5 Penyebab Stretch Mark Saat Hamil, Bukan Cuma Kulit Meregang

Jumali
Jumali Sabtu, 31 Oktober 2026 16:57 WIB
5 Penyebab Stretch Mark Saat Hamil, Bukan Cuma Kulit Meregang

Stretch Mark /Magnific

Harianjogja.com, JOGJA—Munculnya stretch mark menjadi salah satu perubahan kulit yang kerap dialami perempuan selama kehamilan. Guratan ini biasanya terlihat di perut, payudara, pinggul, paha, hingga bokong seiring perubahan ukuran tubuh.

Dalam istilah medis, stretch mark yang muncul selama kehamilan disebut striae gravidarum. Pada tahap awal, guratan tersebut dapat berwarna merah, merah muda, atau keunguan. Seiring waktu, warnanya biasanya memudar menjadi putih atau keperakan.

Kemunculan stretch mark tidak selalu berkaitan dengan kebiasaan menggunakan pelembap. Kondisi ini dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari peregangan kulit, perubahan hormon, hingga faktor keturunan.

Karena itu, perempuan hamil perlu memahami bahwa stretch mark bukan semata-mata akibat kurangnya perawatan kulit. Berikut lima faktor yang dapat meningkatkan risiko kemunculannya.

1. Peregangan Kulit Terjadi Terlalu Cepat

Peregangan kulit dalam waktu relatif singkat menjadi salah satu penyebab utama stretch mark. Kondisi ini terjadi ketika perubahan ukuran tubuh berlangsung lebih cepat daripada kemampuan kulit untuk menyesuaikan diri.

Kulit memiliki lapisan dermis yang mengandung serat kolagen dan elastin. Keduanya berperan menjaga kekuatan serta elastisitas kulit.

Ketika kulit meregang terlalu cepat, serat-serat tersebut dapat mengalami kerusakan mikroskopis. Proses perbaikan jaringan selanjutnya membentuk jaringan parut yang terlihat sebagai guratan stretch mark.

Selama kehamilan, pertumbuhan perut dapat meningkatkan tekanan pada kulit. Peregangan yang berlangsung seiring perkembangan kehamilan inilah yang berkontribusi terhadap munculnya guratan.

2. Perubahan Hormon Selama Kehamilan

Perubahan hormon juga berperan dalam pembentukan stretch mark. Peningkatan hormon tertentu dapat memengaruhi ikatan antara serat kolagen sehingga struktur kulit menjadi lebih rentan terhadap peregangan.

Salah satu hormon yang disebut berperan adalah relaksin atau relaxin. Hormon ini membantu melonggarkan ligamen sebagai bagian dari persiapan tubuh menghadapi persalinan.

Namun, relaksin juga dapat memengaruhi kekuatan struktur lapisan dermis. Akibatnya, kulit berpotensi lebih mudah mengalami kerusakan ketika mendapatkan tekanan akibat perubahan ukuran tubuh.

Faktor hormonal tersebut menjadi salah satu hal yang membedakan stretch mark selama kehamilan dengan guratan akibat peregangan kulit karena aktivitas fisik atau kenaikan berat badan biasa.

3. Faktor Genetik atau Keturunan

Riwayat keluarga turut memengaruhi risiko seseorang mengalami stretch mark. Karakteristik jaringan ikat yang diwariskan dapat menentukan kekuatan dan ketahanan kulit ketika mengalami peregangan.

Perempuan yang memiliki ibu atau saudara perempuan dengan riwayat stretch mark selama kehamilan berpotensi memiliki risiko lebih tinggi mengalami kondisi serupa.

Dengan demikian, munculnya stretch mark tidak selalu menunjukkan bahwa seseorang kurang merawat kulit. Faktor genetik ikut menentukan kondisi jaringan kulit dan tidak sepenuhnya dapat dikendalikan melalui penggunaan produk perawatan dari luar.

4. Kenaikan Berat Badan Berlebihan

Pertambahan berat badan selama kehamilan juga dapat meningkatkan risiko stretch mark. Perubahan ukuran tubuh membuat kulit harus menyesuaikan diri dengan bertambahnya volume jaringan di bawahnya.

Risiko ini tidak hanya berkaitan dengan jumlah berat badan yang bertambah, tetapi juga kecepatannya. Kenaikan berat badan yang berlangsung terlalu cepat dapat memberikan tekanan lebih besar pada lapisan dermis.

Selain itu, berat badan berlebih sebelum kehamilan juga termasuk faktor risiko. Oleh sebab itu, pemantauan kenaikan berat badan selama kehamilan penting dilakukan dengan mengikuti rekomendasi tenaga kesehatan.

5. Kehamilan pada Usia Remaja dan Ukuran Bayi

Usia saat hamil juga dapat berkaitan dengan risiko munculnya stretch mark. Kehamilan pada usia remaja termasuk salah satu faktor risiko yang disebut dalam penelitian mengenai striae gravidarum.

Ukuran bayi juga dapat memengaruhi tingkat peregangan kulit, khususnya pada bagian perut. Bayi dengan ukuran lebih besar dapat meningkatkan tekanan mekanis pada kulit ibu selama kehamilan.

Kombinasi perubahan ukuran perut, faktor hormonal, dan karakteristik jaringan kulit tersebut dapat memengaruhi tingkat keparahan stretch mark yang muncul.

Apakah Stretch Mark Saat Hamil Bisa Dicegah?

Stretch mark tidak selalu bisa dicegah sepenuhnya. Risiko kemunculannya dipengaruhi faktor yang tidak seluruhnya dapat dikendalikan, termasuk faktor genetik dan perubahan hormon.

Penggunaan pelembap, minyak alami, maupun krim tertentu juga belum terbukti secara kuat mampu mencegah stretch mark.

Meski demikian, menjaga kelembapan kulit secara rutin dapat membantu mengurangi rasa kering dan gatal ketika kulit mengalami peregangan. Pijatan lembut saat mengoleskan pelembap juga menunjukkan potensi membantu mengurangi tingkat keparahan guratan.

Setelah persalinan, stretch mark umumnya memudar dalam waktu 12–24 bulan. Namun, guratan tersebut tidak selalu hilang sepenuhnya.

Perubahan kulit ini merupakan bagian dari proses alami tubuh selama kehamilan dan tidak selalu menandakan adanya masalah kesehatan. Dengan memahami penyebabnya, ibu hamil dapat lebih bijak memilih perawatan kulit tanpa merasa harus menyalahkan diri sendiri ketika stretch mark muncul.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online