Google Cloud Buka Suara soal Lonjakan Harga Chip Global
Google Cloud berupaya menjaga harga layanan tetap kompetitif di tengah kelangkaan chip global dan lonjakan permintaan GPU serta TPU.
Ilustrasi kanker darah/Istimewa
Harianjogja.com, JAKARTA - Kondisi psikologis seseorang akan mempengaruhi kondisi fisiknya. Pasien kanker punya risiko merasakan sakit fisik lebih tinggai karena menanggung beban psikologis atau stres dari kondisi lingkungannya.
"Saya menaruh perhatian pada kondisi psikologis pasien kanker karena saya percaya kondisi itu berdampak pada kesehatan mereka. Stres adalah faktor yang sangat serius pasien kanker. Mereka sulit sekali menerima kondisi penyakitnya," ujar konsultan senior onkologi medis Park Cancer Centre (PCC) Singapura Ang Peng Tiam, baru-baru ini.
Direktur medis di PCC itu mengatakan para pasien kanker seringkali sulit menerima kondisinya fisiknya dan akan memicu stres. Apalagi, jika lingkungannya tidak mendukung pemulihan pasien.
Stres akibat kanker mungkin dapat teratasi oleh pasien selama tiga hingga lima tahun. Tapi, stres itu dapat kembali muncul misalnya akibat tidak ada dukungan dari pasangan untuk pengobatan ataupun situasi lain.
"Stres mempengaruhi sistem kebebalan tubuh. Jika penderita stres, mereka berisiko lebih tinggi mengalami sakit fisik. Tidak mengherankan jika stres menjadi faktor penting yang harus dipertimbangkan untuk pasien kanker," ujar Ang.
Kehilangan Semangat
Selain stres, Ang mengatakan pasien kanker juga sering memiliki kondisi emosi yang berubah-ubah setiap saat. Ang mencontohkan pasien berusia 30 tahun yang merasa geram setelah terdiagnosis kanker otak.
"Dia bilang, \'pola makan saya sehat, saya rajin berolahraga, tidur cukup, saya tidak merokok ataupun konsumsi minuman beralkohol\'. Dia marah. Dia tidak bisa menerima kondisi itu. Padalah, kanker bisa menyerang siapa saja," kata Ang.
Pasien kanker, lanjut Ang, juga sering kehilangan semangat dan merasa tidak ada harapan untuk hidup normal. Dukungan pasangan, keluarga, dan dokter berperan untuk mendorong pasien mendapatkan lagi semangat mereka dan melawan kanker.
Seorang penyintas kanker serviks Endang Suryani (52) mengaku sempat tidak percaya kalau ada sel kanker di serviksnya. Dia tidak menerima hasil diagnosis kanker serviks pada 2016.
Endang mencoba pengobatan di luar medis dan justru terjadi pendarahan hebat setelahnya.
"Dibiopsi, lalu di USG. Kanker sudah seperempat serviks," katanya.
Endang bergabung dengan komunitas Cancer Information and Support Center (CISC) untuk membantu pemulihan semangat melawan penyakit kanker. Endang dapat berbagi perasaan dan menghimpun semangat dari anggota-anggota lain CISC.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Google Cloud berupaya menjaga harga layanan tetap kompetitif di tengah kelangkaan chip global dan lonjakan permintaan GPU serta TPU.
Budaya membaca dinilai dapat menjadi salah satu pintu masuk memperkuat ketahanan keluarga.
Pemanfaatan media sosial sebagai strategi pemasaran dinilai menjadi kunci bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk memperluas pasar
Tim Olimpiade Fisika Indonesia meraih satu emas, dua perak, dan dua perunggu pada International Physics Olympiad 2026 di Kolombia.
Umbulharjo menjadi percontohan pengelolaan sampah organik di Jogja. Warga dilatih mengolah sisa dapur dengan metode Losida Vermicompos.
Psikolog menegaskan perlindungan anak harus melibatkan keluarga, sekolah, masyarakat, dan pemerintah agar anak tidak menjadi korban kesalahan orang dewasa.