Tingkat Stres Kerja di Indonesia Terendah Kedua se-ASEAN, Ini Datanya

Jumali
Jumali Jum'at, 17 Juli 2026 12:57 WIB
Tingkat Stres Kerja di Indonesia Terendah Kedua se-ASEAN, Ini Datanya

Tenaga Kerja. - Freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Tingkat stres kerja harian yang dialami pekerja Indonesia tercatat menjadi salah satu yang paling rendah di kawasan Asia Tenggara. Temuan tersebut terungkap dalam laporan Gallup's State of the Global Workplace 2026 yang mengukur pengalaman pekerja terhadap berbagai aspek kesejahteraan di tempat kerja.

Berdasarkan laporan tersebut, sebanyak 14% pekerja di Indonesia mengaku mengalami stres setiap hari dalam aktivitas kerja mereka. Angka itu menempatkan Indonesia di posisi kedelapan dari sembilan negara Asia Tenggara yang masuk dalam survei, sekaligus menjadikannya negara dengan tingkat stres kerja harian terendah kedua di kawasan.

Posisi Indonesia hanya berada satu tingkat di atas Vietnam yang mencatat angka 13% dan menjadi negara dengan tingkat stres kerja harian paling rendah di Asia Tenggara.

Temuan ini menarik perhatian karena muncul di tengah meningkatnya tuntutan produktivitas, perkembangan teknologi digital, serta tantangan ekonomi yang turut memengaruhi dunia kerja dalam beberapa tahun terakhir.

Laporan Gallup mengukur persentase pekerja yang melaporkan mengalami stres dalam kehidupan sehari-hari. Hasilnya menunjukkan adanya perbedaan yang cukup signifikan antarnegara di kawasan Asia Tenggara.

Filipina menjadi negara dengan tingkat stres kerja harian tertinggi. Sebanyak 50% pekerja di negara tersebut mengaku mengalami stres setiap hari. Angka itu jauh melampaui negara-negara lain di kawasan.

Singapura berada di posisi kedua dengan tingkat stres harian mencapai 43%, diikuti Kamboja sebesar 34%. Myanmar dan Laos melengkapi lima besar dengan masing-masing mencatat angka 30% dan 26%.

Sementara itu, Thailand menempati posisi keenam dengan persentase 25%, disusul Malaysia sebesar 20%. Indonesia berada di bawah kedua negara tersebut dengan angka 14%, sedangkan Vietnam mencatat 13%.

Perbedaan tingkat stres yang cukup lebar antarnegara menunjukkan bahwa pengalaman pekerja dalam menghadapi tekanan pekerjaan tidak selalu sama. Faktor lingkungan kerja, kondisi ekonomi, budaya organisasi, keseimbangan kehidupan dan pekerjaan, hingga dukungan sosial dapat memengaruhi bagaimana seseorang merasakan tekanan dalam aktivitas sehari-hari.

Meski mencatat angka yang relatif rendah dibandingkan negara lain di Asia Tenggara, hasil survei tersebut tidak berarti persoalan kesehatan mental pekerja di Indonesia dapat diabaikan.

Dengan persentase 14%, artinya masih terdapat lebih dari satu dari sepuluh pekerja yang merasakan stres setiap hari saat bekerja. Kondisi tersebut tetap perlu menjadi perhatian karena stres yang berlangsung dalam jangka panjang dapat berdampak pada kesehatan fisik, kesejahteraan psikologis, hingga produktivitas kerja.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa stres kerja yang tidak ditangani dengan baik berpotensi meningkatkan risiko kelelahan kerja atau burnout, menurunkan konsentrasi, serta memengaruhi kualitas hubungan sosial maupun kehidupan pribadi pekerja.

Karena itu, hasil survei Gallup dapat menjadi bahan evaluasi bagi perusahaan maupun pemerintah dalam memperkuat kebijakan yang mendukung kesehatan mental tenaga kerja. Penyediaan lingkungan kerja yang sehat, sistem kerja yang lebih fleksibel, serta akses terhadap layanan kesehatan mental menjadi beberapa langkah yang dinilai penting untuk menjaga kesejahteraan pekerja.

Temuan ini juga menunjukkan bahwa keberhasilan pembangunan sektor ketenagakerjaan tidak hanya diukur dari jumlah lapangan kerja yang tersedia, tetapi juga dari kualitas lingkungan kerja yang mampu mendukung kesehatan dan kesejahteraan pekerja secara menyeluruh.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online