Advertisement
Pakar Ungkap Cara Orang Tua Hadapi Tekanan Tren pada Remaja
Ilustrasi orangtua mendampingi remaja.ist - Antara
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA — Membangun hubungan emosional yang aman antara orang dewasa dan remaja dinilai menjadi fondasi penting dalam menghadapi derasnya pengaruh tren dan budaya populer. Komunikasi terbuka tanpa rasa takut dihakimi menjadi kunci agar remaja mau berbagi dan berdiskusi mengenai berbagai fenomena yang mereka temui.
Psikolog Klinis Dinamis Biro Psikologi, Shabrin Risti Aulia, M.Psi., menegaskan orang tua, pendamping, maupun guru perlu menciptakan ruang komunikasi yang nyaman. Dengan begitu, berbagai tren yang berpotensi berisiko bisa dibicarakan secara sehat.
Advertisement
“Ketika komunikasi terbangun dengan aman, pembahasan tentang tren yang berisiko akan jauh lebih mudah dilakukan,” ujar Shabrin, Jumat (30/1/2026).
Ia menjelaskan langkah awal yang bisa dilakukan adalah memvalidasi perasaan dan kebutuhan remaja, seperti keinginan untuk mengikuti teman sebaya atau rasa penasaran mencoba hal baru. Setelah itu, orang dewasa dapat mengajak remaja mendiskusikan tren yang sedang populer, termasuk menimbang dampak jangka pendek maupun panjang yang mungkin muncul.
BACA JUGA
Pandangan serupa disampaikan Psikolog dari Cakra Medika, Ayu S. Sadewo, S.Psi. Menurutnya, pendekatan yang langsung berisi larangan justru berpotensi membuat remaja menutup diri dan bersikap defensif.
“Sebisa mungkin jangan langsung melarang. Mulai saja dengan rasa ingin tahu tanpa menghakimi. Ajak diskusi tentang apa itu tren tersebut, sisi positifnya, risikonya, dan dampaknya terhadap kesehatan, hubungan sosial, maupun sekolah,” ujarnya dikutip dari Antara, Jumat.
Ia menambahkan setiap remaja memiliki cara berbeda dalam merespons tren, namun membuka ruang dialog menjadi inti dari pendampingan yang efektif.
Selain membangun komunikasi, Shabrin juga menyoroti pentingnya membekali remaja dengan kemampuan menghadapi tekanan teman sebaya. Salah satunya dengan mengajarkan cara menolak ajakan mengikuti tren tertentu tanpa harus merusak pertemanan.
Pendekatan ini dinilai mampu melatih remaja berpikir kritis, mempertimbangkan risiko, serta mengelola emosi mereka dengan lebih baik. Dengan demikian, tren dan popularitas tidak menjadi faktor yang merugikan perkembangan psikologis.
Melalui komunikasi yang aman dan diskusi terbuka, remaja tetap dapat mengeksplorasi pengalaman baru secara sehat, sekaligus belajar mengambil keputusan bijak tanpa kehilangan rasa diterima di lingkungan sosialnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Korupsi Bea Cukai: Kotak Simpanan Terbongkar, Uang dan Emas Disita KPK
Advertisement
Paspor Indonesia Bebas Visa ke 42 Negara, Cek Destinasinya!
Advertisement
Berita Populer
- Ribuan Ikan Mati di Sungai Belik Pandes, Tercemar Limbah IPAL
- Listrik Padam di Sleman, Sejumlah Wilayah Terdampak
- Modus Izin Tinggal Investor Jadi Cara WNA Belama-lama di Indonesia
- Jadwal KA Prameks Jogja-Kutoarjo, 21 April 2026, Tiket Rp8.000
- Rayakan Kartini di Jogja! Ada Konser Royal Orchestra dan Harmoni
Advertisement
Advertisement




