Kebiasaan Menahan BAB Bisa Picu Wasir hingga Sembelit Kronis

Jumali
Jumali Senin, 13 Juli 2026 09:17 WIB
Kebiasaan Menahan BAB Bisa Picu Wasir hingga Sembelit Kronis

Ilustrasi. /Freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Menahan keinginan buang air besar sesekali mungkin tidak menimbulkan masalah serius. Namun, ketika kebiasaan tersebut dilakukan terus-menerus, dampaknya dapat mengganggu kesehatan saluran pencernaan dan memicu berbagai keluhan yang tidak nyaman.

Dokter spesialis gastroenterologi, Dr. Supriya Rao, menjelaskan bahwa feses yang tidak segera dikeluarkan akan berada lebih lama di dalam usus besar. Kondisi ini membuat tubuh terus menyerap cairan dari feses sehingga teksturnya menjadi lebih keras dan kering.

"Kalau sesekali mengabaikan keinginan BAB biasanya tidak masalah. Tetapi jika menjadi kebiasaan, feses akan berada lebih lama di dalam usus besar," ujar Rao, seperti dikutip dari EatingWell.

Dalam kondisi normal, feses bergerak menuju rektum ketika tubuh siap mengeluarkannya. Dorongan untuk BAB muncul sebagai sinyal bahwa proses pencernaan telah mencapai tahap akhir.

Namun ketika sinyal tersebut diabaikan, usus besar tetap bekerja menyerap air yang terkandung dalam feses. Akibatnya, feses menjadi semakin padat sehingga lebih sulit dikeluarkan saat seseorang akhirnya pergi ke toilet.

Dokter gastroenterologi Dr. Carmen Fong menjelaskan bahwa usus besar memiliki kemampuan sangat baik dalam menyerap cairan. Karena itu, semakin lama feses tertahan di dalam tubuh, semakin besar kemungkinan teksturnya menjadi keras.

Akibatnya, proses BAB berikutnya dapat terasa lebih menyakitkan dan membutuhkan tenaga lebih besar saat mengejan.

"Menahannya terlalu sering menyebabkan siklus sembelit, tubuh mulai mengabaikan sinyal buang air besar sama sekali, yang menyebabkan penumpukan tinja di usus besar," kata Fong.

Kondisi tersebut dapat berkembang menjadi impaksi feses, yakni penumpukan feses keras yang menyumbat rektum sehingga sulit dikeluarkan secara alami.

Selain memicu sembelit, kebiasaan menahan BAB juga dapat memengaruhi fungsi rektum. Rektum merupakan bagian akhir usus besar yang berperan sebagai tempat penyimpanan sementara feses sebelum dikeluarkan.

Jika terlalu sering menahan dorongan BAB, rektum dapat mengalami peregangan. Lama-kelamaan sensitivitas saraf pada area tersebut dapat berkurang sehingga tubuh menjadi kurang peka terhadap sinyal untuk buang air besar.

Dokter Rao menyebutkan bahwa dalam beberapa kasus, kondisi tersebut bahkan berpotensi memicu gangguan pada jaringan rektum.

Proses BAB sendiri melibatkan mekanisme refleks alami yang dikenal sebagai rectoanal inhibitory reflex (RAIR). Mekanisme ini membantu otot sfingter anus mengendur sehingga feses dapat bergerak menuju rektum sebelum dikeluarkan.

Ketika dorongan BAB terus-menerus diabaikan, efektivitas refleks tersebut dapat menurun. Dampaknya, seseorang menjadi lebih rentan mengalami konstipasi kronis dan gangguan fungsi usus dalam jangka panjang.

Bahaya lain yang perlu diwaspadai adalah meningkatnya risiko wasir atau hemoroid. Feses yang keras biasanya membuat seseorang harus mengejan lebih kuat saat BAB.

Tekanan berlebih saat mengejan dapat menyebabkan pembuluh darah di sekitar anus membengkak sehingga memicu munculnya wasir.

"Feses yang keras biasanya membuat seseorang harus mengejan lebih kuat, dan itulah salah satu faktor risiko wasir," jelas Rao.

Pada kondisi tertentu, penumpukan feses keras juga dapat memicu inkontinensia feses atau keluarnya tinja secara tidak terkendali.

Menurut Fong, ketika rektum tersumbat oleh feses keras, cairan dari feses yang lebih baru dapat merembes keluar melewati sumbatan tersebut.

"Ketika ada gumpalan feses keras yang menyumbat rektum, feses cair yang baru datang dari atas tidak memiliki jalan keluar sehingga merembes melewati sumbatan," ujarnya.

Untuk menjaga kesehatan sistem pencernaan, para ahli menyarankan agar tidak menunda keinginan BAB ketika sinyal tersebut muncul. Segera pergi ke toilet saat tubuh memberikan tanda bahwa usus siap mengeluarkan feses.

Selain itu, hindari kebiasaan duduk terlalu lama di toilet sambil menunggu BAB terjadi.

"Batasi waktu duduk di toilet sekitar 2–5 menit. Jika dalam lima menit belum terjadi BAB, berarti tubuh memang belum siap," kata Fong.

Pola makan juga berperan penting dalam menjaga kelancaran BAB. Konsumsi makanan kaya serat seperti buah, sayuran, kacang-kacangan, dan biji-bijian dapat membantu membentuk feses yang lebih lunak dan mudah dikeluarkan.

Asupan cairan yang cukup juga wajib diperhatikan karena membantu menjaga kelembapan feses selama berada di dalam usus.

"Usus besar terus menyerap air dari feses. Jika tubuh terhidrasi dengan baik, feses tetap lunak dan mudah dikeluarkan," jelas Fong.

Aktivitas fisik secara rutin juga terbukti membantu merangsang pergerakan usus sehingga proses pencernaan berjalan lebih lancar.

Sementara itu, perubahan pola BAB yang berlangsung lama tidak boleh diabaikan. Jika mengalami sembelit lebih dari tiga minggu, nyeri perut berat, mual, darah pada feses, penurunan berat badan tanpa sebab jelas, atau perubahan mendadak pada kebiasaan BAB, segera periksakan diri ke dokter.

"Jika mengalami konstipasi selama tiga minggu atau lebih, nyeri perut hebat, mual, darah pada feses, penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, atau perubahan mendadak pada pola BAB, segera konsultasikan dengan dokter," kata Rao.

Menjaga kebiasaan BAB yang sehat merupakan bagian penting dari kesehatan pencernaan. Dengan tidak menunda keinginan buang air besar, memenuhi kebutuhan serat dan cairan, serta aktif bergerak, risiko berbagai gangguan pencernaan dapat diminimalkan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online