Musim Peralihan Picu Risiko ISPA hingga DBD, Orang Tua Wajib Waspada

Newswire
Newswire Jum'at, 30 Oktober 2026 23:27 WIB
Musim Peralihan Picu Risiko ISPA hingga DBD, Orang Tua Wajib Waspada

Ilustrasi pemeriksaan kesehatan anak/magnific

Harianjogja.com, JOGJA—Peralihan musim kemarau ke musim hujan meningkatkan risiko sejumlah penyakit pada anak, mulai dari infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), diare, hingga demam berdarah dengue (DBD). Dokter Spesialis Anak Rumah Sakit Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Solo, dr. Aisya Fikritama Aditya, Sp.A, mengingatkan orang tua agar memperhatikan kebiasaan sehari-hari, asupan nutrisi, kebersihan lingkungan, serta kelengkapan imunisasi untuk menjaga kesehatan anak.

Menurut Aisya, pencegahan penyakit pada anak tidak cukup hanya mengandalkan pemberian vitamin atau suplemen. Kebiasaan sederhana seperti menjaga kebersihan tangan dan memastikan makanan yang dikonsumsi aman justru menjadi bagian penting dalam perlindungan kesehatan anak.

“Pastikan anak mencuci tangan dengan sabun, mengonsumsi makanan yang matang dan air minum yang aman, serta tidak jajan sembarangan,” kata Aisya kepada ANTARA di Jakarta, Jumat (30/10/2026).

Kebersihan Lingkungan dan Perlindungan dari Nyamuk

Selain menjaga kebersihan diri, orang tua perlu memastikan lingkungan rumah tetap bersih, terutama selama musim hujan. Aisya menyarankan masyarakat rutin membersihkan tempat penampungan air dan menutup berbagai tempat yang berpotensi menjadi sarang nyamuk.

Penggunaan perlindungan antinyamuk juga dapat dilakukan dengan menyesuaikan produk dan cara pemakaian berdasarkan usia anak.

Risiko kesehatan perlu mendapat perhatian lebih ketika lingkungan tempat tinggal mengalami banjir. Anak sebaiknya tidak dibiarkan bermain di genangan maupun air banjir yang kotor karena berpotensi terkontaminasi berbagai kuman.

“Jika lingkungan mengalami banjir, sebisa mungkin hindari anak bermain di air banjir atau genangan yang kotor. Air tersebut bisa terkontaminasi berbagai kuman,” ujar dia.

Perhatikan Asupan Gizi dan Kebutuhan Cairan Anak

Pemenuhan nutrisi menjadi bagian penting lainnya dalam menjaga daya tahan tubuh anak selama musim peralihan. Aisya menganjurkan orang tua memberikan makanan bergizi seimbang sesuai usia dengan kandungan karbohidrat, protein, lemak sehat, sayur, dan buah.

Sumber protein dapat diperoleh dari berbagai bahan makanan yang mudah dijumpai, seperti telur, ikan, ayam, daging, tahu, dan tempe. Selain makanan bergizi, kebutuhan cairan anak juga harus dipastikan terpenuhi.

Untuk bayi, pemberian ASI tetap dilakukan sesuai kebutuhan. Sementara itu, makanan pendamping ASI (MPASI) mulai diberikan sesuai usia, yakni sekitar enam bulan.

Tidak hanya soal makanan, anak juga perlu mendapatkan waktu tidur yang cukup dan aktivitas fisik secara teratur sesuai kondisinya. Orang tua juga perlu memastikan imunisasi diberikan sesuai jadwal.

“Jadi, bukan satu jenis makanan atau minuman tertentu yang bisa mencegah semua penyakit, melainkan kombinasi gizi yang baik, kebersihan, imunisasi, istirahat, dan lingkungan yang sehat,” tutur dia.

Anak Sehat Tidak Selalu Membutuhkan Tambahan Vitamin

Aisya mengingatkan pemberian suplemen tidak otomatis diperlukan setiap kali memasuki musim hujan. Anak yang sehat, tumbuh dengan baik, serta mendapatkan kebutuhan nutrisi dari makanan beragam umumnya tidak memerlukan tambahan vitamin secara rutin hanya untuk mencegah infeksi.

Suplemen dapat dipertimbangkan apabila anak mengalami kekurangan zat gizi, memiliki pola makan sangat terbatas, kondisi medis tertentu, gangguan penyerapan nutrisi, atau kebutuhan khusus berdasarkan pemeriksaan dokter.

Dalam kondisi tertentu, vitamin D, zat besi, maupun mikronutrien lainnya memang dapat dibutuhkan. Namun, pemberiannya harus mempertimbangkan usia, pola makan, faktor risiko, dan pedoman klinis yang berlaku.

Dokter yang juga Dosen Fakultas Kedokteran UNS itu menegaskan vitamin bukan pengganti makanan bergizi. Pemberian suplemen juga tidak menjamin anak terbebas dari penyakit.

Orang tua justru perlu berhati-hati terhadap penggunaan vitamin dalam dosis berlebihan karena berpotensi menimbulkan efek samping.

“Vitamin A dan D, misalnya, termasuk vitamin larut lemak yang dapat menumpuk dalam tubuh bila dikonsumsi berlebihan. Karena itu, orang tua sebaiknya tidak memberikan berbagai suplemen sekaligus tanpa mengetahui kandungan dan dosisnya,” ujar Aisya.

Jika anak mengalami kesulitan makan, berat badan tidak bertambah dengan baik, atau dicurigai mengalami kekurangan zat gizi, orang tua disarankan berkonsultasi dengan dokter anak. Langkah tersebut diperlukan agar jenis dan dosis suplemen yang diberikan sesuai kebutuhan.

Tiga Penyakit Anak yang Perlu Diwaspadai saat Musim Hujan

Aisya menyebut terdapat sejumlah penyakit yang perlu diantisipasi orang tua ketika terjadi peralihan dari musim kemarau ke musim hujan.

Pertama, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), yang dapat muncul dalam bentuk batuk, pilek, dan influenza.

Kedua, diare akibat konsumsi makanan atau air yang terkontaminasi. Kondisi lingkungan yang kurang bersih selama musim hujan menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam menjaga kesehatan anak.

Ketiga, demam berdarah dengue (DBD). Risiko penyakit ini dapat meningkat ketika banyak genangan air terbentuk dan menjadi tempat berkembang biak nyamuk.

Karena itu, perlindungan kesehatan anak selama musim peralihan perlu dilakukan secara menyeluruh. Pemenuhan gizi seimbang, kebiasaan hidup bersih, lingkungan sehat, istirahat cukup, serta imunisasi sesuai jadwal menjadi langkah preventif yang perlu diterapkan secara konsisten oleh keluarga.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online