Menekan Impor LPG dengan DME di Dapur Rumah Tangga
Pengembangan DME dari batu bara dinilai berpotensi mengurangi impor LPG dan menekan beban subsidi energi nasional.
Ilustrasi minum. - Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA—Bahaya overhidrasi kerap luput dari perhatian di tengah kampanye minum air putih yang masif. Padahal, minum berlebihan justru bisa mengganggu kesehatan karena membebani ginjal dan mengganggu keseimbangan elektrolit tubuh.
Para pakar mengingatkan bahwa kebutuhan cairan tidak bisa disamaratakan, sebab setiap orang memiliki kondisi fisik dan aktivitas yang berbeda.
Kebutuhan hidrasi bersifat individual dan dipengaruhi banyak faktor, mulai dari berat badan, iklim, tingkat aktivitas, hingga kondisi kesehatan.
Konsultan Nefrologi dari ISIC Multispeciality Hospital, Dr. Udit Gupta, seperti dikutip dari Hindustan Times, Selasa (3/3/2025) menjelaskan bahwa seseorang yang aktif berolahraga di bawah paparan matahari tentu memerlukan asupan cairan lebih besar dibandingkan individu yang lebih banyak beraktivitas di ruangan berpendingin udara (AC).
Selain itu, konsumsi buah dan sayur yang kaya air turut menyumbang kebutuhan cairan harian, sehingga jumlah air minum tidak harus selalu tinggi.
Menurut Dr. Gupta, tolok ukur utama kesehatan ginjal bukanlah banyaknya gelas yang diminum, melainkan kestabilan produksi urine. Untuk orang dewasa, produksi urine ideal berkisar 1,5-2 liter per hari, sedangkan pada anak-anak disesuaikan dengan usia serta ukuran tubuh.
Bahaya overhidrasi muncul ketika asupan cairan melampaui kemampuan tubuh untuk mengaturnya. Kondisi ini dapat memicu penurunan kadar natrium dalam darah atau hiponatremia. Secara medis, gangguan tersebut berisiko mengacaukan metabolisme dan justru memberi tekanan tambahan pada ginjal yang sejatinya mampu bekerja optimal dalam rentang cairan yang memadai.
Anggapan bahwa urine sehat harus selalu jernih pun tidak sepenuhnya tepat. Urine yang terlalu bening bisa menjadi tanda overhidrasi, bukan indikator kesehatan ideal.
Para ahli nefrologi menyebut warna kuning pucat sebagai penanda hidrasi yang cukup. Artinya, memaksakan diri minum tanpa rasa haus tidak otomatis meningkatkan kinerja ginjal.
Karena itu, memahami perbedaan dehidrasi dan bahaya overhidrasi menjadi penting dalam menjaga fungsi ginjal. Organ ini memiliki sistem regulasi cairan yang kompleks selama asupan berada dalam batas wajar.
Dengan memperhatikan sinyal haus alami serta memantau warna urine sebagai panduan praktis, keseimbangan cairan tubuh dapat terjaga tanpa harus terjebak pada kebiasaan minum berlebihan yang justru berisiko bagi kesehatan ginjal dalam aktivitas sehari-hari.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Pengembangan DME dari batu bara dinilai berpotensi mengurangi impor LPG dan menekan beban subsidi energi nasional.
Amerika Serikat disebut telah menghabiskan Rp507 triliun untuk operasi militer melawan Iran sejak konflik pecah Februari 2026.
Jadwal KRL Jogja-Solo Rabu 13 Mei 2026 lengkap dari Yogyakarta hingga Palur, tarif tetap Rp8.000 sekali perjalanan.
Festival Dalang Cilik Kulonprogo menjadi ajang regenerasi dalang muda dan pelestarian budaya wayang di kalangan pelajar.
Jadwal KRL Solo-Jogja Rabu 13 Mei 2026 lengkap dari Palur hingga Yogyakarta dengan tarif Rp8.000 sekali perjalanan
Kelurahan Patangpuluhan Jogja memperkuat literasi gizi keluarga lewat pelatihan B2SA untuk mempertahankan nol kasus stunting.