Indonesia hingga Thailand Tak Ikut Miss Universe 2026, Ini Alasannya

Jumali
Jumali Selasa, 27 Oktober 2026 17:07 WIB
Indonesia hingga Thailand Tak Ikut Miss Universe 2026, Ini Alasannya

Logo Miss Universe/Ist

Harianjogja.com, JOGJA—Indonesia bersama lima negara Asia Tenggara lainnya dipastikan tidak mengirimkan perwakilan ke ajang Miss Universe 2026 yang dijadwalkan berlangsung di Puerto Riko pada November. Keputusan ini melibatkan Thailand, Vietnam, Laos, Malaysia, dan Singapura, di tengah perselisihan mengenai hak waralaba serta kewenangan pengelolaan kontes kecantikan internasional tersebut.

Kepastian itu disampaikan Miss Grand International Public Co. Ltd. (MGI), perusahaan asal Thailand yang dipimpin Nawat Itsaragrisil. Dalam pernyataan tertanggal 21 Oktober 2026, perusahaan tersebut menyatakan para delegasi dari enam negara tidak akan berangkat untuk mengikuti kompetisi Miss Universe ke-75 dalam situasi saat ini.

Sebelumnya, CEO Miss Universe Organization (MUO), Ronald Day, juga menyatakan bahwa keenam negara tersebut tidak akan mengirimkan peserta. Nama delegasi dari negara-negara itu pun tidak tercantum dalam pemungutan suara daring melalui aplikasi resmi Miss Universe.

Menurut MGI, keputusan tidak mengirimkan peserta tidak berarti perusahaan secara sukarela melepaskan hak waralabanya. Perselisihan antara kedua pihak justru menjadi persoalan utama yang memengaruhi kesempatan para delegasi untuk tampil di panggung internasional.

Perselisihan Hak Waralaba Miss Universe

Konflik berpusat pada perbedaan pandangan mengenai pihak yang berwenang memberikan dan mengelola hak waralaba Miss Universe di sejumlah negara Asia Tenggara.

Nawat sebelumnya mengumumkan perolehan hak waralaba Miss Universe Thailand untuk periode lima tahun sekaligus penunjukan Thailand sebagai tuan rumah kompetisi internasional tersebut. Tahun ini, portofolionya diperluas dengan mencakup lima negara lain, yakni Indonesia, Vietnam, Laos, Malaysia, dan Singapura.

Nawat juga pernah menyebut dirinya sebagai CEO entitas bernama Miss Universe Eastern, yang diklaim bertanggung jawab mengawasi lebih dari 90 negara untuk MUO. Namun, pihak Miss Universe Organization membantah adanya pengaturan tersebut dan menegaskan bahwa Nawat hanya menjabat sebagai direktur nasional, bukan pejabat eksekutif organisasi.

Dalam pernyataannya, MGI menegaskan hak kontraktual atas enam negara tersebut merupakan hak perusahaan, bukan hak pribadi Nawat. Perusahaan itu juga meminta agar perselisihan antara Nawat dan pihak-pihak yang terkait dengan MUO tidak merugikan delegasi yang telah terpilih.

"Perselisihan pribadi, sengketa manajemen, atau ketidaksepakatan di depan publik yang melibatkan Nawat dengan pihak-pihak tertentu yang terkait dengan MU West atau MUO tidak boleh dikaitkan dengan atau dijadikan dasar untuk merugikan hak-hak kontraktual MGI," demikian pernyataan tersebut, seperti dilansir Inquirer.

Di sisi lain, MUO menyatakan tidak mengakui Miss Universe Eastern sebagai badan atau perwakilan resmi yang berwenang memberikan hak penggunaan merek Miss Universe. Perbedaan posisi ini membuat status peserta dari enam negara tersebut menjadi bagian dari sengketa yang belum terselesaikan.

