Advertisement

Penyakit Radang Usus Kronis Meningkat, Dokter Ingatkan Risikonya

Kintan Nabila
Sabtu, 31 Januari 2026 - 13:47 WIB
Abdul Hamied Razak
Penyakit Radang Usus Kronis Meningkat, Dokter Ingatkan Risikonya Foto ilustrasi usus. / Foto dibuat oleh AI Freepik

Advertisement

Harianjogja.com, JAKARTA — Kasus Inflammatory Bowel Disease (IBD) atau penyakit radang usus kronis terus menunjukkan tren peningkatan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Ironisnya, di tengah lonjakan jumlah pasien, tingkat kesadaran masyarakat terhadap penyakit ini masih tergolong rendah.

Kondisi tersebut membuat banyak penderita baru terdiagnosis ketika penyakit sudah memasuki fase lanjut. Padahal, keterlambatan penanganan berisiko memicu komplikasi serius, mulai dari rawat inap berulang hingga meningkatnya risiko kanker kolorektal.

Advertisement

IBD merupakan penyakit kompleks yang dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari genetik, sistem kekebalan tubuh, lingkungan, hingga mikrobiota usus. Dua jenis utama IBD, yakni Crohn’s disease dan ulcerative colitis, kerap menimbulkan gejala yang mirip dengan penyakit lain, seperti infeksi saluran cerna maupun tuberkulosis usus.

Kondisi tersebut membuat proses diagnosis harus dilakukan secara cermat dan menyeluruh, melibatkan evaluasi klinis, pemeriksaan endoskopi, histopatologi, serta pemeriksaan penunjang lainnya.

Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Gastroenterologi-Hepatologi RS Abdi Waluyo, Prof. Marcellus Simadibrata, menegaskan keterlambatan diagnosis maupun terapi dapat memperburuk kondisi pasien.

“Keterlambatan dapat meningkatkan risiko perburukan penyakit, rawat inap berulang, hingga komplikasi serius seperti perdarahan, obstruksi usus, fistula, dan kanker kolorektal,” ujarnya.

Menurutnya, penilaian aktivitas dan tingkat keparahan penyakit menjadi langkah penting sebelum menentukan pilihan terapi yang tepat.

Penanganan Harus Komprehensif

Prof. Marcellus menjelaskan penanganan IBD tidak bisa dilakukan secara seragam. Setelah diagnosis ditegakkan, pasien perlu menjalani evaluasi menyeluruh, termasuk penilaian aktivitas penyakit, skrining infeksi tersembunyi, serta penentuan target terapi yang jelas.

Pendekatan treat-to-target dinilai penting untuk tidak hanya mengendalikan gejala, tetapi juga mencapai penyembuhan mukosa dan mencegah kerusakan usus jangka panjang.

Ia juga menyoroti pentingnya skrining infeksi, terutama di negara dengan prevalensi penyakit menular yang masih tinggi seperti Indonesia.

“Beberapa infeksi seperti tuberkulosis dan gangguan saluran cerna lainnya bisa menyerupai IBD atau memperberat kondisinya. Karena itu skrining menyeluruh sangat krusial sebelum memulai terapi,” jelasnya.

RS Abdi Waluyo Kembangkan IBD Center

Sebagai respons terhadap kompleksitas penyakit ini, RS Abdi Waluyo mengembangkan RS Abdi Waluyo IBD Center yang mengusung konsep layanan terpadu atau one-stop service.

Layanan ini menghadirkan pendekatan holistik melalui tim multidisiplin yang mengintegrasikan proses diagnosis, terapi, pemantauan jangka panjang, hingga dukungan medis lintas spesialis.

IBD Center tersebut menjadi pusat layanan IBD pertama di Indonesia dan diperkuat dengan teknologi Intestinal Ultrasound (IUS), metode non-invasif untuk menilai aktivitas penyakit secara aman dan berulang.

Tim multidisiplin melibatkan berbagai bidang, mulai dari Gastroenterologi-Hepatologi, Penyakit Autoimun, Reumatologi, Penyakit Tropis dan Infeksi, Pulmonologi, Hematologi-Onkologi, Endokrinologi, Kardiovaskular, Gizi Klinik, hingga Bedah Digestif dan Patologi.

Kolaborasi lintas disiplin ini diharapkan mampu memberikan penanganan yang lebih tepat dan optimal bagi pasien IBD di Indonesia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : Bisnis.com

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

Demonstrasi Besar Tolak Operasi ICE Guncang Minneapolis AS

Demonstrasi Besar Tolak Operasi ICE Guncang Minneapolis AS

News
| Sabtu, 31 Januari 2026, 14:47 WIB

Advertisement

Wisata ke Meksiko Dilarang Bawa Vape, Turis Terancam Penjara 8 Tahun

Wisata ke Meksiko Dilarang Bawa Vape, Turis Terancam Penjara 8 Tahun

Wisata
| Kamis, 29 Januari 2026, 11:57 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement