Advertisement
Obesitas Anak Terus Meningkat Secara Global, Ini Penjelasannya
Obesitas / Freepik
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA—Kasus obesitas anak semakin meningkat di berbagai negara dan menjadi perhatian serius dalam isu kesehatan global. Perubahan pola makan, meningkatnya urbanisasi, serta menurunnya aktivitas fisik disebut sebagai faktor utama yang mendorong meningkatnya angka obesitas pada anak dan remaja.
Fenomena obesitas anak tidak hanya terjadi di satu negara, tetapi juga terlihat di berbagai wilayah dunia seiring perubahan gaya hidup modern. Di India misalnya, sekitar 14 juta remaja dilaporkan mengalami obesitas sehingga menjadikan negara tersebut berada tepat di belakang Tiongkok dalam jumlah anak dengan kelebihan berat badan.
Advertisement
Tren ini memicu kekhawatiran para pakar kesehatan karena obesitas pada anak dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit serius sejak usia muda, termasuk Diabetes Tipe-2 serta gangguan kardiovaskular, seperti dikutip The Times of India, Jumat (13/3/2026).
Urbanisasi dan Perubahan Pola Hidup
BACA JUGA
Dalam dua dekade terakhir, peningkatan pendapatan per kapita serta urbanisasi telah mengubah pola hidup masyarakat di berbagai negara. Perubahan tersebut turut memengaruhi pola makan anak yang semakin bergeser dari makanan tradisional menuju makanan modern yang tinggi gula dan lemak.
Akibat perubahan tersebut, obesitas anak kini semakin sering ditemukan dan bahkan disebut sebagai epidemi di beberapa negara berkembang.
Di India, prevalensi anak yang mengalami kelebihan berat badan diperkirakan mencapai sekitar 15 persen dari populasi anak.
Angka ini bahkan lebih tinggi di sekolah swasta yang umumnya diikuti oleh anak dari keluarga berpenghasilan tinggi, di mana prevalensinya dapat mencapai sekitar 36 hingga 40 persen.
Penyebab Obesitas Anak
Para ahli menyebut obesitas anak terutama terjadi akibat ketidakseimbangan antara jumlah kalori yang dikonsumsi dan energi yang dikeluarkan oleh tubuh.
Walaupun faktor genetik dapat memengaruhi kondisi tersebut, peningkatan kasus obesitas pada anak lebih banyak dipicu oleh perubahan lingkungan serta gaya hidup modern.
Perubahan Pola Makan
Kemakmuran ekonomi menyebabkan pergeseran pola makan dari makanan tradisional menuju makanan cepat saji atau makanan modern yang umumnya mengandung gula dan lemak tinggi.
Kemajuan Teknologi
Perkembangan teknologi seperti ponsel pintar serta aplikasi layanan pesan makanan membuat akses terhadap makanan cepat saji semakin mudah dan praktis.
Gaya Hidup Kurang Gerak
Urbanisasi juga mendorong meningkatnya gaya hidup sedentari atau kurang aktivitas fisik pada anak, sehingga energi yang dibakar tubuh menjadi lebih sedikit dibandingkan kalori yang dikonsumsi.
Dampak Kesehatan Obesitas Anak
Anak yang mengalami obesitas memiliki risiko lebih tinggi terhadap berbagai gangguan kesehatan.
Beberapa kondisi yang sering dikaitkan dengan obesitas anak antara lain Diabetes Tipe-2, kadar kolesterol tinggi, hipertensi, serta penyakit jantung koroner.
Selain itu, obesitas juga dapat meningkatkan risiko masalah pernapasan, gangguan perilaku, hingga beberapa jenis kanker.
Dalam jangka panjang, dua dari tiga anak yang mengalami obesitas diperkirakan akan tetap mengalami obesitas saat dewasa sehingga meningkatkan kemungkinan terkena penyakit tidak menular pada usia dewasa.
Upaya Pencegahan Obesitas Anak
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menekankan bahwa pencegahan obesitas anak jauh lebih efektif dibandingkan pengobatan setelah kondisi tersebut terjadi.
Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan antara lain meningkatkan konsumsi buah dan sayuran dalam menu harian anak.
Selain itu, anak juga dianjurkan untuk minum air putih yang cukup serta mengurangi konsumsi minuman manis yang mengandung gula tinggi.
Mengurangi screen time atau waktu penggunaan perangkat digital juga menjadi langkah penting karena kebiasaan makan sambil menonton televisi sering dikaitkan dengan konsumsi makanan berlebih.
WHO juga menyarankan anak melakukan aktivitas fisik secara rutin, dengan durasi minimal 60 menit aktivitas fisik intens setiap hari terutama bagi anak usia sekolah.
Kegiatan luar ruangan seperti berjalan santai, bersepeda, atau bermain bersama keluarga dapat menjadi cara efektif untuk meningkatkan aktivitas fisik anak sekaligus membangun kebiasaan hidup sehat sejak dini.
Peran Orang Tua dalam Membentuk Kebiasaan Sehat
Para ahli kesehatan juga menekankan pentingnya peran orang tua dalam membentuk kebiasaan makan sehat pada anak. Anak cenderung meniru pola makan dan gaya hidup yang diterapkan oleh orang tua mereka.
Karena itu, orang tua dianjurkan membatasi konsumsi lemak jenuh serta lebih memilih lemak tidak jenuh yang lebih sehat.
Menyediakan camilan sehat di rumah juga dapat membantu anak menghindari konsumsi makanan tinggi gula atau lemak berlebihan.
Selain itu, orang tua sebaiknya tidak memaksa anak makan atau menggunakan makanan sebagai hadiah. Anak dianjurkan makan karena rasa lapar, bukan karena kebosanan atau kelelahan.
Pembentukan kebiasaan makan sehat juga sebaiknya dimulai sejak usia dini. Pada masa penyapihan atau pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) sekitar usia enam hingga dua belas bulan, anak dapat mulai dikenalkan dengan berbagai makanan sehat agar pola makan yang baik dapat terbentuk sejak awal kehidupan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : The Times of India
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Penyiraman Air Keras ke Andrie Yunus, Polri Diminta Usut Tuntas
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Jadwal KRL Solo-Jogja Terbaru Hari Jumat 13 Maret 2026
- Jadwal Imsakiyah dan Buka Puasa Wilayah DIY, Jumat 13 Maret 2026
- Jelang Lebaran, Kota Jogja Intensifkan Pengawasan Daging Sapi di Pasar
- Polda DIY Ungkap 56 Kasus Pekat Selama Operasi Pekat Progo 2026
- Dana Desa di Bantul Dipangkas, Lurah: Infrastruktur Terpaksa Berhenti
Advertisement
Advertisement








