Advertisement
Latihan Ekstrem Film Ikatan Darah, Livi Ciananta Tanpa Body Double
Film Ikatan Darah hadirkan aksi intens dengan koreografi bela diri autentik. Livi Ciananta jalani latihan ekstrem tanpa body double demi totalitas peran. - Istimewa.
Advertisement
Harianjogja.com, JOGJA—Film aksi terbaru Ikatan Darah menghadirkan intensitas tinggi lewat koreografi bela diri yang digarap serius. Para pemain bahkan harus menjalani latihan fisik berat bersama tim profesional, Uwais Team, demi menghasilkan adegan pertarungan yang autentik. Film ini akan tayang mulai 30 April 2026 di Bioskop.
Aktris Livi Ciananta yang memerankan karakter utama Mega mengungkapkan bahwa setiap adegan laga tidak sekadar mengandalkan teknik, tetapi juga melibatkan penghayatan emosi.
Advertisement
“Cuma gerak aja, tapi juga ada rasa yang kita bangun. Akhirnya, ya hal itu yang membuat adrenalinnya bisa dibilang semakin naik dari setiap koreografi yang digerakkan. Karena kebetulan di film ini, Mega berkelahinya dengan banyak sekali penjahat dengan karakter berbeda-beda,” ujarnya saat di Jogja, Selasa (28/4/2026).
Ia menjelaskan, dinamika emosi karakter Mega ikut berkembang seiring meningkatnya tantangan dari lawan-lawan yang dihadapi. Bahkan, ada fase ketika adrenalin yang memuncak justru membuat perasaan karakter menjadi “hambar”, yang menurutnya menjadi salah satu sisi menarik untuk diikuti penonton.
BACA JUGA
Untuk mendalami peran, Livi yang memiliki dasar boxing harus beradaptasi dengan teknik pencak silat secara intensif. Ia mengaku terbantu dengan metode pelatihan dari Uwais Team yang dinilai memiliki pendekatan khusus untuk tiap aktor.
“Mereka itu kayak punya formula khusus untuk tiap cast-nya, jadi kita dipermudah untuk menggerakkan koreografinya. Kalau untuk stuntman, ada body double, tapi kalau untuk adegan fighting, aku lakukan semua sendiri. Body double itu digunakan ketika memang ada beberapa kebutuhan yang cukup riskan,” tambahnya.
Sentuhan Silat Tradisional
Aktor Abdurrahman Arif yang memerankan tokoh Boris juga menyoroti perbedaan antara pertarungan nyata dan koreografi film. Menurutnya, teknik dalam film harus tetap terlihat brutal namun aman.
“Kalau kita berbicara tentang koreografi di film, itu kan berbeda dengan real fight. Untungnya di Uwais Team ini sangat mempelajari itu, sehingga memudahkan kita untuk menggerakkan sesuatu yang seakan-akan brutal dan penuh aksi, tapi semua itu sebenarnya adalah trik,” jelasnya.
Ia menambahkan, karakter Boris mengusung gaya silat jalanan, namun tetap berpijak pada teknik dasar yang terstruktur. Keterlibatan tim yang banyak berasal dari aliran silat Panglipur disebutnya berperan penting dalam menjaga estetika gerakan.
Tantangan Syuting di Cuaca Ekstrem
Di sisi lain, aktor Agra Piliang mengungkapkan pengalaman syuting selama 45 hari di Semarang yang diwarnai cuaca panas ekstrem.
“Syutingnya sehat banget ya, break-nya benar-benar cuma 12 jam. Tapi di Semarang itu panas sekali. Terus Kak Derby [Romero] juga sempat heat stroke karena waktu itu lagi heat wave,” kenangnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Lurah se-DIY Diperkuat, Sultan Minta Dana Desa Bebas Korupsi
- Kasus Little Aresha, Sultan Tutup Semua Daycare Tak Berizin di DIY
- KA Jogja Dibatalkan Imbas Kecelakaan KRL Bekasi Timur, Ini Daftarnya
- Pemkab Sleman Usulkan Proyek Infrastruktur 2026, Fokus Jalan dan Pasar
- Jadwal KRL Jogja-Solo 29 April 2026, Berangkat dari Tugu 05.05 WIB
Advertisement
Advertisement









