Bukan Mahasiswa UNY, Ini Penjelasan RSUP Dr Sardjito tentang Warga Jepang yang Dirawat di Ruang Isolasi
Seorang WNA asal Jepang dirawat di RSUP Dr Sardjito, dia datang ke RSUP Dr Sardjito pada Selasa (3/3/2020) sekitar pukul 15.00 WIB.
Ilustrasi. /Harian Jogja-Desi Suryanto
Harianjogja.com, SLEMAN - Kesadaran donor bola mata di Indonesia masih rendah lantaran faktor budaya. Mendonorkan organ mata ataupun tubuh masih dianggap tabu termasuk di negara Malaysia.
Hingga kini calon pendonor mata untuk wilayah DIY sudah mencapai sekitar 2.000 orang. Upaya untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat yang sudah meninggal dunia agar mendonorkan matanya, salah satunya dengan advokasi.
"Saya pernah mengusulkan jenazah milik Pemerintah seperti di negara Filipina," kata Professor Suhardjo selaku ketua Bank Mata Jogja disela-sela peringatan Hari Pengelihatan Sedunia di RSUP Sardjito, Rabu (9/10/2019).
Lebih lanjut ia menjelaskan, jika jenazah sudah menjadi milik pemerintah maka sah untuk mengambil organ. Berbeda di Indonesia yang masih harus menunggu persetujuan dari pihak keluarga agar bisa mendapat organ.
Langkah lain yang bisa diterapkan yaitu memakai konselor seperti di India. Konselor bertugas mengedukasi serta memotivasi pihak keluarga apabila ada keluarganya yang misal menjadi korban kecelakaan yang telah meninggal untuk mendonorkan matanya.
"Ini masih sebatas ide saja tetapi bisa dipelajari," ungkapnya.
Ia berharap agar pemerintah mempunyai regulasi yang jelas terkait donor bola mata. Sampai saat ini belum ada kebijakan-kebijakan yang mengatur hal itu.
Profesor Suhardjo menyebutkan bank mata di Amerika Serikat pernah menawarkan untuk satu bola mata harganya Rp30 juta. Dengan demikian, orang yang mampu melakukan transplantasi atau cangkok kornea hanya orang kaya. Masyarakat yang tidak mampu seharusnya bisa dibiayai pemerintah.
"Tapi kenyataannya belum bisa dibiayai. Saya ingin masyarakat matanya sehat terlepas dari status ekonominya," imbuhnya.
Pendataan yang dilakukan pendonor mata berasal dari Kabupaten Semarang atau Sleman. Bola mata yang sudah diberikan tidak diberikan secara gratis karena perlu biaya pengawetan senilai Rp4 juta.
"Untuk biaya operasinya masih bisa ditanggung BPJS," katanya.
Dokter Spesialis Mata RSUP Sardjito, Firman Setya Wardhana menuturkan, perlu edukasi kepada pihak keluarga agar mau mendonorkan bola mata salah satu anggota keluarganya yang sudah meninggal dunia. Meski demikian, tidak dapat dipaksakan.
"Sepenuhnya atas persetujuan pihak keluarga," ujarnya.
Menurut dia, melakukan donor bola mata merupakan bentuk kepedulian terhadap sesama yang membutuhkan. "Masih banyak di Indonesia yang memerlukan donor mata ataupun retina," kata dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Seorang WNA asal Jepang dirawat di RSUP Dr Sardjito, dia datang ke RSUP Dr Sardjito pada Selasa (3/3/2020) sekitar pukul 15.00 WIB.
UPNV Jogja menonaktifkan lima dosen terkait dugaan kekerasan seksual. Seluruh aktivitas Tridharma dihentikan selama proses investigasi.
BP BUMN dan Kemnaker memperkuat sinergi transformasi BUMN dengan memastikan perlindungan pegawai dan hubungan industrial tetap sehat.
Dinsos Kulonprogo mencoret 40 penerima KKS setelah validasi, termasuk ASN, warga mampu, hingga data tidak valid.
Aktivitas Gunung Sinabung meningkat ditandai tremor dan gempa vulkanik. PVMBG minta warga waspada potensi erupsi.
Ekonom UGM kritik rencana penutupan prodi tak relevan industri. Pendidikan tinggi dinilai harus tetap fokus pada ilmu dan masa depan.