Bukan Cuma PHK, Ini yang Berubah di Pasar Kerja Teknologi akibat AI

Jumali
Jumali Rabu, 23 September 2026 21:57 WIB
Bukan Cuma PHK, Ini yang Berubah di Pasar Kerja Teknologi akibat AI

Ilustrasi PHK buruh/magnific

Harianjogja.com, JOGJA— Pasar tenaga kerja global tengah mengalami perubahan seiring perusahaan teknologi dan sejumlah industri berbasis pengetahuan melakukan efisiensi, restrukturisasi, dan penyesuaian jumlah pekerja.

Posisi yang selama beberapa tahun identik dengan gaji tinggi dan permintaan besar, terutama di industri teknologi, kini menghadapi pasar kerja yang lebih ketat. Kondisi tersebut terlihat dari meningkatnya pengangguran di sektor teknologi Amerika Serikat serta pengurangan tenaga kerja di sejumlah perusahaan besar.

Data yang dianalisis firma konsultan Janco Associates berdasarkan data Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat menunjukkan tingkat pengangguran di pasar kerja teknologi informasi naik menjadi 3,8% pada April 2026, dari 3,6% pada Maret. Pada periode yang sama, sektor informasi di AS kehilangan 13.000 pekerjaan.

Di balik perubahan tersebut terdapat beberapa faktor, mulai dari ketidakpastian ekonomi dan tekanan biaya hingga meningkatnya penggunaan kecerdasan artifisial (AI).

Teknologi Hadapi Gelombang Efisiensi

Selama periode pertumbuhan pesat industri teknologi, profesi seperti software engineer, data scientist, dan product manager menjadi incaran perusahaan. Permintaan terhadap talenta digital meningkat seiring perusahaan berlomba mengembangkan produk berbasis teknologi.

Situasinya berubah ketika perusahaan mulai mengutamakan efisiensi dan pengendalian biaya.

Salah satu indikatornya terlihat pada data Departemen Tenaga Kerja AS. Lapangan kerja di sektor informasi telah berkurang 342.000 posisi atau sekitar 11% sejak mencapai puncaknya pada November 2022. Sektor informasi dalam statistik tersebut mencakup antara lain telekomunikasi serta layanan komputasi, pemrosesan data, web hosting, dan layanan terkait.

Namun, penurunan tersebut tidak dapat seluruhnya dikaitkan dengan AI. Data ketenagakerjaan tersebut mencerminkan perubahan bersih jumlah pekerjaan, yang merupakan hasil dari kombinasi perekrutan dan pengurangan tenaga kerja.

Meta, Nike, dan Snap Kurangi Karyawan

Sejumlah perusahaan besar memberikan gambaran mengenai perubahan tersebut.

Meta pada April 2026 mengumumkan rencana memangkas sekitar 8.000 pekerja atau 10% dari tenaga kerjanya. Perusahaan juga membatalkan pengisian sekitar 6.000 posisi yang sebelumnya direncanakan. Langkah tersebut dikaitkan dengan upaya meningkatkan efisiensi sekaligus membiayai investasi besar perusahaan di bidang AI.

Di sektor olahraga, Nike mengumumkan pengurangan sekitar 1.400 posisi di Global Operations. Mayoritas posisi yang terdampak berada di bidang teknologi. Nike menyebut perubahan tersebut sebagai bagian dari upaya membuat organisasi lebih ramping, sederhana, dan efisien.

Sementara itu, Snap mengumumkan perubahan organisasi yang berdampak terhadap sekitar 1.000 pekerja atau 16% dari karyawan penuh waktu. Perusahaan juga menutup lebih dari 300 posisi yang sebelumnya masih terbuka. Dalam memo kepada karyawan, CEO Evan Spiegel menyebut kemajuan AI memungkinkan tim mengurangi pekerjaan berulang dan bekerja lebih cepat.

Rangkaian kebijakan tersebut menunjukkan bahwa AI mulai menjadi salah satu pertimbangan dalam keputusan tenaga kerja. Namun, alasan setiap perusahaan tidak identik dan juga mencakup target profitabilitas, restrukturisasi organisasi, kondisi bisnis, serta pengendalian biaya.

