Advertisement

Minuman Manis Jadi Makanan Buruk bagi Otak, Ini Penjelasan Dokter

Maya Herawati
Sabtu, 03 Januari 2026 - 13:07 WIB
Maya Herawati
Minuman Manis Jadi Makanan Buruk bagi Otak, Ini Penjelasan Dokter Ilustrasi teh boba minuman berpemanis kekinian. - Foto dibuat oleh AI - StockCake

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA—Minuman manis disebut sebagai faktor paling berisiko terhadap kesehatan otak karena kandungan gula cair yang dikonsumsi harian dapat memicu gangguan memori, fokus, hingga meningkatkan risiko demensia, menurut penjelasan dokter dan hasil sejumlah studi internasional.

Banyak orang mengira makanan yang merusak kesehatan otak berasal dari gorengan atau makanan olahan. Namun, dokter menyebut minuman manis justru menjadi ancaman utama bagi fungsi otak karena kandungan gula cairnya mudah diserap tubuh dan dikonsumsi berlebihan.

Advertisement

Menurut Austin Perlmutter seorang dokter spesialis penyakit dalam penulis, dan peneliti asal Amerika Serikat konsumsi gula, khususnya dalam bentuk cair, berperan besar dalam menurunkan kualitas kerja otak. Gula cair dari minuman manis seperti minuman bersoda, jus kemasan, minuman berenergi, dan teh manis dapat memicu lonjakan kadar gula darah yang cepat dan berulang.

Gula Cair Picu Gangguan Fungsi Otak

Lonjakan gula darah akibat minuman manis memaksa tubuh memproduksi insulin dalam jumlah besar. Jika berlangsung lama, kondisi ini dapat menyebabkan resistensi insulin pada otak. Padahal, otak membutuhkan pasokan glukosa yang stabil, bukan naik-turun secara ekstrem.

Dalam jangka panjang, asupan gula berlebihan memicu peradangan dan stres oksidatif yang merusak sel-sel otak, sehingga berdampak pada penurunan daya ingat, konsentrasi, dan kemampuan berpikir.

Dampak Minuman Manis pada Otak Anak

Paparan minuman manis sejak usia dini juga berbahaya. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa konsumsi minuman berpemanis pada bayi dan anak berkaitan dengan gangguan perhatian dan perilaku di kemudian hari.

Sebuah studi kohort di Korea menemukan bahwa anak yang mengonsumsi lebih dari 200 mililiter minuman manis per hari sebelum usia dua tahun memiliki risiko lebih tinggi mengalami attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) dibandingkan anak dengan konsumsi lebih rendah.

Penelitian lain di Spanyol dan Tiongkok juga melaporkan bahwa kebiasaan minum minuman ringan pada usia sekolah berhubungan dengan penurunan performa kognitif dan meningkatnya risiko gangguan perhatian.

Penurunan Memori dan Kemampuan Berpikir

Konsumsi gula tinggi dalam jangka panjang berkaitan dengan penurunan daya ingat, kemampuan belajar, dan pemrosesan informasi. Gejala awal yang sering muncul antara lain kabut otak (brain fog), sulit fokus, dan cepat lelah secara mental.

Sejumlah data menunjukkan bahwa anak yang terbiasa mengonsumsi minuman manis sejak dini cenderung memiliki skor kecerdasan lebih rendah saat dewasa. Pada usia lanjut, pola konsumsi gula berlebihan juga dikaitkan dengan peningkatan risiko demensia.

Pemanis Buatan Tidak Sepenuhnya Aman

Mengganti gula dengan pemanis rendah kalori atau tanpa kalori tidak selalu menjadi solusi. Beberapa penelitian menunjukkan pemanis buatan juga berkaitan dengan penurunan fungsi kognitif.

Sebuah studi selama delapan tahun di Brasil menemukan bahwa konsumsi pemanis seperti aspartam, sakarin, acesulfame K, eritritol, sorbitol, dan ksilitol berhubungan dengan penurunan memori dan kefasihan verbal, terutama pada individu berusia di bawah 60 tahun.

Riset lain yang dimuat dalam jurnal Neurology menyebutkan bahwa orang dengan konsumsi pengganti gula tertinggi mengalami penurunan kemampuan mental lebih cepat dibandingkan mereka yang jarang mengonsumsinya.

Minuman Manis Lebih Berbahaya

Minuman manis dinilai lebih berbahaya dibanding makanan manis karena tidak memberikan rasa kenyang. Akibatnya, seseorang dapat mengonsumsi gula dalam jumlah besar tanpa disadari.

Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) merekomendasikan batas konsumsi gula bebas maksimal 10 persen dari total energi harian, dan idealnya ditekan hingga 5 persen untuk manfaat kesehatan optimal. Satu liter minuman ringan bahkan dapat melampaui batas asupan gula harian tersebut.

Efek Kecanduan dan Perubahan Suasana Hati

Sistem penghargaan otak bereaksi terhadap gula dengan cara yang mirip zat adiktif. Kondisi ini membuat seseorang sulit berhenti mengonsumsi minuman manis meski sudah mengetahui risikonya.

Lonjakan gula yang berulang memicu pola “naik-turun energi” yang ditandai rasa lelah, mudah marah, dan sulit berkonsentrasi. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini memperburuk kestabilan emosi dan fungsi kognitif.

Cara Melindungi Otak dari Dampak Minuman Manis

Mengurangi konsumsi minuman manis terbukti membantu menjaga daya ingat dan konsentrasi dalam jangka panjang.

Gantilah minuman berpemanis dengan air putih, teh tanpa gula, atau air infused lemon, mentimun, dan herba.

Batasi makanan dan minuman manis sebagai konsumsi sesekali, serta hindari pemberiannya pada bayi dan balita guna menekan risiko gangguan kognitif di masa depan.

Dengan membatasi minuman manis, masyarakat dapat melindungi kesehatan otak sekaligus menurunkan risiko gangguan kognitif dan demensia di kemudian hari.

BACA JUGA

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : The Times of India

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

Sidang E-Court, Gugatan Cerai Atalia-Ridwan Kamil Segera Diputus

Sidang E-Court, Gugatan Cerai Atalia-Ridwan Kamil Segera Diputus

News
| Sabtu, 03 Januari 2026, 18:37 WIB

Advertisement

Favorit Nataru, KA Joglosemarkerto Angkut Puluhan Ribu Penumpang

Favorit Nataru, KA Joglosemarkerto Angkut Puluhan Ribu Penumpang

Wisata
| Sabtu, 03 Januari 2026, 05:37 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement