Advertisement
Ahli Gizi Soroti Risiko Terlalu Tinggi Serat pada Pola Makan Harian
Makanan sumber serat. / Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Tren diet tinggi serat atau fibermaxxing kian populer sebagai strategi menjaga kesehatan, namun ahli gizi klinis mengingatkan praktik ini berisiko memicu gangguan nutrisi jika tidak dijalankan secara proporsional dan sesuai kebutuhan tubuh.
Ahli gizi klinis Dr. dr. Luciana B. Sutanto, MS, SpGK(K), menilai konsumsi serat berlebihan berpotensi menggeser asupan zat gizi lain yang sama pentingnya, seperti karbohidrat dan protein, sehingga keseimbangan nutrisi harian menjadi terganggu. Ia menegaskan bahwa prinsip dasar gizi tetap menempatkan keseimbangan sebagai fondasi utama pola makan sehat.
Advertisement
Menurut Luciana, kebutuhan serat harian masyarakat Indonesia berada pada kisaran 30–37 gram per hari. Asupan yang melampaui batas tersebut berisiko menurunkan kecukupan zat gizi esensial lain yang dibutuhkan tubuh untuk menunjang fungsi metabolisme dan daya tahan tubuh.
Masalah lain yang kerap muncul akibat konsumsi serat berlebihan adalah gangguan pencernaan, terutama jika tidak diimbangi dengan asupan cairan yang memadai. Kondisi ini dapat memicu sembelit dan rasa tidak nyaman pada saluran cerna, meskipun serat selama ini dikenal bermanfaat bagi kesehatan usus.
BACA JUGA
"Segala sesuatu yang berlebihan akan berakibat tidak baik. Konsumsi serat berlebihan akan mengurangi asupan makanan dari kelompok lain, misalnya bahan makanan sumber karbohidrat dan protein," kata Luciana, Jumat (24/1/2026).
Luciana menjelaskan bahwa serat tetap memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan tubuh jika dikonsumsi sesuai kebutuhan. Serat membantu melancarkan pencernaan, mencegah sembelit, serta berkontribusi dalam pengendalian berat badan karena memberikan rasa kenyang lebih lama.
Selain itu, serat berperan dalam menjaga kestabilan kadar gula darah, menurunkan kadar kolesterol jahat, serta mendukung pertumbuhan bakteri baik di usus. Konsumsi serat yang tepat juga dikaitkan dengan penurunan risiko penyakit kronis, seperti penyakit jantung, diabetes tipe 2, dan kanker usus besar
Menyikapi maraknya diet populer tanpa dasar ilmiah yang kuat, Luciana mengimbau masyarakat agar tidak sekadar mengikuti tren. Ia menekankan pentingnya merujuk pada pedoman gizi resmi yang disusun oleh institusi berwenang sebagai acuan pola makan sehari-hari.
"Sebaiknya mengikuti pedoman yang dianjurkan institusi yang bertanggung jawab. Anjuran konsumsi sayur dan buah, yang keduanya merupakan sumber serat, adalah setengah dari piring makan kita,” katanya.
Luciana menambahkan bahwa penerapan pola makan dengan gizi seimbang, termasuk pengaturan konsumsi serat sesuai kebutuhan, merupakan kunci menjaga kesehatan jangka panjang sekaligus mencegah dampak negatif dari praktik diet ekstrem yang tidak terkontrol.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : Antara
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Diawali dari Langgur, Cerita Wisata Kepulauan Kei Dimulai
Advertisement
Berita Populer
- Masih Ada 982 Guru dan Tenaga Kependidikan Honorer SMA-SMK di DIY
- Warga Kalibawang Diduga Tewas, Kerangka Ditemukan di Gunung Tugel
- PDIP DIY Gelar Merawat Pertiwi, Jaga Hubungan Manusia dan Alam
- Bus Wisata Dilarang Masuk Sumbu Filosofi, Pemkot Jogja Siapkan Lokasi
- Polisi Ungkap Modus Curanmor Basemen Mal di Sleman
Advertisement
Advertisement




