Kenapa Orang Rajin Olahraga Setelah Putus Cinta? Ini Jawabannya

Jumali
Jumali Jum'at, 17 Juli 2026 09:47 WIB
Kenapa Orang Rajin Olahraga Setelah Putus Cinta? Ini Jawabannya

Ilustrasi. /Freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Tren "Life After Breakup" belakangan ramai memenuhi lini masa Threads. Banyak orang membagikan perubahan hidup yang mereka jalani setelah hubungan asmara berakhir, mulai dari rutin pergi ke gym, mengikuti kelas yoga dan pilates, mencoba solo traveling, hingga lebih fokus merawat diri sendiri.

Sekilas, kebiasaan tersebut terlihat seperti cara mengalihkan perhatian dari mantan. Namun menurut pakar pengembangan diri Mel Robbins, proses yang terjadi sebenarnya jauh lebih kompleks daripada sekadar urusan perasaan.

Dalam salah satu episode The Mel Robbins Podcast bersama putrinya, Sawyer Robbins, Mel menjelaskan bahwa putus cinta bukan hanya melukai hati. Perpisahan juga memengaruhi sistem biologis tubuh karena otak telah membentuk keterikatan kuat selama hubungan berlangsung.

Saat seseorang menjalin hubungan dalam waktu lama, otak secara perlahan menciptakan pola kebiasaan yang melibatkan kehadiran pasangan dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari pesan selamat pagi, percakapan rutin, hingga aktivitas bersama menjadi bagian dari sistem yang dianggap normal oleh tubuh.

Ketika hubungan berakhir secara tiba-tiba, otak kehilangan pola yang selama ini dianggap aman dan familiar. Akibatnya, tubuh dapat menunjukkan reaksi yang mirip dengan gejala putus zat adiktif atau withdrawal.

Kondisi tersebut menjelaskan mengapa seseorang terus memikirkan mantan, tergoda menghubungi kembali, atau merasa sangat kehilangan meskipun secara logika memahami bahwa hubungan telah berakhir.

Menurut Mel Robbins, memahami fakta biologis ini sangat penting karena banyak orang justru menyalahkan diri sendiri saat masih merasa sedih beberapa minggu setelah putus cinta.

Padahal, rasa kehilangan yang muncul bukan pertanda kelemahan. Tubuh memang sedang menyesuaikan diri terhadap perubahan neurologis, fisiologis, dan kimiawi yang terjadi setelah sosok penting dalam kehidupan sehari-hari tidak lagi hadir.

Karena itu, salah satu langkah yang paling sering direkomendasikan adalah menerapkan aturan "No Contact" selama 30 hari.

Aturan ini berarti menghentikan seluruh bentuk komunikasi dengan mantan, termasuk menghindari melihat unggahan media sosial, membuka foto lama, atau mencari tahu aktivitas terbaru mereka.

Bagi sebagian orang, langkah tersebut terdengar ekstrem. Namun secara ilmiah, setiap foto, suara, pesan, atau unggahan mantan dapat memicu kembali jalur saraf lama yang sedang berusaha diputus oleh otak.

Semakin sering seseorang terpapar pemicu tersebut, semakin lama pula proses adaptasi yang harus dijalani.

Selain menjaga jarak, para ahli juga menyarankan untuk memberikan waktu kepada diri sendiri.

Mel Robbins mengutip penelitian yang menunjukkan sekitar 71 persen orang mulai merasakan perbaikan kondisi emosional setelah 11 minggu atau hampir tiga bulan pasca putus cinta.

Mengetahui bahwa pemulihan membutuhkan waktu membantu seseorang memiliki ekspektasi yang lebih realistis. Tidak semua orang bisa langsung move on dalam hitungan hari atau minggu.

Fenomena "Life After Breakup" yang viral di media sosial sebenarnya juga memiliki manfaat psikologis apabila dilakukan dengan tujuan yang sehat.

Aktivitas seperti olahraga, mengikuti kelas baru, belajar keterampilan baru, atau bertemu teman membantu otak menciptakan rutinitas serta pengalaman baru yang tidak lagi bergantung pada hubungan masa lalu.

Olahraga, misalnya, dapat meningkatkan produksi endorfin dan sejumlah hormon yang berkaitan dengan perasaan bahagia. Inilah alasan mengapa banyak orang merasa lebih baik setelah rutin berlari, pergi ke gym, atau mengikuti kelas kebugaran.

Hal lain yang kerap diremehkan adalah perubahan lingkungan.

Mel menyarankan langkah sederhana seperti mengganti tata letak kamar, membeli sprei baru, menyimpan barang pemberian mantan, atau mengubah dekorasi ruangan.

Perubahan kecil tersebut membantu otak membangun asosiasi baru sehingga lingkungan yang sebelumnya dipenuhi kenangan perlahan berubah menjadi ruang yang merepresentasikan fase kehidupan berikutnya.

Di sisi lain, Mel mengingatkan pentingnya menghentikan keinginan untuk mengontrol kehidupan mantan.

Banyak orang terjebak dalam kebiasaan memantau media sosial, mencari tahu pasangan baru mantan, atau terus menganalisis alasan hubungan berakhir.

Menurutnya, semakin besar usaha untuk mengendalikan hal yang berada di luar kendali, semakin sulit pula proses melepaskan masa lalu.

Karena itu, ia memperkenalkan prinsip "Let Them" atau "biarkan saja".

Jika mantan sudah melanjutkan hidup, memiliki pasangan baru, atau tidak pernah menghubungi lagi, fokus terbaik adalah mengembalikan perhatian pada diri sendiri, bukan pada pilihan orang lain.

Pada akhirnya, masa setelah putus cinta bukan hanya tentang kehilangan seseorang. Momen tersebut juga bisa menjadi kesempatan untuk mengenali diri sendiri, membangun kebiasaan yang lebih sehat, dan menciptakan kehidupan yang sebelumnya tertunda karena berbagai alasan.

Daripada terus bertanya apakah akan menemukan orang yang lebih baik di masa depan, Mel mengajak setiap orang mengubah perspektif menjadi lebih positif: bagaimana jika perpisahan ini justru menjadi pintu menuju kehidupan yang lebih baik?

Bagi siapa pun yang sedang berada dalam fase patah hati, kabar baiknya adalah rasa sakit itu bersifat sementara. Seiring waktu, pengalaman baru, dan kebiasaan yang lebih sehat, otak akan beradaptasi. Dan ketika proses itu selesai, banyak orang justru menemukan versi diri yang lebih kuat dibanding sebelumnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online