Advertisement

Kelelawar dan Babi Sebarkan Virus Nipah, Ini Penjelasan Lengkap WHO

Maya Herawati
Selasa, 27 Januari 2026 - 17:37 WIB
Maya Herawati
Kelelawar dan Babi Sebarkan Virus Nipah, Ini Penjelasan Lengkap WHO Virus - Foto dibuat oleh AI - StockCake

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA—Virus Nipah (NiV) menjadi ancaman serius kesehatan masyarakat karena mampu menular dari hewan ke manusia, menyebar antarmanusia, dan memicu penyakit berat hingga kematian dengan tingkat fatalitas tinggi, sehingga menuntut kewaspadaan global lintas sektor kesehatan dan peternakan. Berikut ini penjelasan lengkap tentang virus nipah seperti dikutip dari Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO), Selasa (27/1/2026).

Apa Itu Virus Nipah?

Advertisement

Virus Nipah (NiV) merupakan virus zoonosis yang dapat berpindah dari hewan ke manusia, menular melalui makanan yang terkontaminasi, serta menyebar secara langsung antarmanusia. Pada manusia, infeksi menunjukkan spektrum luas, mulai dari tanpa gejala hingga gangguan pernapasan akut dan ensefalitis yang berujung fatal. Pada hewan, terutama babi, Virus Nipah memicu penyakit berat yang berdampak pada kerugian ekonomi signifikan bagi peternak.

Mengapa Virus Nipah Jadi Isu Global

Walau wabah Virus Nipah sejauh ini tercatat terbatas di Asia, kemampuannya menginfeksi berbagai spesies hewan dan menimbulkan kematian pada manusia menjadikannya isu kesehatan masyarakat global. Temuan antibodi dan virus pada reservoir alaminya di sejumlah negara memperluas potensi risiko lintas wilayah.

Jejak Wabah Virus Nipah di Dunia

1. Tahun 1999, wabah pertama Virus Nipah terjadi di Malaysia dan menyerang peternak babi.
2. Sejak 2001, Bangladesh melaporkan wabah hampir setiap tahun.
3. Kasus juga teridentifikasi secara berkala di India bagian timur.
4. Bukti keberadaan virus pada reservoir alami ditemukan di Kamboja, Ghana, Indonesia, Madagaskar, Filipina, dan Thailand, menandakan wilayah lain berpotensi berisiko.

Cara Penularan yang Perlu Diwaspadai

Pada wabah awal di Malaysia dan Singapura, penularan pada manusia terutama terjadi akibat kontak langsung dengan babi sakit atau jaringan yang terkontaminasi, khususnya melalui paparan sekresi tanpa alat pelindung.

Pada wabah di Bangladesh dan India, konsumsi buah atau produk buah seperti nira sawit mentah yang terkontaminasi urin atau air liur kelelawar buah terinfeksi menjadi sumber infeksi paling mungkin.
Penularan antarmanusia juga dilaporkan, terutama di lingkungan keluarga dan fasilitas kesehatan. Di Siliguri, India, pada 2001, sekitar 75% kasus terjadi pada tenaga kesehatan dan pengunjung rumah sakit.

Tanda dan Gejala Infeksi Virus Nipah

Infeksi Virus Nipah dapat diawali dengan demam, sakit kepala, nyeri otot, muntah, dan sakit tenggorokan. Kondisi ini dapat berkembang menjadi pusing, kantuk, penurunan kesadaran, hingga tanda neurologis ensefalitis akut.
Pada kasus berat, muncul pneumonia atipikal, gangguan pernapasan akut, kejang, dan koma dalam waktu 24 hingga 48 jam. Masa inkubasi umumnya 4 hingga 14 hari, meski pernah dilaporkan hingga 45 hari. Tingkat fatalitas kasus diperkirakan berkisar 40% hingga 75%.

Tantangan Diagnosis

Gejala awal yang tidak spesifik kerap membuat diagnosis Virus Nipah terlambat. Akurasi pemeriksaan dipengaruhi kualitas dan waktu pengambilan sampel klinis. Metode diagnosis utama meliputi real time polymerase chain reaction (RT-PCR), deteksi antibodi melalui enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA), PCR, serta isolasi virus melalui kultur sel.

Pengobatan dan Status Vaksin

Hingga kini belum tersedia obat maupun vaksin khusus untuk Virus Nipah. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menetapkan Virus Nipah sebagai penyakit prioritas dalam Cetak Biru Penelitian dan Pengembangan. Penanganan difokuskan pada perawatan suportif intensif untuk mengatasi komplikasi pernapasan dan neurologis.

Inang Alami dan Dampak pada Hewan

Kelelawar buah dari famili Pteropodidae, khususnya genus Pteropus, merupakan inang alami Virus Nipah tanpa menunjukkan gejala sakit. Pada hewan ternak, terutama babi, virus ini sangat menular dengan masa inkubasi 4 hingga 14 hari. Meski mortalitas umumnya rendah, gejala pernapasan dan neurologis pada babi meningkatkan risiko penularan ke manusia.

Langkah Pencegahan yang Dianjurkan

1. Mengendalikan wabah di peternakan melalui disinfeksi rutin, karantina, dan pembatasan pergerakan hewan.
2. Mengurangi risiko penularan dari kelelawar dengan melindungi nira sawit, merebus nira sebelum dikonsumsi, serta mencuci dan mengupas buah.
3. Mengurangi penularan dari hewan ke manusia dengan penggunaan alat pelindung saat menangani hewan sakit.
4. Mencegah penularan antarmanusia melalui kebiasaan cuci tangan dan pengendalian infeksi ketat di fasilitas kesehatan.

Di tengah dinamika perubahan lingkungan, mobilitas penduduk, dan pola konsumsi pangan yang terus berkembang, Virus Nipah menjadi perhatian penting dalam peta ancaman penyakit menular global. Penguatan surveilans berbasis risiko, literasi kesehatan masyarakat, serta sinergi lintas sektor melalui pendekatan One Health dipandang semakin relevan untuk memutus rantai penularan Virus Nipah sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan sistem kesehatan menghadapi potensi wabah zoonosis di masa mendatang

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : WHO

Advertisement

Harian Jogja

Berita Terkait

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

Sidang Tipikor: Ahok Klaim Sistem Pengadaan Pertamina Bersih

Sidang Tipikor: Ahok Klaim Sistem Pengadaan Pertamina Bersih

News
| Selasa, 27 Januari 2026, 18:17 WIB

Advertisement

Peta Global Situs Warisan Dunia Unesco dari Eropa hingga Asia

Peta Global Situs Warisan Dunia Unesco dari Eropa hingga Asia

Wisata
| Selasa, 27 Januari 2026, 13:37 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement