Trump Minta China dan Taiwan Redakan Ketegangan, Ini Alasannya
Trump minta China dan Taiwan menahan diri di tengah ketegangan. AS belum pastikan kirim senjata ke Taipei dan soroti chip Taiwan.
Ftoo ilustrasi makanan diet. - ist/Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA—Pola diet makan sehari sekali atau One Meal A Day (OMAD) semakin populer sebagai strategi penurunan berat badan, namun pendekatan puasa intermiten ekstrem ini dinilai berpotensi memicu gangguan kesehatan apabila diterapkan tanpa perhitungan yang tepat.
Puasa intermiten sendiri merupakan metode pengaturan waktu makan dengan membatasi asupan kalori harian melalui periode makan tertentu dan berpuasa di sisa waktu. Dalam praktiknya, OMAD menjadi salah satu bentuk paling ketat karena hanya memperbolehkan konsumsi makanan satu kali dalam sehari, sehingga memicu kekhawatiran para ahli gizi.
Dikutip dari siaran Hindustan Times, Jumat (23/1/2026), ahli gizi Dasha mengamati adanya peningkatan kasus gangguan kantung empedu pada individu yang menjalani puasa intermiten ekstrem seperti OMAD. Kondisi ini berkaitan erat dengan fungsi kantung empedu dalam sistem pencernaan tubuh.
Ia menjelaskan bahwa kantung empedu memiliki peran vital dalam memecah lemak yang dikonsumsi tubuh.
"Empedu dilepaskan oleh kantung empedu untuk membantu Anda mencerna lemak sepanjang hari, apapun yang Anda makan," katanya.
Menurut Dasha, frekuensi makan yang terlalu jarang dapat mengganggu mekanisme alami tersebut.
"Sekresi empedu dirangsang ketika Anda makan, jadi jika Anda hanya makan sekali sehari, empedu itu hanya akan diam di kantung empedu, dan membentuk apa yang disebut endapan empedu, yang meningkatkan kemungkinan atau risiko terkena batu empedu," ia menjelaskan.
Berdasarkan temuan tersebut, Dasha menyarankan masyarakat memilih pola diet yang lebih seimbang, realistis, dan berkelanjutan dibandingkan OMAD. Salah satu alternatif yang dinilai lebih aman adalah puasa semalaman selama sekitar 12 jam.
Pola ini dapat diterapkan dengan membiasakan makan malam sebelum pukul 19.00 dan kembali makan pada pukul 07.00 keesokan harinya. Menurutnya, pendekatan tersebut masih memberi ruang bagi tubuh untuk beristirahat tanpa mengorbankan fungsi metabolisme.
Dasha juga menekankan pentingnya mengonsumsi makanan sekitar satu jam setelah bangun tidur guna menjaga tingkat energi dan kestabilan metabolisme. Selain itu, pengaturan jarak waktu makan setiap tiga hingga empat jam dinilai membantu mencegah makan berlebihan sekaligus mendukung pengendalian kadar gula darah.
Ia menambahkan, kebiasaan berhenti makan setidaknya tiga jam sebelum tidur memberi tubuh waktu yang cukup untuk mencerna makanan dengan optimal. Proses pencernaan yang selesai sebelum waktu istirahat disebut berkontribusi pada kualitas tidur yang lebih baik dan pemulihan tubuh yang lebih maksimal.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Trump minta China dan Taiwan menahan diri di tengah ketegangan. AS belum pastikan kirim senjata ke Taipei dan soroti chip Taiwan.
Ratusan warga Parangjoro Sukoharjo menggelar doa bersama terkait polemik izin warung kuliner nonhalal di Dusun Sudimoro.
Veda Ega Pratama gagal lolos Q2 Moto3 Catalunya 2026 dan akan memulai balapan dari posisi ke-21 di Barcelona.
Akses parkir bus Abu Bakar Ali II Jogja diatur satu arah. Bus wisata wajib memutar lewat Stadion Kridosono menuju Malioboro.
Presiden Prabowo menyebut sejumlah negara kini meminta membeli beras dari Indonesia di tengah ancaman krisis pangan global.
Pendaki asal Riau patah tulang saat mendaki Gunung Rinjani. Tim TNGR dan EMHC lakukan evakuasi di jalur Pelawangan Sembalun.