B50 Dinilai Mampu Kurangi Ketergantungan pada Solar Fosil
METI menilai program biodiesel B50 memperkuat ketahanan energi Indonesia, menghemat devisa, dan mendukung kemandirian energi nasional.
Ilustrasi gerd - Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA—Pola hidup sehat menjadi faktor penting dalam menekan risiko keparahan Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) pada anak muda, seiring meningkatnya kasus gangguan pencernaan yang dipicu kebiasaan tidak sehat di usia produktif.
Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Prof. Dr. dr. Rino Alvani Gani Sp.PD K-GEH menjelaskan, penerapan healthy lifestyle atau gaya hidup sehat berperan besar dalam mengurangi tingkat keparahan GERD, terutama pada kelompok usia muda yang rentan terpapar pola hidup tidak teratur.
“Cara menguranginya adalah healthy-life style, tidak merokok, berolahraga, makan teratur, tidak gemuk, kelola stress dengan baik,” kata Prof. Rino, Senin (26/1/2026).
GERD atau Gastroesophageal Reflux Disease merupakan gangguan pencernaan kronis yang terjadi ketika asam lambung naik kembali ke kerongkongan (esofagus) secara berulang, sehingga memicu rasa tidak nyaman hingga peradangan.
Menurut Rino, banyak anak muda saat ini belum menerapkan gaya hidup sehat secara konsisten, sehingga berisiko mengalami gangguan kesehatan di usia dini, termasuk GERD. Kondisi tersebut diperparah oleh minimnya aktivitas fisik, kebiasaan merokok, serta pola makan yang tidak teratur atau cenderung tidak sehat.
Ia menilai kelebihan berat badan pada anak muda kerap dipicu oleh kurangnya olahraga dan konsumsi makanan tidak seimbang, yang kemudian meningkatkan risiko gangguan pencernaan. Padahal, penerapan gaya hidup sehat dapat menekan risiko keparahan GERD dan mencegah terjadinya peradangan pada saluran cerna bagian atas.
Jika tidak dikendalikan, GERD berpotensi menimbulkan keluhan lanjutan, mulai dari rasa panas atau nyeri di dada, gangguan menelan akibat sensasi seperti ada gumpalan di tenggorokan, hingga gangguan pernapasan.
“GERD bisa menimbulkan rasa sakit atau panas di dada, dapat menimbulkan peradangan saluran cerna atas, dapat menyebabkan sulit menelan karena seperti ada gumpalan di tenggorokan, dapat memicu asma atau batuk-batuk lama, dapat timbul rasa pusing,” katanya.
Rino menegaskan, meski dapat memicu berbagai keluhan kesehatan, GERD bukanlah penyebab utama kematian langsung atau kematian mendadak. Namun, pengelolaan stres yang buruk menjadi faktor risiko yang dapat memperparah kondisi GERD, bahkan memicu stres berlebihan yang berdampak pada keluhan jantung berdebar.
Dalam kasus tertentu, GERD juga berisiko menimbulkan komplikasi serius, seperti peradangan kerongkongan hingga kanker esofagus. Selain itu, terdapat risiko pneumonia aspirasi ketika asam lambung masuk ke paru-paru, sehingga pengendalian GERD melalui gaya hidup sehat menjadi langkah pencegahan yang penting dan berkelanjutan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
METI menilai program biodiesel B50 memperkuat ketahanan energi Indonesia, menghemat devisa, dan mendukung kemandirian energi nasional.
Bansos PKH dan BPNT Triwulan III mulai disalurkan 20 Juli 2026 setelah pemutakhiran data penerima selesai dilakukan Kemensos.
Pameran Art in Focus di Sleman menampilkan sekitar 120 karya dari 70 seniman lintas negara melalui medium kartu pos hingga 31 Agustus 2026.
Sebanyak 28.478 siswa baru Sekolah Rakyat mendapat pembekalan literasi digital dan etika bermedia sosial selama MPLS 2026.
Bulog menggandeng Perpadi mengolah 2 juta ton Cadangan Beras Pemerintah menjadi beras premium bermerek Beraskita yang segera diluncurkan.
Status siaga darurat kekeringan ditetapkan di Bantul dan Gunungkidul. Pakar UMY menjelaskan penyebab hingga langkah mitigasinya.