Profil Gus Rozin Bangun BPRS untuk UMKM di Sekitar Pesantren
Gus Rozin merintis BPRS di Pati sejak 2005 untuk memperluas akses modal UMKM dan memperkuat ekosistem ekonomi syariah pesantren.
Ilustrasi makanan instan/Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—Pakar Nutrisi dari Universitas Indonesia, Widya Fadila, M.KM memberi kiat-kiat untuk memilih makanan instan yang aman untuk dikonsumsi.
“Saat berpuasa kadang di jalan atau saat sahur kita butuh cepat dan praktis, namun ada sejumlah hal yang perlu kita perhatikan saat membeli produk instan,” ungkapnya pada konferensi pers di Jakarta, Kamis (30/3/2023), seperti dikutip dari Antara.
Saat sahur pada bulan Ramadan tiba, para umat Islam secara tak langsung dituntut untuk menyiapkan makanan yang cepat dan praktis. Sering kali makanan instan menjadi pilihan sebagian masyarakat Indonesia sebagai stok di rumah menjelang bulan suci.
Namun bila tidak berhati-hati dalam pemilihan produk dapat berdampak pada kesehatan. Hal pertama nan sederhana yang kerap luput dari perhatian banyak orang ialah pemeriksaan tanggal kadaluarsa atau expired date.
Baca juga: Waspada! Sejumlah Penyakit Ini Rentan Muncul Selama Puasa
“Terkadang ini hal utama yang sering dilupakan, ketika sampai rumah baru menyadari. Makanan yang sudah kadaluarsa tentu tidak baik karena kandungan gizi atau kimianya sudah berubah dan mengandung bakteri,” jelas Widya.
Selain tanggal kadaluarsa, Widya menyebut label izin edar juga perlu diperhatikan. Memilih produk berlabel BPOM dapat menjamin keamanan kesehatan telah memenuhi standar yang ditentukan.
Lalu hindarilah produk kemasan kaleng yang penyok dan berkarat, kemasan plastik atau alumunium foil yang telah kempes.
Kemasan plastik dan kaleng yang telah rusak, menandakan produk telah terkontaminasi karena adanya udara dan bakteri yang sudah masuk ke dalam produk.
“Pada kemasan plastik atau alumunium foil biasanya dia menggelembung karena diisi dengan nitrogen, ini fungsinya untuk menjaga udara dari luar untuk masuk, kalau sudah kempes berarti sudah ada udara dan bakteri yang masuk,” tuturnya.
Produk kemasan, terlebih yang mengandung protein dan gula termasuk sangat rentan terkontaminasi bila kemasan telah rusak.
Hal terakhir yang perlu dilakukan adalah lebih bijak dalam memeriksa komposisi dan nutrisi yang terkandung dalam produk. Widya menganjurkan untuk menghindari produk mengandung perisa.
“Saya selalu tekankan hindari produk mengandung tambahan perisa makanan, bukan tidak boleh, namun bila dikonsumsi secara sering dan berlebihan tentu tidak baik bagi kesehatan,” jelas Widya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Gus Rozin merintis BPRS di Pati sejak 2005 untuk memperluas akses modal UMKM dan memperkuat ekosistem ekonomi syariah pesantren.
Lima tokoh disebut masuk bursa Ketum PBNU 2026-2031. Simak profil, pengalaman, dan gagasan para kandidat dalam Muktamar ke-35 NU.
YOT VI di GOR UNY diikuti 5.200 karateka. Ajang ini menjadi wadah pembinaan atlet usia dini hingga kompetisi tingkat internasional.
Tiga karya budaya Sleman resmi ditetapkan sebagai WBTb nasional 2025, yakni Reog Keprajuritan, Sruntul, dan Bebek Bacem Nglengis.
Gus Rozin menghormati mekanisme AHWA dalam pemilihan Ketum PBNU dan mengajak warga NU menjaga persatuan setelah keputusan Muktamar ke-35.
Komisi III DPR RI merumuskan 13 jenis tindak pidana yang menjadi sasaran RUU Perampasan Aset. Simak daftar lengkapnya.