Profil Gus Rozin Bangun BPRS untuk UMKM di Sekitar Pesantren
Gus Rozin merintis BPRS di Pati sejak 2005 untuk memperluas akses modal UMKM dan memperkuat ekosistem ekonomi syariah pesantren.
Ilustrasi gula buatan/phicisiandaily
Harianjogja.com, JAKARTA—Anda suka minuman manis dalam kemasan? Waspadai pemanis buatan di dalamnya.
Pemanis buatan atau fruktosa dalam minuman bisa memicu seseorang mengonsumsi lebih banyak makanan berkalori, menurut sebuah studi dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences.
Dalam studi itu, para peneliti memberikan pemanis yang mengandung fruktosa sekitar 75 gram pada 24 orang partisipan. Lalu di hari berikutnya, peneliti memberikan glukosa dalam jumlah yang sama pada minuman partisipan.
Selama studi, para peneliti juga meminta partisipan mengukur seberapa lapar mereka dan berapa banyak ingin mengonsumsi makanan saat diperlihatkan foto-foto makanan seperti permen, kue, pizza dan burger.
Setelah mengonsumsi fruktosa, partisipan dilaporkan merasa lebih lapar dan berkeinginan lebih besar mengonsumsi makanan yang diperlihatkan dalam foto dibandingkan saat mereka mengonsumsi glukosa.
"Tak seperti glukosa, fruktosa gagal menstimulasi hormon seperti insulin, yang berperan memberikan sinyal kenyang pada otak. Oleh karena itu, setelah mengonsumsi fruktosa, otak tak menerima sinyal kenyang," ungkap penulis studi sekaligus asisten professor kedokteran klinis dari University of Southern California, Dr. Kathleen A. Page.
Di samping itu, para peneliti juga menemukan level insulin para partisipan lebih rendah secara signifikan setelah mengonsumsi fruktosa, dibandingkan glukosa. Hal inilah yang bisa menjelaskan terjadinya perbedaan respon partisipan terhadap makanan.
Fruktosa dan glukosa memiliki kandungan kalori yang sama. Namun, masing-masing dimetabolisme oleh tubuh secara berbeda. Glukosa digunakan untuk menghasilkan energy bagi tubuh termasuk otak dan merupakan komponen gula utama dalam darah seperti dilansir LiveScience.
Sementara fruktosa dimetabolisme oleh hati dan sangat sedikit yang beredar dalam darah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara
Gus Rozin merintis BPRS di Pati sejak 2005 untuk memperluas akses modal UMKM dan memperkuat ekosistem ekonomi syariah pesantren.
Komnas HAM membentuk tim proyustisia untuk menyelidiki dugaan pelanggaran HAM berat dalam Peristiwa Kuda Tuli 27 Juli 1996.
DPT Pilur Gunungkidul ditetapkan 120.887 pemilih. Coblosan serentak di 31 kalurahan digelar 26 September 2026.
Presiden Prabowo dijadwalkan menutup Muktamar ke-35 NU di Jombang pada Senin (31/8/2026), sekaligus menerima KTA NU.
Kasus pneumonia di Pontianak meningkat 10-20 persen seiring memburuknya kualitas udara akibat kabut asap karhutla.
Dies Natalis ke-42 ISI Jogja ditutup pesta rakyat dua hari dengan jathilan, ketoprak, karawitan, hingga heavy metal.