Kemenkes Perkuat Imunisasi HPV, 22.000 Perempuan Meninggal Tiap Tahun

Newswire
Newswire Sabtu, 31 Oktober 2026 14:07 WIB
Kemenkes Perkuat Imunisasi HPV, 22.000 Perempuan Meninggal Tiap Tahun

Ilustrasi vaksinasi - Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA—Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memperkuat upaya pencegahan kanker akibat infeksi Human Papillomavirus (HPV) melalui program imunisasi dan pemeriksaan medis. Langkah ini dilakukan untuk menekan risiko kanker serviks yang setiap tahun menyebabkan sekitar 22.000 perempuan di Indonesia meninggal dunia.

Program imunisasi HPV menyasar anak perempuan dan laki-laki berusia 10-11 tahun. Sementara itu, program pengawasan kanker serviks ditujukan kepada perempuan dewasa mulai usia 30 tahun.

Berdasarkan pendataan imunisasi, cakupan vaksinasi HPV pada anak perempuan kelas 5 SD mencapai 83,5%. Adapun cakupan pada anak laki-laki kelas 5 SD tercatat sebesar 88% di DKI Jakarta, DI Jogja, dan Bali.

Besarnya angka kematian akibat kanker serviks menunjukkan pentingnya pencegahan dan deteksi dini infeksi HPV. Masyarakat juga perlu memahami karakteristik virus tersebut, mulai dari cara penularan, gejala, hingga risiko komplikasi yang dapat ditimbulkan.

Apa Itu Virus HPV dan Bagaimana Penularannya?

Human Papillomavirus atau HPV merupakan kelompok virus yang dapat memengaruhi sejumlah bagian tubuh, termasuk area kelamin. Terdapat sekitar 100 jenis HPV, sementara sebanyak 14 juta orang tercatat mengalami infeksi HPV setiap tahun.

Sebagian jenis HPV memiliki risiko tinggi karena dapat memicu kanker. Beberapa jenis kanker yang berkaitan dengan infeksi virus ini antara lain kanker rahim, serviks, dan vulva.

Penularan HPV umumnya terjadi melalui kontak tubuh saat berhubungan seksual. Seseorang dapat terinfeksi apabila area tubuh atau kelaminnya mengalami kontak dengan orang yang membawa virus tersebut.

Infeksi HPV yang menyerang area kelamin umumnya tidak menimbulkan gejala. Namun, pada sebagian kasus, infeksi dapat menyebabkan pembengkakan atau kutil yang dapat muncul di area tubuh maupun kelamin.

Gejala tersebut tidak selalu muncul segera setelah seseorang terinfeksi. Pembengkakan dapat terlihat beberapa minggu, bulan, bahkan tahun setelah paparan virus, terutama pada infeksi HPV berisiko rendah.

Risiko HPV terhadap Kanker Serviks

Infeksi HPV berisiko tinggi dapat berkembang menjadi kanker serviks apabila tidak terdeteksi dan ditangani. Risiko ini menjadi perhatian khusus bagi perempuan karena infeksi tersebut juga berkaitan dengan sejumlah jenis kanker lainnya.

Selain kanker serviks, infeksi HPV dapat menyebabkan komplikasi berupa kanker anal, tenggorokan, vagina, dan vulva. Karena itu, pemeriksaan medis diperlukan untuk membantu mendeteksi perubahan atau kelainan sejak dini.

Sementara itu, laki-laki juga dapat mengalami infeksi HPV dan menunjukkan gejala berupa pembengkakan atau kutil. Namun, dalam naskah sumber disebutkan bahwa risiko komplikasi pada laki-laki cenderung lebih rendah dan umumnya tidak berkembang menjadi penyakit kronis.

Cara Mencegah Infeksi HPV

Infeksi HPV tidak memiliki pengobatan yang dapat menghilangkan virus secara langsung. Meski demikian, risiko infeksi dan dampak kesehatannya dapat ditekan melalui vaksinasi serta pemeriksaan medis secara berkala.

World Health Organization (WHO) melaporkan lebih dari 95% kasus kanker serviks disebabkan oleh infeksi HPV. Oleh karena itu, vaksinasi menjadi salah satu langkah penting untuk mencegah kanker yang berkaitan dengan virus tersebut.

WHO memprioritaskan pemberian vaksin HPV kepada anak perempuan berusia 9-14 tahun. Vaksinasi dianjurkan sebelum seseorang aktif secara seksual agar perlindungan dapat terbentuk sebelum kemungkinan terpapar infeksi HPV.

Melalui imunisasi, anak-anak diharapkan memperoleh perlindungan terhadap jenis HPV yang berisiko menimbulkan penyakit. Upaya ini menjadi bagian penting dari pencegahan kanker serviks dalam jangka panjang.

Meski sudah mendapatkan vaksinasi, perempuan tetap perlu menjalani pemeriksaan kanker serviks. Pemeriksaan medis diperlukan sebagai langkah deteksi dan pemantauan dini sehingga perubahan kondisi kesehatan dapat diketahui lebih awal.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online