Prabowo Panggil Kapolri dan Jaksa Agung, Ini Alasannya
Presiden Prabowo memanggil Jaksa Agung, Kapolri, dan Menhan untuk menerima laporan serta menjaga stabilitas di tengah perkembangan kasus hukum.
Konsultan senior onkologi medis di Park Cancer Centre (PCC), Singapura, Konsultan senior onkologi medis di Park Cancer Centre (PCC), Singapura, Dr Ang Peng Tiam mengatakan perempuan yang terkena kanker serviks tak berarti mendapat vonis mati. mengatakan perempuan yang terkena kanker serviks tak berarti mendapat vonis mati./Istimewa
Harianjogja.com, JAKARTA - Perempuan yang terkena kanker serviks tak berarti mendapat vonis mati. Hal itu diungkapkan Konsultan senior onkologi medis di Park Cancer Centre (PCC), Singapura, Dr Ang Peng Tiam.
Perempuan yang terkena kanker serviks masih bisa menjalani berbagai pengobatan tergantung stadium kankernya.
Dalam sebuah wawancara di Jakarta, Jumat (29/3/2019), Ang menuturkan peluang pulih semakin tinggi jika kanker terdeteksi dini. Saat stadium awal, pasien kanker berpeluang pulih hingga 80 persen.Namun, jika sudah memasuki tahap lanjut, angka kepulihan turun menjadi 25 persen.
Sebenarnya, jauh sebelum kanker terjadi, perempuan sebenarnya sudah bisa melakukan tindakan pencegahan, yakni vaksinasi HPV. Badan Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan perempuan berusia 9-13 tahun dan belum aktif melakukan hubungan seksual menjalani vaksinasi ini.
Ang tidak menyarankan bayi baru lahir menjalani vaksinasi HPV, karena belum ada studi yang membuktikan tindakan ini berdampak positif sama seperti pada perempuan berusia 11-12 tahun.
Vaksin HPV memang bisa menurunkan risiko seseorang terkena kanker serviks, tetapi bukan jaminan dia lolos 100 persen dari infeksi.
Di sinilah pentingnya deteksi dini sebagai pilar kedua setelah pencegahan. Perempuan yang sudah aktif melakukan hubungan seksual bisa menjalani pap smear sekali hingga dua kali dalam setahun.
"Prosedurnya sangat aman, tetapi kurang dari 10 persen orang perempuan melakukan pap smear rutin. Sisanya tidak pernah melakukannya. Untuk mereka yang sudah aktif berhubungan seksual, sudah menjadi ibu, manfaat vaksin tidak lagi besar. Mereka masih bisa berpeluang tidak meninggal dan mengembangkan kanker serviks dengan melakukan pap smear," papar Ang.
Menurut dia, prosedur pap smear bisa dilakukan sebelum atau sesudah siklus menstruasi. Prosedur ini sangat sederhana, hanya menggunakan spatula kecil dan tidak menyakitkan.
"Untuk mendeteksi dini dan jika ada (kanker) bisa langsung diobati. Jika bisa diobati dalam tahap itu, pasien masih bisa punya anak. Berbeda jika perempuan sudah terkena kanker serviks. Dia juga harus menjalani berbagai macam pengobatan," kata dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Presiden Prabowo memanggil Jaksa Agung, Kapolri, dan Menhan untuk menerima laporan serta menjaga stabilitas di tengah perkembangan kasus hukum.
Umbulharjo menjadi percontohan pengelolaan sampah organik di Jogja. Warga dilatih mengolah sisa dapur dengan metode Losida Vermicompos.
Psikolog menegaskan perlindungan anak harus melibatkan keluarga, sekolah, masyarakat, dan pemerintah agar anak tidak menjadi korban kesalahan orang dewasa.
UAD menjatuhkan sanksi pemberhentian tetap kepada mahasiswa ACR terkait kasus kekerasan seksual saat KKN berdasarkan rekomendasi Satgas PPKPT.
Workshop P4GN di Kelurahan Gowongan mengajak warga mengenali gejala awal penyalahgunaan narkoba agar penanganan dan pemulihan bisa dilakukan lebih cepat.
Jadwal KRL Solo-Jogja Kamis 16 Juli 2026 lengkap dari Palur hingga Jogja. Tarif tetap Rp8.000 dengan 12 perjalanan setiap hari.