Ratusan Santri Diduga Keracunan MBG, Ketum PBNU Gus Kikin Soroti Integritas
Gus Kikin menyoroti integritas setelah ratusan santri di Sidoarjo diduga keracunan MBG dan mendorong evaluasi tata kelola program.
Aneka bentuk wajah/Istimewa
Harianjogja.com, JAKARTA – Percaya atau tidak, ternyata cara kita bernapas dapat memengaruhi bentuk wajah.
Umumnya, manusia bernapas melalui hidung tetapi ada pula orang-orang yang bernapas melalui mulut mereka.
Kebiasaan ini, menurut dokter spesialis kulit dan kelamin Arthur S, bisa muncul karena mungkin mereka pernah mengalami gangguan pernapasan yang berkepanjangan sehingga perlu dikompensasi melalui pernapasan mulut.
Selain udara jadi tidak tersaring dengan bulu-bulu hidung, bernapas melalui mulut ternyata juga dapat menyebabkan perubahan pada bentuk wajah. Akibatnya, wajah lebih panjang, cenderung turun dan garis rahang menjadi lebih bulat.
Mengapa hal ini bisa terjadi?
“Kebiasaan bernapas melalui mulut menyebabkan berbagai macam efek yang saling berhubungan,” kata Arthur melalui akun Instagramnya, Kamis (25/11/2021).
Ketika kita bernapas melalui mulut, otot pipi harus bekerja lebih keras.
Saat otot pipi bekerja lebih keras, tekanan pada rahang atas dan bawah juga ikut bertambah.
Tekanan pada rahang inilah yang akan membuat wajah menjadi lebih panjang dan mengubah bentuk susunan gigi.
“Rahang dan posisi gigi yang berubah menjadi lebih sempit, membuat ruang untuk lidah juga menjadi sempit dan membuat lidah harus bersandar ke dasar mulut, padahal biasanya di langit-langit mulut,” jelasnya.
Terutama jika keadaan ini sudah terjadi saat masih usia anak-anak , pertumbuhan wajahnya pun akan jadi menyesuaikan dengan semua perubahan ini.
Berdasarkan sebuah studi di tahun 2016, pernapasan mulut telah dikaitkan dengan kondisi mulut seperti mulut dan bibir kering, karies gigi, penyakit periodontal, halitosis sekunder, deformitas kraniofasial dan maloklusi, serta menelan yang abnormal. Ini juga terkait dengan kondisi medis seperti perubahan postur kepala, leher dan tubuh, apnea tidur obstruktif, kinerja fisik dan pembelajaran yang buruk, dan asma.
Di antara mekanisme fisiopatologis, yang dapat menjelaskan hubungan tersebut adalah hipoksemia kronis dengan hiperkapnia, peningkatan kehilangan air dan energi, penurunan pelepasan hormon pertumbuhan, pelepasan mediator inflamasi dan oksidatif, beban besar pada otot punggung dan leher bagian atas, deformitas pada saluran napas dan deformitas kraniofasial, menurut studi tersebut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Bisnis.com
Gus Kikin menyoroti integritas setelah ratusan santri di Sidoarjo diduga keracunan MBG dan mendorong evaluasi tata kelola program.
Suahasil Nazara menegaskan komitmen menjaga APBN agar mendorong pertumbuhan dan stabilitas ekonomi Indonesia hingga 2029.
Desa Wisata Sasak Ende menghadirkan kehidupan tradisional Sasak lewat rumah adat, Gendang Beleq, Peresean dan aktivitas warga.
Pengacara di Semarang diduga dikeroyok setelah melerai keributan di kafe. Tiga orang dilaporkan dan polisi memastikan kasus masih berjalan.
Ranu Regulo tetap dibuka meski sejumlah titik di Gunung Bromo terbakar. Wisatawan diminta waspada dan tidak menyalakan api.
Pemkab Gunungkidul menyalurkan alat bantu bagi kelompok difabel untuk menunjang aktivitas dan mendorong kemandirian.