Harga Mentimun Naik Dua Kali Lipat, Petani Wonogiri Untung Besar
Harga mentimun di Wonogiri melonjak hingga Rp8.000 per kg. Petani berpeluang meraih omzet Rp24 juta dalam satu musim tanam.
Ilustrasi mencuci tangan. /REUTERS-Mariana Bazo
Harianjogja.com, JOGJA -- Setiap orang terpapar jutaan kuman dan bakteri setiap hari. Banyak orang-orang menggunakan produk antibakteri untuk mengurangi risiko sakit atau menularkan kuman dan bakteri ke orang lain, terutama saat ini ketika Pandemi tengah merajalela. Akan tetapi, apakah sabun antibakteri benar-benar lebih efektif dalam membunuh bakteri jahat daripada sabun biasa?
Sabun antibakteri adalah produk pembersih dengan bahan antimikroba aktif yang ditambahkan. Saat ini, lebih dari 75% sabun cair yang tersedia di lorong toko-toko mengandung beberapa jenis bahan antibakteri. Meskipun triclosan adalah yang paling umum, beberapa produk antibakteri mengandung alkohol, benzalkonium klorida dan agen antibakteri lainnya.
Badan Pengawas Obat dan Makanan di Amerika Serikat, Food and Drug Administration (FDA) mengatakan tidak ada bukti bahwa produk sabun antimikroba membuat orang lebih sehat daripada sabun biasa.
Badan tersebut sekarang mewajibkan produsen produk antibakteri untuk membuktikan bahan kimia aman untuk penggunaan sehari-hari jangka panjang, dan membuktikan juga bahwa produk-produk kimia ini mampu menjaga orang tetap baik daripada mencuci tangan dengan sabun dan air biasa.
Di sisi lain, terlalu sering menggunakan produk antibakteri juga dapat mengurangi jumlah bakteri sehat pada kulit seseorang. Hal ini membuat antibiotik kurang efektif dalam memerangi strain bakteri baru, yang disebut superbug.
Sementara, jika mengutamakan menggunakan sabun antibakteri atau pembersih tangan dapat menyebabkan orang berpikir mereka tidak perlu mencuci tangan secara menyeluruh atau sering. Pembersih tangan yang memiliki kadar alkohol setidaknya 60 persen memang alternatif yang efektif, namun ketika seseorang tidak memiliki akses untuk mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir.
Sedangkan sabun biasa dirancang untuk mengurangi tegangan permukaan air dan mengangkat kotoran dan minyak dari permukaan sehingga dapat dengan mudah dibilas. Meskipun sabun biasa tidak mengandung bahan kimia antibakteri tambahan, sabun ini efektif untuk menghilangkan bakteri dan kuman lainnya.
Menurut Badan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit, Centers for Disease Control and Prevention (CDC), sabun antibakteri tidak lebih efektif daripada sabun dan air biasa untuk membunuh kuman penyebab penyakit. Harganya pun lebih murah dan tidak akan membunuh bakteri sehat di permukaan kulit.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Harga mentimun di Wonogiri melonjak hingga Rp8.000 per kg. Petani berpeluang meraih omzet Rp24 juta dalam satu musim tanam.
Lionel Messi mempersembahkan kemenangan Argentina atas Inggris di semifinal Piala Dunia 2026 untuk Diego Maradona. La Albiceleste kini menantang Spanyol di fina
Kekeringan meluas ke 15 desa di Cilacap. BPBD telah menyalurkan 390 ribu liter air bersih untuk 14.267 warga dan bersiap menghadapi puncak kemarau pada Agustus-
Film horor klasik A Nightmare on Elm Street akan direboot! Paramount libatkan keluarga Wes Craven sebagai produser. Naskah asli jadi dasar cerita. Simak selengk
Presiden Argentina Javier Milei pilih nonton final Piala Dunia 2026 dari rumah demi ritual keberuntungan. Donald Trump hadir dan akan serahkan trofi. Simak sele
Data JBA Indonesia: 5 motor bekas terlaris 2026 didominasi Honda BeAT, Scoopy, Vario, dan Yamaha NMAX. Cek spesifikasi & harga pasaran terbaru di sini.