Penelitian UI Ungkap Lumut Epifit Efektif Jadi Bioindikator Lingkungan
Penelitian doktoral UI mengungkap lumut epifit berpotensi menjadi bioindikator kualitas lingkungan di kawasan urban yang terdampak polusi udara.
Dokter dan pasien. - Ilustrasi/Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA—Tim dokter dari Universitas Indonesia (UI) mengembangkan alat kedokteran berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) bernama NAVI-HF yang dirancang untuk mendeteksi tanda kongesti atau penumpukan cairan di paru-paru pada pasien gagal jantung. Inovasi ini diharapkan mampu membantu tenaga medis mengenali risiko perburukan kondisi pasien secara lebih objektif sebelum mereka dipulangkan dari rumah sakit.
Penelitian tersebut dipimpin Dokter Spesialis Jantung sekaligus Subspesialis Konsultan Kardiovaskular Intervensi dan Konsultan Kedokteran Vaskular, Dr. dr. Rony Marethianto Santoso, Sp.JP, Subsp. K. I. (K), FIHA, yang memanfaatkan teknologi AI untuk menganalisis suara dari rongga dada pasien.
Analisis Suara Dada dengan Bantuan AI
Dalam temu media di Jakarta, Selasa, Rony menjelaskan NAVI-HF bekerja dengan merekam suara dada dari lima titik pada area toraks. Selanjutnya, data tersebut diproses menggunakan algoritma kecerdasan buatan untuk mendeteksi kemungkinan adanya kongesti paru.
Pengembangan alat ini telah diuji terhadap 246 pasien gagal jantung akut sebelum mereka dipulangkan dari rumah sakit.
"Jadi untuk pasien kami ambil yang berusia di atas 18 tahun, kita masukkan ke dalam subjek penelitian. Tapi ternyata, didapati bahwa rata-rata pasien kita itu (yang gagal jantung) umurnya 50 tahun sekian," kata Rony.
Hasil penelitian menunjukkan NAVI-HF memiliki tingkat akurasi sebesar 86 persen, sensitivitas 91 persen, dan spesifisitas 82 persen.
"Model akhir alat itu menunjukkan kemampuan yang baik dalam mendeteksi kongesti paru dibandingkan dengan ultrasonografi paru sebagai referensi standar," ujar Rony.
Membantu Mengidentifikasi Risiko Pasien
Rony menjelaskan pasien yang memperoleh hasil positif dari pemeriksaan NAVI-HF umumnya memiliki kondisi klinis yang lebih berat. Mereka juga cenderung mengalami gangguan struktur dan fungsi jantung yang lebih serius serta kadar NT-proBNP yang lebih tinggi.
Seluruh peserta penelitian dipantau selama enam bulan setelah keluar dari rumah sakit. Pemantauan dilakukan karena pasien dengan hasil positif memiliki risiko lebih besar mengalami perburukan gagal jantung, termasuk harus menjalani perawatan ulang atau bahkan meninggal dunia.
"Temuan ini menunjukkan bahwa NAVI-HF berpotensi tidak hanya membantu mendeteksi kongesti paru, tetapi juga membantu mengidentifikasi pasien yang membutuhkan pemantauan lebih ketat setelah pulang dari rumah sakit," ucap dia.
Dikembangkan karena Keterbatasan Metode Konvensional
Menurut Rony, inovasi tersebut lahir dari kebutuhan mendeteksi penumpukan cairan di paru lebih awal. Selama ini, pasien gagal jantung kerap kembali dirawat akibat kongesti yang muncul sebelum gejala klinis terlihat jelas.
Ia menilai pemeriksaan seperti ultrasonografi paru maupun tes darah NT-proBNP belum selalu tersedia di seluruh fasilitas kesehatan karena membutuhkan peralatan khusus. Di sisi lain, pemeriksaan menggunakan stetoskop konvensional belum tentu mampu mengenali tanda awal penumpukan cairan secara akurat.
Karena itu, NAVI-HF diharapkan menjadi solusi yang dapat membantu tenaga kesehatan mengidentifikasi pasien berisiko tinggi sebelum dipulangkan dari rumah sakit.
Meski masih memerlukan tahapan pengembangan lebih lanjut, Rony berharap alat tersebut nantinya dapat mendukung deteksi dini gagal jantung, penyusunan terapi yang lebih tepat, pemantauan pasien secara lebih intensif, hingga pengembangan sistem pemantauan gagal jantung berbasis rumah sakit.
Bagian dari Penelitian Doktoral FKUI
Penelitian NAVI-HF merupakan bagian dari disertasi doktoral yang disusun di bawah bimbingan Prof. Dr. dr. Bambang Budi Siswanto, Sp.JP(K), FESC, FACC, FAPSC sebagai promotor.
Sementara ko-promotor penelitian terdiri atas Prof. Dr. dr. Amiliana Mardiani Soesanto, Sp.JP(K), FIHA dan Prof. Dr. Eng. Wisnu Jatmiko, S.T., M.Kom.
Tim penguji dipimpin Prof. Dr. dr. Suhendro, Sp.PD, Subsp.P.T.I.(K) dengan anggota Prof. Em. Ser Wee, PhD, Dr. dr. Aria Kekalih, MTI, Sp.KKLP, MKK, dan Dr. dr. Nuri Dyah Indrasari, Sp.PK(K). Disertasi tersebut dipresentasikan di IMERI FKUI pada 14 Juli 2026.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Penelitian doktoral UI mengungkap lumut epifit berpotensi menjadi bioindikator kualitas lingkungan di kawasan urban yang terdampak polusi udara.
Cek jadwal KRL Jogja-Solo Kamis 16 Juli 2026. Tarif tetap Rp8.000 dengan keberangkatan dari Jogja mulai pukul 05.05 WIB hingga 22.35 WIB.
KPK menyambut positif pembentukan tim penyidik Kejagung untuk menangani kasus Febrie Adriansyah yang kini masih berstatus saksi.
KPPU telah memutus enam perkara persaingan usaha hingga Juni 2026 dengan total denda Rp767 miliar. Enam perkara lainnya masih diproses.
BKPM mengungkap lelang pengembangan sistem OSS senilai Rp26,46 miliar gagal karena tidak ada penyedia yang sanggup menyelesaikan proyek.
Polres Bantul menangkap dua pelaku pembobolan toko kelontong di Jambidan berbekal rekaman CCTV dan sidik jari. Kerugian korban mencapai Rp12,5 juta.