Penelitian Ungkap Ekosistem Ovarium Kunci Kesuburan
Penelitian ungkap penuaan ovarium bukan hanya soal sel telur, tapi seluruh ekosistem. Sistem saraf dan jaringan ikut berubah.
Ilustrasi menahan kentut. (Pixabay)\r\n
Harianjogja.com, JOGJA— Kebiasaan menahan kentut atau dalam istilah medis disebut Flatulensi dapat berdampak pada kesehatan jika dilakukan terlalu sering. Gas yang seharusnya dikeluarkan justru menumpuk di saluran pencernaan dan memicu berbagai keluhan.
Bagi banyak orang, menahan kentut dilakukan demi menjaga kenyamanan di tempat umum. Namun, kebiasaan ini justru bisa membuat tubuh bekerja lebih keras karena gas tidak keluar secara alami.
Dilansir dari Halo Doc, gas dalam tubuh terbentuk dari udara yang tertelan, proses pencernaan makanan, serta aktivitas bakteri di usus. Ketika gas tersebut tertahan, tekanan dalam perut meningkat dan memicu rasa tidak nyaman.
Dampak Menahan Kentut bagi Tubuh
Perut kembung
Penumpukan gas membuat perut terasa penuh dan tegang, seperti ada tekanan dari dalam.
Nyeri atau kram perut
Gas yang tidak keluar dapat menyebabkan rasa sakit, terutama di bagian tengah hingga bawah perut.
Gangguan pencernaan
Proses kerja sistem pencernaan menjadi tidak optimal karena aliran gas terhambat.
Tekanan pada usus meningkat
Gas yang tertahan memberi tekanan tambahan pada dinding usus sehingga memperlambat kinerjanya.
Memicu sembelit
Tekanan gas dapat menghambat pergerakan feses sehingga buang air besar menjadi tidak lancar.
Rasa tidak nyaman di dada
Dalam kondisi tertentu, gas bisa naik ke atas dan menimbulkan sensasi seperti dada tertekan.
Nafsu makan menurun
Perut yang terasa penuh membuat seseorang cepat kenyang meski belum makan cukup.
Bau napas tidak sedap
Dalam kasus tertentu, gas yang tertahan bisa terserap kembali ke aliran darah dan keluar melalui napas.
Dampak bagi Aktivitas Sehari-hari
Keluhan seperti kembung dan nyeri perut dapat mengganggu fokus, terutama saat bekerja atau beraktivitas di luar rumah. Jika terjadi terus-menerus, kondisi ini bisa menurunkan kualitas hidup.
Menahan kentut sesekali memang tidak berbahaya. Namun, jika menjadi kebiasaan, efeknya bisa terasa dalam jangka panjang pada sistem pencernaan.
Karena itu, penting bagi setiap orang untuk memahami sinyal tubuh dan tidak menahan gas terlalu lama, tentu dengan tetap memperhatikan situasi dan etika di lingkungan sekitar.
Dengan membiarkan proses alami tubuh berjalan normal, kesehatan pencernaan dapat tetap terjaga dan aktivitas sehari-hari pun menjadi lebih nyaman.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Penelitian ungkap penuaan ovarium bukan hanya soal sel telur, tapi seluruh ekosistem. Sistem saraf dan jaringan ikut berubah.
DPRD Gunungkidul mulai membahas tiga Raperda inisiatif pada Juli 2026. Total 12 Raperda ditargetkan selesai dibahas dan ditetapkan hingga akhir tahun.
DPRD Kulonprogo mendorong Pemkab mengoptimalkan PAD melalui digitalisasi retribusi, pemanfaatan aset daerah, hingga pengembangan potensi ekonomi di sekitar.
PT Astra Honda Motor (AHM) kembali menghangatkan dunia modifikasi Indonesia melalui gelaran modifikasi sepeda motor terbesar yakni Honda Modif Contest (HMC)
Cek jadwal KRL Jogja–Solo dari Tugu ke Palur. Simak jam keberangkatan lengkap dan imbauan penumpang.
Jadwal lengkap KRL Solo–Jogja dari Palur hingga Tugu. Simak jam keberangkatan terbaru dan imbauan KAI.