Xi Jinping Bertemu Modi, Tegaskan China-India adalah Mitra
Xi Jinping menyebut China dan India sebagai mitra yang saling menghadirkan peluang, bukan ancaman, saat bertemu Narendra Modi di KTT BRICS.
Dokter dan pasien. - Ilustrasi/Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA—Tim dokter dari Universitas Indonesia (UI) mengembangkan alat kedokteran berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) bernama NAVI-HF yang dirancang untuk mendeteksi tanda kongesti atau penumpukan cairan di paru-paru pada pasien gagal jantung. Inovasi ini diharapkan mampu membantu tenaga medis mengenali risiko perburukan kondisi pasien secara lebih objektif sebelum mereka dipulangkan dari rumah sakit.
Penelitian tersebut dipimpin Dokter Spesialis Jantung sekaligus Subspesialis Konsultan Kardiovaskular Intervensi dan Konsultan Kedokteran Vaskular, Dr. dr. Rony Marethianto Santoso, Sp.JP, Subsp. K. I. (K), FIHA, yang memanfaatkan teknologi AI untuk menganalisis suara dari rongga dada pasien.
Analisis Suara Dada dengan Bantuan AI
Dalam temu media di Jakarta, Selasa, Rony menjelaskan NAVI-HF bekerja dengan merekam suara dada dari lima titik pada area toraks. Selanjutnya, data tersebut diproses menggunakan algoritma kecerdasan buatan untuk mendeteksi kemungkinan adanya kongesti paru.
Pengembangan alat ini telah diuji terhadap 246 pasien gagal jantung akut sebelum mereka dipulangkan dari rumah sakit.
"Jadi untuk pasien kami ambil yang berusia di atas 18 tahun, kita masukkan ke dalam subjek penelitian. Tapi ternyata, didapati bahwa rata-rata pasien kita itu (yang gagal jantung) umurnya 50 tahun sekian," kata Rony.
Hasil penelitian menunjukkan NAVI-HF memiliki tingkat akurasi sebesar 86 persen, sensitivitas 91 persen, dan spesifisitas 82 persen.
"Model akhir alat itu menunjukkan kemampuan yang baik dalam mendeteksi kongesti paru dibandingkan dengan ultrasonografi paru sebagai referensi standar," ujar Rony.
Membantu Mengidentifikasi Risiko Pasien
Rony menjelaskan pasien yang memperoleh hasil positif dari pemeriksaan NAVI-HF umumnya memiliki kondisi klinis yang lebih berat. Mereka juga cenderung mengalami gangguan struktur dan fungsi jantung yang lebih serius serta kadar NT-proBNP yang lebih tinggi.
Seluruh peserta penelitian dipantau selama enam bulan setelah keluar dari rumah sakit. Pemantauan dilakukan karena pasien dengan hasil positif memiliki risiko lebih besar mengalami perburukan gagal jantung, termasuk harus menjalani perawatan ulang atau bahkan meninggal dunia.
"Temuan ini menunjukkan bahwa NAVI-HF berpotensi tidak hanya membantu mendeteksi kongesti paru, tetapi juga membantu mengidentifikasi pasien yang membutuhkan pemantauan lebih ketat setelah pulang dari rumah sakit," ucap dia.
Dikembangkan karena Keterbatasan Metode Konvensional
Menurut Rony, inovasi tersebut lahir dari kebutuhan mendeteksi penumpukan cairan di paru lebih awal. Selama ini, pasien gagal jantung kerap kembali dirawat akibat kongesti yang muncul sebelum gejala klinis terlihat jelas.
Ia menilai pemeriksaan seperti ultrasonografi paru maupun tes darah NT-proBNP belum selalu tersedia di seluruh fasilitas kesehatan karena membutuhkan peralatan khusus. Di sisi lain, pemeriksaan menggunakan stetoskop konvensional belum tentu mampu mengenali tanda awal penumpukan cairan secara akurat.
Karena itu, NAVI-HF diharapkan menjadi solusi yang dapat membantu tenaga kesehatan mengidentifikasi pasien berisiko tinggi sebelum dipulangkan dari rumah sakit.
Meski masih memerlukan tahapan pengembangan lebih lanjut, Rony berharap alat tersebut nantinya dapat mendukung deteksi dini gagal jantung, penyusunan terapi yang lebih tepat, pemantauan pasien secara lebih intensif, hingga pengembangan sistem pemantauan gagal jantung berbasis rumah sakit.
Bagian dari Penelitian Doktoral FKUI
Penelitian NAVI-HF merupakan bagian dari disertasi doktoral yang disusun di bawah bimbingan Prof. Dr. dr. Bambang Budi Siswanto, Sp.JP(K), FESC, FACC, FAPSC sebagai promotor.
Sementara ko-promotor penelitian terdiri atas Prof. Dr. dr. Amiliana Mardiani Soesanto, Sp.JP(K), FIHA dan Prof. Dr. Eng. Wisnu Jatmiko, S.T., M.Kom.
Tim penguji dipimpin Prof. Dr. dr. Suhendro, Sp.PD, Subsp.P.T.I.(K) dengan anggota Prof. Em. Ser Wee, PhD, Dr. dr. Aria Kekalih, MTI, Sp.KKLP, MKK, dan Dr. dr. Nuri Dyah Indrasari, Sp.PK(K). Disertasi tersebut dipresentasikan di IMERI FKUI pada 14 Juli 2026.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Xi Jinping menyebut China dan India sebagai mitra yang saling menghadirkan peluang, bukan ancaman, saat bertemu Narendra Modi di KTT BRICS.
Kelok 23 Kretek–Girijati mulai uji coba 14 September 2026. Simak jam operasional dan jenis kendaraan yang boleh melintas.
PKB DIY mulai menyiapkan mesin organisasi menuju Pemilu 2029 dengan memperkuat struktur, infrastruktur pemenangan, dan branding partai.
103 orang dievakuasi dari Kapal Virgo Transport 8 yang hilang kontak di Laut Jawa. Sebanyak 140 orang masih dalam pencarian SAR.
Jelang World Rabies Day, Mirjawal mengingatkan pentingnya mencuci luka dan segera ke fasilitas kesehatan setelah gigitan atau cakaran hewan.
Virgo Transport 8 rute Surabaya-Banjarmasin hilang kontak di Laut Jawa. Kapal sempat melaporkan cuaca buruk dan kondisi miring.