Dolar AS Melemah, Rupiah Berhasil Tahan di Bawah Rp18.000
Rupiah menguat 6 poin ke Rp17.980 per dolar AS pada Jumat pagi, didorong aliran dana asing dan stabilitas ekonomi domestik.
Ilustrasi/Magnific
Harianjogja.com, JOGJA—Anggapan bahwa perempuan lebih piawai melakukan banyak pekerjaan dalam waktu bersamaan telah lama menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Tidak sedikit orang yang percaya perempuan mampu memasak, mengurus anak, menjawab telepon, sekaligus menyelesaikan pekerjaan lain tanpa kehilangan fokus.
Namun, selama bertahun-tahun para ilmuwan justru kesulitan menemukan bukti kuat yang menunjukkan bahwa perempuan secara konsisten memiliki kemampuan multitasking lebih baik dibandingkan laki-laki.
Sejumlah penelitian laboratorium sebelumnya menunjukkan hasil yang relatif seimbang antara kedua jenis kelamin. Temuan tersebut membuat para peneliti bertanya-tanya mengapa stereotip perempuan sebagai multitasker ulung tetap begitu kuat di masyarakat.
Jawaban atas teka-teki itu kini mulai terungkap melalui penelitian yang dilakukan André Szameitat dari Brunel University of London bersama Diana Szameitat dari City St George’s, University of London.
Penelitian yang didukung Bial Foundation di Portugal tersebut mencoba menghadirkan situasi yang lebih dekat dengan kondisi nyata kehidupan sehari-hari dibandingkan eksperimen laboratorium konvensional.
Para peserta diminta menyelesaikan beberapa tugas secara bersamaan dalam lingkungan yang dirancang menyerupai kondisi rumah tangga yang sibuk.
Mereka harus melakukan simulasi memasak menggunakan resep cetak dan bahan makanan mainan. Di tengah aktivitas tersebut, alarm dapur terus berbunyi dan memaksa peserta berpindah ke meja lain untuk mengerjakan tugas tambahan seperti mencari nomor telepon tertentu, menyelesaikan teka-teki huruf dan angka, serta kembali lagi ke aktivitas memasak.
Kesibukan itu belum berhenti. Sebuah layar terus menampilkan kata-kata acak yang mengharuskan peserta mencatat kata dengan latar belakang merah. Pada saat bersamaan, rekaman suara juga melontarkan pertanyaan setiap 20 detik yang harus dijawab peserta.
Selama sepuluh menit, tingkat kesulitan terus meningkat. Alarm yang semula berbunyi setiap 90 detik dipercepat hingga hanya berjarak sekitar 30 detik, menciptakan suasana yang semakin menekan dan menuntut kemampuan mengatur perhatian.
Hasil penelitian menunjukkan sesuatu yang menarik.
Pada empat dari lima tugas yang diuji, tidak ditemukan perbedaan berarti antara laki-laki dan perempuan. Kemampuan memasak, mencari nomor telepon, menyelesaikan teka-teki, hingga memantau kata-kata di layar menunjukkan hasil yang relatif sama.
Perbedaan signifikan hanya muncul pada satu aspek, yaitu kemampuan mempertahankan percakapan saat mengerjakan banyak tugas sekaligus.
Dalam kondisi tekanan tinggi, laki-laki tercatat dua kali lebih sering mengabaikan pertanyaan suara dibandingkan perempuan. Data penelitian menunjukkan perempuan hanya melewatkan sekitar 12 persen pertanyaan, sedangkan laki-laki mengabaikan hampir 28 persen pertanyaan yang diajukan.
Meski demikian, ketika laki-laki memutuskan untuk menjawab, kualitas respons mereka sama baiknya dengan perempuan. Jawaban yang diberikan sama cepat dan sama lengkap.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa laki-laki sebenarnya tidak mengalami kesulitan berbicara saat multitasking. Mereka hanya lebih cenderung menghentikan aktivitas percakapan ketika perhatian mereka tersita oleh tugas lain yang dianggap lebih penting.
Untuk memahami bagaimana perilaku ini dipersepsikan masyarakat, tim peneliti melakukan tahap kedua penelitian.
Mereka menampilkan rekaman video para peserta kepada 160 pengamat yang tidak mengetahui tujuan riset tersebut. Para pengamat kemudian diminta menilai siapa yang terlihat paling mampu mengelola banyak tugas sekaligus.
Hasilnya cukup konsisten. Perempuan dinilai lebih sigap, lebih mampu mengendalikan situasi, dan tampak lebih tenang dibandingkan laki-laki.
Sebaliknya, laki-laki lebih sering dianggap terlihat stres ketika tekanan meningkat.
Yang menarik, penilaian para pengamat ternyata sangat dipengaruhi oleh kemampuan peserta menjawab pertanyaan lisan. Peserta yang lebih sering diam langsung dianggap kurang mampu melakukan multitasking, meskipun performa mereka pada tugas lain sebenarnya sama baiknya.
Fenomena ini berkaitan dengan konsep psikologi yang dikenal sebagai horn effect, yaitu kecenderungan seseorang membentuk penilaian negatif secara menyeluruh hanya berdasarkan satu aspek yang dianggap kurang baik.
Menurut André Szameitat, temuan tersebut membantu menjelaskan mengapa stereotip bahwa perempuan lebih unggul dalam multitasking terus berkembang di masyarakat.
“Data kami menunjukkan tidak ada perbedaan substansial antara laki-laki dan perempuan dalam tugas visual maupun manual. Namun memang terdapat perbedaan signifikan dalam kemampuan mempertahankan percakapan ketika melakukan banyak tugas sekaligus,” ujarnya.
Dengan kata lain, penelitian ini tidak menemukan bukti bahwa perempuan memiliki kapasitas multitasking yang jauh lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Yang membedakan adalah kecenderungan perempuan untuk tetap menjaga komunikasi meskipun sedang menghadapi banyak pekerjaan dalam waktu bersamaan.
Kebiasaan inilah yang kemudian terlihat jelas dalam kehidupan sehari-hari dan membuat masyarakat menganggap perempuan lebih mahir mengerjakan banyak hal sekaligus.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Rupiah menguat 6 poin ke Rp17.980 per dolar AS pada Jumat pagi, didorong aliran dana asing dan stabilitas ekonomi domestik.
Pemerintah melalui Kementerian Pertanian mengancam sanksi hingga pidana bagi pelaku usaha yang merugikan peternak ayam dan telur. Pengawasan distribusi diperket
Wasit Slovenia Slavko Vincic ditunjuk FIFA pimpin final Piala Dunia 2026 Spanyol vs Argentina. Laga di New Jersey, Senin dini hari. Simak profilnya di sini.
Timnas Voli U-18 Indonesia vs Bahrain di klasifikasi AVC Championship 2026. Pelatih Odyk Hermanto: kunci kemenangan ada di kepercayaan diri! Saksikan Jumat sore
Ko Hee-jin, mantan pelatih Megawati Hangestri di Red Sparks, terseret kasus pembiaran pelecehan seksual. Manajemen klub nonaktifkan sang pelatih. Simak kronolog
7 Hotel Siap Sajikan Sensasi Street Food Jepang Lewat 60 Seconds to Tokyo