Masih Percaya Seks Saat Haid Aman? Ini Fakta Medisnya

Jumali
Jumali Minggu, 12 Juli 2026 16:27 WIB
Masih Percaya Seks Saat Haid Aman? Ini Fakta Medisnya

Ilustrasi. /Freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Keyakinan bahwa berhubungan seks saat menstruasi pasti aman dari kehamilan masih tertanam kuat di banyak pasangan suami istri. Padahal, secara medis, anggapan tersebut tidak bisa dijadikan patokan mutlak.

Meskipun peluang hamil saat menstruasi lebih rendah dibandingkan saat masa subur, kemungkinannya tidak benar-benar nol. Ada sejumlah kondisi yang membuat pembuahan tetap dapat terjadi, terutama pada perempuan dengan siklus menstruasi yang lebih pendek dari rata-rata.

Dilansir dari Alodokter, kehamilan terjadi ketika sperma berhasil membuahi sel telur yang dilepaskan saat ovulasi. Waktu ovulasi setiap perempuan dapat berbeda-beda, tergantung pada panjang siklus menstruasinya. Pada umumnya, siklus menstruasi berlangsung sekitar 28 hingga 35 hari.

Dalam siklus 28 hari, ovulasi biasanya terjadi sekitar hari ke-14 yang dihitung sejak hari pertama menstruasi. Karena itu, hubungan seksual yang dilakukan pada awal menstruasi umumnya masih berada cukup jauh dari masa ovulasi sehingga peluang pembuahan relatif kecil. Namun, kondisi ini tidak berlaku untuk semua perempuan.

Perempuan dengan siklus menstruasi yang lebih pendek, misalnya sekitar 22 hari atau kurang, dapat mengalami ovulasi lebih cepat. Ovulasi bahkan bisa terjadi sekitar hari ketujuh siklus. Jika menstruasi berlangsung hingga enam atau tujuh hari, ovulasi dapat terjadi tidak lama setelah perdarahan berhenti.

Dalam kondisi seperti ini, sperma yang masuk ke saluran reproduksi saat akhir menstruasi masih berpotensi bertahan hidup hingga lima atau enam hari. Artinya, ketika ovulasi terjadi beberapa hari kemudian, sperma masih dapat membuahi sel telur. Dengan kata lain, kehamilan tetap mungkin terjadi meskipun hubungan intim dilakukan saat darah haid masih keluar.

Selain itu, penting untuk dipahami bahwa darah menstruasi sama sekali bukan pelindung dari penularan penyakit seksual. Banyak pasangan yang merasa aman karena sedang haid, padahal risiko infeksi menular seksual justru tetap ada dan bahkan bisa meningkat karena darah menjadi media yang baik bagi pertumbuhan bakteri. Penggunaan kondom tidak hanya penting untuk mencegah kehamilan yang tidak direncanakan, tetapi juga untuk melindungi kedua pasangan dari berbagai infeksi menular seksual yang berbahaya.

Karena masih ada peluang terjadinya kehamilan meski kecil, para ahli tidak menyarankan menjadikan waktu menstruasi sebagai metode kontrasepsi alami. Metode ini dianggap tidak reliabel dan berisiko mengecewakan bagi pasangan yang benar-benar ingin menunda kehamilan.

Jika pasangan belum merencanakan kehamilan, penggunaan alat kontrasepsi yang tepat tetap menjadi pilihan paling efektif. Mulai dari pil KB, kondom, spiral, hingga implan, semua memiliki tingkat efektivitas yang jauh lebih tinggi daripada mengandalkan hitungan masa haid.

Bagi perempuan yang memiliki siklus menstruasi tidak teratur, menentukan masa subur dengan metode kalender menjadi semakin sulit. Ketidakpastian ini membuat risiko kehamilan di luar rencana semakin tinggi jika hanya mengandalkan perkiraan kasar. Konsultasi dengan dokter spesialis obstetri dan ginekologi sangat dianjurkan untuk mengetahui masa subur dengan lebih akurat. Dokter dapat membantu menentukan metode kontrasepsi yang paling sesuai dengan kondisi tubuh dan kebutuhan pasangan.

Dengan pendekatan medis yang tepat, pasangan dapat menikmati hubungan intim yang aman dan nyaman tanpa rasa khawatir akan kehamilan yang tidak direncanakan atau penularan penyakit. Jadi, jangan pernah menjadikan menstruasi sebagai satu-satunya andalan untuk mencegah kehamilan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online