaskan bahwa kantung empedu memiliki peran vital dalam memecah lemak yang dikonsumsi tubuh.
"Empedu dilepaskan oleh kantung empedu untuk membantu Anda mencerna lemak sepanjang hari, apapun yang Anda makan," katanya.
Menurut Dasha, frekuensi makan yang terlalu jarang dapat mengganggu mekanisme alami tersebut.
"Sekresi empedu dirangsang ketika Anda makan, jadi jika Anda hanya makan sekali sehari, empedu itu hanya akan diam di kantung empedu, dan membentuk apa yang disebut endapan empedu, yang meningkatkan kemungkinan atau risiko terkena batu empedu," ia menjelaskan.
Berdasarkan temuan tersebut, Dasha menyarankan masyarakat memilih pola diet yang lebih seimbang, realistis, dan berkelanjutan dibandingkan OMAD. Salah satu alternatif yang dinilai lebih aman adalah puasa semalaman selama sekitar 12 jam.
Pola ini dapat diterapkan dengan membiasakan makan malam sebelum pukul 19.00 dan kembali makan pada pukul 07.00 keesokan harinya. Menurutnya, pendekatan tersebut masih memberi ruang bagi tubuh untuk beristirahat tanpa mengorbankan fungsi metabolisme.
Dasha juga menekankan pentingnya mengonsumsi makanan sekitar satu jam setelah bangun tidur guna menjaga tingkat energi dan kestabilan metabolisme. Selain itu, pengaturan jarak waktu makan setiap tiga hingga empat jam dinilai membantu mencegah makan berlebihan sekaligus mendukung pengendalian kadar gula darah.
Ia menambahkan, kebiasaan berhenti makan setidaknya tiga jam sebelum tidur memberi tubuh waktu yang cukup untuk mencerna makanan dengan optimal. Proses pencernaan yang selesai sebelum waktu istirahat disebut berkontribusi pada kualitas tidur yang lebih baik dan pemulihan tubuh yang lebih maksimal.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Angkatan Udara Yordania menyerang persembunyian kelompok teroris di Suriah selatan sebagai balasan atas serangan gereja yang menewaskan delapan orang.
Realisasi investasi selama dua tahun pemerintahan Prabowo mencapai Rp3.923,2 triliun dan menyerap lebih dari 5,48 juta tenaga kerja.
Pemerintah mengaktifkan SIZE di Jawa-Bali untuk mendeteksi dini penyakit zoonosis melalui integrasi data kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan.
Iran menegaskan kendali atas Selat Hormuz, Teluk Persia, dan Teluk Oman serta memperingatkan kapal yang melintas di luar jalur yang ditetapkan.
DPRD Kota Jogja meminta anggaran 2027 memprioritaskan kebutuhan masyarakat di tengah penurunan dana transfer dari pemerintah pusat.
SKK Migas menyebut UEA akan mengirim hingga 30 juta barel minyak ke Indonesia tanpa biaya, termasuk modal kerja dan biaya kapal.