Diet Ekstrem Bisa Bikin Otot Menyusut dan Berat Badan Naik Lagi

Newswire
Newswire Sabtu, 07 November 2026 20:37 WIB
Diet Ekstrem Bisa Bikin Otot Menyusut dan Berat Badan Naik Lagi

Foto ilustrasi menu diet berupa salad sayur. - Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA—Diet ekstrem untuk menurunkan berat badan dalam waktu singkat ternyata menyimpan risiko bagi kesehatan. Selain berpotensi mengurangi massa otot, pola makan yang terlalu ketat juga dapat mengganggu metabolisme dan memicu kenaikan berat badan kembali setelah diet dihentikan.

Dokter spesialis gizi klinik, dr. Christopher Andrian, mengingatkan bahwa turunnya angka pada timbangan tidak selalu menandakan berkurangnya lemak tubuh. Sebab, berat badan seseorang terdiri atas beberapa komponen, termasuk air, lemak, dan massa otot.

Salah satu kesalahan yang kerap terjadi saat menjalani diet adalah hanya mengonsumsi buah dan sayur tanpa memenuhi kebutuhan protein. Padahal, protein dibutuhkan tubuh untuk mempertahankan massa otot.

“Kalau kita cuma makan buah sama sayur, proteinnya tidak ada. Tubuh tidak dapat protein dan akan ambil cadangan protein dalam otot. Otot mengecil dan metabolisme tubuh terganggu,” ujar Christopher dalam diskusi media oleh Novo Indonesia di Jakarta Selatan, Kamis (5/11/2026).

Menurut Christopher, ketika asupan protein tidak mencukupi, tubuh dapat mengambil protein dari jaringan otot. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi tersebut berisiko menyebabkan massa otot menyusut, terutama ketika seseorang menerapkan pembatasan makan secara ekstrem.

Dampaknya tidak berhenti pada berkurangnya massa otot. Pembatasan asupan makanan secara berlebihan juga dapat membuat metabolisme tubuh melambat sehingga memengaruhi proses pengelolaan berat badan.

Berat Badan Bisa Naik Lagi Setelah Diet Dihentikan

Christopher menjelaskan diet yang terlalu ketat juga berisiko memicu kenaikan berat badan kembali atau rebound. Kondisi ini dapat terjadi ketika seseorang kembali mengonsumsi makanan seperti sebelum menjalani diet.

“Keti­ka kita sekalinya makan, langsung deh rebound. Itu adalah hal yang paling kita hindari sebenarnya ketika kita mau mendapatkan berat badan yang ideal,” katanya.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak langsung menganggap penurunan berat badan secara cepat sebagai keberhasilan diet. Pada minggu pertama, penurunan angka timbangan justru lebih sering disebabkan oleh berkurangnya cairan tubuh.

“Kalau berat badan turun cepat dalam minggu pertama, yang paling sering hilang itu adalah air,” kata Christopher.

Karena itu, pengukuran keberhasilan diet sebaiknya tidak hanya mengacu pada angka timbangan. Komposisi tubuh juga perlu diperhatikan untuk mengetahui apakah penurunan berat badan terjadi pada lemak, otot, atau air.

Kehilangan massa otot menjadi hal yang perlu diwaspadai karena jaringan tersebut berperan dalam menunjang aktivitas sehari-hari dan menjaga kekuatan tubuh. Masyarakat juga disarankan tidak memangkas asupan kalori secara berlebihan hanya demi mendapatkan hasil dalam waktu singkat.

Empat Pilar Penting dalam Mengelola Berat Badan

Selain memperhatikan komposisi tubuh, Christopher menekankan bahwa pengelolaan berat badan, khususnya pada individu dengan obesitas, perlu dilakukan melalui pendekatan yang menyeluruh.

Ada empat pilar yang perlu diperhatikan, yakni pemenuhan nutrisi, olahraga, pengelolaan stres, dan tidur yang cukup.

“Kalau mau turun berat badan, harus ada empat parameter yang kita lihat. Satu, nutrisi. Kedua, exercise. Ketiga, kontrol stres. Dan yang keempat, tidur cukup,” kata Christopher.

Menurutnya, keberhasilan penanganan obesitas tidak cukup dinilai dari jumlah kilogram yang berhasil diturunkan. Perbaikan kesehatan metabolik, kondisi jantung, persendian, hingga kualitas hidup juga menjadi bagian penting dari tujuan pengelolaan berat badan.

Christopher mengingatkan bahwa program penurunan berat badan seharusnya berorientasi pada kesehatan jangka panjang, bukan sekadar mengejar angka tertentu dalam waktu singkat.

Bagi masyarakat yang mengalami obesitas atau memiliki kondisi kesehatan tertentu, perencanaan diet sebaiknya dilakukan bersama tenaga kesehatan. Dengan begitu, pola makan yang diterapkan dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing individu.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online