Konflik Berlanjut Setelah Kontes Tahun Lalu

Perselisihan antara Nawat dan MUO juga berkaitan dengan sejumlah kontroversi setelah penyelenggaraan Miss Universe tahun lalu. Salah satu insiden yang menyita perhatian publik adalah perseteruan Nawat dengan pemenang Miss Universe, Fatima Bosch, dalam sebuah acara menjelang final di Bangkok.

Nawat kemudian menyampaikan permintaan maaf di hadapan media sambil menangis atas kegaduhan yang terjadi. Insiden tersebut memicu simpati terhadap Bosch, tetapi kontroversi seputar penyelenggaraan kompetisi berlanjut setelah acara berakhir.

Nawat juga melontarkan kritik dan kekhawatiran mengenai MUO, termasuk menyoroti persoalan hukum yang dihadapi presiden organisasi tersebut, Raul Rocha. Pernyataan-pernyataan itu memicu tanggapan dari pihak organisasi.

Perselisihan kemudian meluas ke ranah digital. Nawat mengambil alih pengelolaan situs web serta akun Facebook dan X milik MUO, sedangkan kubu yang berpihak kepada Rocha tetap mengendalikan akun Instagram dan aplikasi resmi Miss Universe. Pihak tersebut juga meluncurkan situs web baru yang menjadi salah satu saluran untuk menyampaikan pernyataan masing-masing.

Hingga pengumuman terbaru, MGI tetap menyatakan bahwa hak waralaba untuk enam negara tersebut berada di bawah kendali perusahaan. MGI juga menegaskan bahwa keputusan tidak mengirimkan delegasi tidak berarti melepaskan hak kontraktual yang diklaim masih berlaku.

Delegasi Tetap Memegang Gelar Nasional

Meski tidak tampil di Miss Universe 2026, MGI menegaskan keputusan tersebut tidak menghapus pencapaian maupun tanggung jawab para perempuan yang telah terpilih sebagai pemegang gelar nasional.

Tharina Botes menyandang gelar Miss Universe Thailand, sedangkan Eunice Wong merupakan pemegang gelar Miss Universe Malaysia. Vietnam juga telah memilih Nguyen Quynh Anh sebagai Miss Universe Vietnam 2026.

MGI menyatakan para pemegang gelar nasional tetap dapat menjalankan kegiatan di negara masing-masing, termasuk mewakili komunitas, menginspirasi masyarakat, dan menjalankan kegiatan sosial melalui platform yang mereka miliki.

Menurut perusahaan tersebut, pencapaian dan martabat para delegasi tidak semestinya ditentukan oleh kesempatan tampil di satu kompetisi internasional.

"Situasi seputar kompetisi Miss Universe ke-75 seharusnya tidak sedikit pun mengurangi apa yang telah dicapai oleh keenam perempuan ini, ataupun tanggung jawab yang terus mereka emban bagi negara mereka," demikian pernyataan MGI.

Asia Tenggara Hanya Diwakili Tiga Negara

Absennya Thailand, Indonesia, Vietnam, Laos, Malaysia, dan Singapura membuat jumlah negara Asia Tenggara yang mengirimkan peserta ke Miss Universe 2026 menjadi lebih terbatas.

Berdasarkan informasi, tiga negara Asia Tenggara yang masih memiliki perwakilan adalah Filipina, Myanmar, dan Kamboja. Filipina akan diwakili Bea Millan-Windorski, Myanmar oleh Mary Grace Parry, sedangkan Kamboja oleh Than Rthna.

Situasi ini memperlihatkan bagaimana perselisihan mengenai hak waralaba dan tata kelola organisasi internasional dapat berdampak langsung pada kesempatan peserta mengikuti kompetisi.

Di tengah konflik tersebut, MGI menegaskan para pemegang gelar nasional dari enam negara tetap dapat menjalankan tanggung jawab dan kegiatan masing-masing meski tidak tampil di panggung Miss Universe ke-75.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online