Bukan Hanya AI

Perubahan pasar kerja teknologi tidak semata-mata terjadi karena AI.

Janco Associates, yang analisisnya dikutip Wall Street Journal, menyebut ketidakpastian ekonomi juga membuat perusahaan menahan perekrutan pekerja IT. Pada April, ekonomi AS secara keseluruhan masih mencatat tambahan 115.000 pekerjaan dan tingkat pengangguran nasional bertahan di 4,3%. Namun, sektor informasi justru kehilangan 13.000 pekerjaan.

Kondisi tersebut menunjukkan adanya perbedaan antara pasar kerja secara keseluruhan dan industri teknologi. Perusahaan dapat tetap membutuhkan tenaga dengan keterampilan tertentu, tetapi pada saat yang sama mengurangi posisi lain yang dianggap tidak lagi menjadi prioritas.

Perubahan ini juga terjadi ketika perusahaan meningkatkan investasi pada teknologi AI. Dengan otomatisasi dan perangkat AI, sebagian pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan tim lebih besar dapat dikerjakan dengan proses yang berbeda.

Meski demikian, belum ada dasar untuk menyimpulkan bahwa AI telah menggantikan seluruh pekerjaan tertentu secara massal. Data ketenagakerjaan yang tersedia menunjukkan adanya penurunan pekerjaan dan perubahan pola perekrutan, sementara dampak langsung AI masih menjadi persoalan yang terus diteliti.

Pekerja Kerah Putih Ikut Menghadapi Perubahan

Perubahan tersebut membuat kelompok pekerja kerah putih dengan keterampilan tinggi ikut menghadapi tekanan.

Pekerjaan yang melibatkan tugas rutin dan dapat dibantu otomatisasi menjadi salah satu area yang paling banyak dibicarakan dalam perkembangan AI generatif. Pemrograman, dukungan teknologi informasi, analisis data, riset, dan sejumlah pekerjaan administratif mulai mengalami perubahan cara kerja akibat penggunaan perangkat AI.

Pada saat yang sama, perusahaan tetap membutuhkan pekerja dengan kemampuan yang sulit diotomatisasi, seperti pengambilan keputusan, pemecahan masalah kompleks, pengelolaan risiko, komunikasi, dan kemampuan mengintegrasikan teknologi dengan kebutuhan bisnis.

Dengan demikian, perubahan yang terjadi lebih tepat dilihat sebagai pergeseran kebutuhan keterampilan daripada sekadar hilangnya pekerjaan.

Tekanan Finansial bagi Pekerja Bergaji Tinggi

Pemutusan hubungan kerja juga dapat memberikan tekanan finansial yang berbeda bagi pekerja dengan pendapatan tinggi.

Pekerja yang sebelumnya memperoleh gaji besar biasanya memiliki pengeluaran yang menyesuaikan pendapatan, mulai dari cicilan rumah, kendaraan, biaya pendidikan, hingga berbagai kebutuhan rumah tangga.

Ketika kehilangan pekerjaan, penurunan pendapatan dapat membuat struktur pengeluaran tersebut sulit disesuaikan dalam waktu singkat. Masa pencarian pekerjaan baru juga dapat menjadi tantangan, terutama bagi pekerja senior yang mencari posisi dengan tingkat tanggung jawab dan kompensasi serupa.

Karena itu, perubahan pasar kerja mendorong sebagian profesional untuk memperbarui keterampilan, memperluas bidang pekerjaan yang dibidik, atau menyesuaikan ekspektasi kompensasi.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa pekerjaan bergaji tinggi di sektor teknologi dan industri berbasis pengetahuan tidak lagi otomatis identik dengan keamanan karier. Perusahaan kini semakin mempertimbangkan produktivitas, efisiensi, kemampuan teknologi, dan kebutuhan bisnis ketika menentukan jumlah serta jenis tenaga kerja yang mereka perlukan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online