Unik, Ada Sedotan Bisa Dimakan. Gak Meleleh?

Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA – Para produsen kini berlomba-lomba berinovasi menciptakan sedotan yang tak hanya sekadar ramah lingkungan tapi bahkan bisa dimakan. Tujuannya, mengurangi pencemaran.
Sudah bukan rahasia lagi bahwa sedotan plastik yang sulit terurai menjadi salah satu penyebab pencemaran yang jamak ditemui di laut, sungai, danau dan tanah. Itu sebabnya, tren sedotan ramah lingkungan mulai marak, salah satunya yang dilakukan oleh sebuah perusahaan di Malaysia, Ricestraws.
Advertisement
BACA JUGA: TelkomClick 2023: Kesiapan Kerja Karyawan dalam Sukseskan Strategi Five Bold Moves di Tahun 2023
Direktur IT Ricestraws Anddrew Loh, 45 tahun, mengatakan sedotan ramah lingkungan yang mereka produksi terbuat dari bahan beras dan tepung tapioka. Walhasil, tak hanya mudah terurai di alam, sedotan ini bahkan dapat dimakan tapi tidak berasa.
“Bagian bawah yang direndam dalam air agak terasa kental sedangkan bagian atas akan renyah seperti keripik,” katanya seperti dikutip dari The Star Online, Sabtu (28/9/2019).
Dalam Penang International Green and Conference Exhibition (PIGCE) 2019 yang berlokasi di Gurney Paragon, Anddrew menjelaskan bahwa sedotan itu terbuat dari bahan alami dan tidak mengandung zat tambahan apapun sehingga akan terurai sepenuhnya dalam 90 hari dan juga dapat diubah menjadi pakan ternak atau pupuk.
Sedotan ini dapat bertahan selama dua hingga lima jam di air panas dan sekitar lima hingga 10 jam di air dingin. Dia menambahkan, dengan memproduksi sedotan dari bahan beras dan tapioka, pihaknya telah ikut membantu menyelesaikan masalah siklus ekosistem.
“Kami menggunakan nasi pecah yang jarang dimakan orang. Mereka biasanya digunakan untuk membuat bihun. Sedangkan ketika menggunakan sedotan dari bahan kertas, sebenarnya akan membuat lebih banyak penebangan pohon,” paparnya.
Sedotan dari bahan beras itu diproduksi dalam tiga ukuran, sebagian besar digunakan untuk para pecinta teh bubble. Tak hanya itu, perusahaannya juga membuka peluang inovasi bahan beras untuk membuat peralatan makan yang lebih bervariasi.
“Kami berencana memproduksi cangkir, mangkuk, alat pengaduk, dan alat makan yang terbuat dari beras dan tapioka juga di masa yang akan datang,” ujarnya.
BACA JUGA: Finnet Dukung Digitalisasi Sistem Pembayaran Proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber : Bisnis.com
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement

Prakiraan Cuaca DIY, Jumat 31 Maret 2023: Siang Ini, Sleman dan Kota Jogja Hujan Petir
Advertisement

Deretan Warung Sate di Seputaran Imogiri, Serbu Saat Buka Puasa!
Advertisement
Berita Populer
- DPRD Gunungkidul Bahas Tiga Raperda Sekaligus
- Anak Muda Diperkenalkan Wayang Lewat Animasi Srikandi
- Dinilai Belum Standar, Lokasi Pembangunan IPA Seropan Diperluas
- Larang Baju Bekas, Pemerintah Harus Perhatikan Kebutuhan Sandang Warga Miskin
- Begini Progres Konstruksi dan Pembebasan Lahan Tol Jogja Bawen
Advertisement