Waspadai, Makanan Ultra-Proses Bisa Tingkatkan Risiko Cedera Pembuluh Otak

Newswire
Newswire Selasa, 27 Oktober 2026 23:17 WIB
Waspadai, Makanan Ultra-Proses Bisa Tingkatkan Risiko Cedera Pembuluh Otak

Ilustrasi junk food/Magnific

Harianjogja.com, JAKARTA—Konsumsi makanan ultra-proses atau ultra-processed food (UPF) dalam jumlah tinggi dikaitkan dengan peningkatan risiko cedera pembuluh darah otak. Penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal JAMA Network Open, sebagaimana dilaporkan Medical News Today, menemukan tanda-tanda kerusakan tersebut bahkan pada orang dewasa yang tampak relatif sehat.

Perubahan pada otak terdeteksi melalui pemindaian sebelum seseorang menunjukkan gangguan daya ingat maupun kemampuan kognitif. Temuan ini menambah perhatian terhadap dampak pola makan tinggi makanan ultra-proses terhadap kesehatan otak dan pembuluh darah.

Penelitian yang melibatkan 8.783 orang dewasa berusia 35–69 tahun di Kanada itu menunjukkan peserta dengan konsumsi UPF tertinggi memiliki kemungkinan 40% lebih besar mengalami tanda cedera vaskular di otak dibandingkan kelompok dengan konsumsi terendah.

“Salah satu kemungkinannya adalah pola makan yang lebih tinggi makanan UPF berkontribusi pada faktor risiko seperti kelebihan lemak tubuh, lemak viseral, tekanan darah tinggi, diabetes, dan kondisi kardiometabolik lainnya yang dapat memengaruhi pembuluh darah di seluruh tubuh, termasuk yang memasok otak,” jelas Associate Professor Russell de Souza, ScD, RD, dikutip dari Medical News Today.

Dua Penanda Cedera Pembuluh Darah Otak

Dalam penelitian tersebut, para peneliti mengamati dua penanda, yakni white matter hyperintensities dan silent brain infarcts. Keduanya digunakan untuk melihat perubahan pada otak yang dapat berkaitan dengan gangguan pembuluh darah.

White matter hyperintensities merupakan titik-titik putih terang yang terlihat pada hasil pemeriksaan MRI otak. Jumlahnya kerap dikaitkan dengan peningkatan risiko strok dan penurunan fungsi kognitif.

Sementara itu, silent brain infarcts atau silent stroke merupakan kerusakan jaringan otak akibat terganggunya aliran darah, yang dapat menyebabkan kerusakan atau kematian sel-sel otak. Berbeda dengan strok yang menimbulkan gejala klinis, silent stroke dapat terjadi tanpa gejala yang jelas sehingga penderitanya sering tidak menyadari kondisi tersebut.

Hubungan antara kedua penanda tersebut dan konsumsi UPF terlihat lebih kuat pada perempuan. Peserta perempuan dengan konsumsi makanan ultra-proses tertinggi memiliki kemungkinan hampir dua kali lipat menunjukkan tanda cedera otak dibandingkan kelompok dengan konsumsi terendah.

Temuan ini menunjukkan adanya hubungan antara konsumsi UPF dan tanda cedera vaskular otak. Namun, hubungan tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa makanan ultra-proses secara langsung menyebabkan kerusakan otak.

Konsumsi UPF Juga Dikaitkan dengan Masalah Kesehatan Lain

Makanan ultra-proses merupakan produk yang dibuat melalui pengolahan industri secara ekstensif. Jenisnya beragam, mulai dari minuman kemasan, makanan ringan dalam kemasan, daging olahan hingga berbagai makanan siap saji.

Penelitian yang dilaporkan dalam jurnal The BMJ mengaitkan konsumsi UPF yang tinggi dengan 32 dampak buruk bagi kesehatan. Dampak yang dilaporkan mencakup penyakit kardiovaskular, diabetes tipe 2, kanker, serta gangguan kesehatan mental.

Medical News Today juga melaporkan bahwa peserta dengan konsumsi UPF tinggi cenderung memiliki lebih banyak lemak tubuh dan lemak viseral. Lemak viseral merupakan lemak yang menumpuk di sekitar organ-organ dalam.

Kelebihan lemak viseral berkaitan dengan gangguan metabolik dan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular. Tekanan darah tinggi dan diabetes juga dapat memengaruhi pembuluh darah yang memasok oksigen serta nutrisi ke otak.

Selain itu, peserta yang mengonsumsi lebih banyak UPF cenderung makan lebih sedikit buah, sayuran, dan biji-bijian utuh. Karena itu, kualitas pola makan secara keseluruhan juga perlu diperhatikan, bukan hanya jumlah makanan ultra-proses yang dikonsumsi.

Cara Menjaga Kesehatan Pembuluh Darah dan Otak

American Heart Association (AHA), melalui panduan pola makan untuk menjaga kesehatan kardiovaskular, menganjurkan konsumsi makanan yang minim proses, memperbanyak sayur dan buah, memilih biji-bijian utuh, serta membatasi gula tambahan dan natrium.

Langkah tersebut penting karena kesehatan pembuluh darah turut berperan dalam menjaga fungsi otak. Memperbaiki kualitas pola makan dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan jantung, pembuluh darah, dan otak dalam jangka panjang.

Temuan penelitian mengenai UPF menjadi pengingat bahwa pola makan sehari-hari perlu diperhatikan. Mengutamakan makanan minim proses dan beragam sumber pangan bergizi dapat membantu mendukung kesehatan secara menyeluruh.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online