Dokter Imbau Jangan Mandi Hujan saat Hujan Pertama Pascakarhutla

Newswire
Newswire Minggu, 08 November 2026 11:47 WIB
Dokter Imbau Jangan Mandi Hujan saat Hujan Pertama Pascakarhutla

Foto ilustrasi hujan ringan. - Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA—Masyarakat di wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) diminta tidak langsung mandi hujan ketika hujan pertama turun setelah musim kemarau panjang. Air hujan pada awal periode tersebut berpotensi membawa polutan, termasuk partikel halus dan gas berbahaya dari kebakaran.

Peringatan ini terutama ditujukan kepada orang tua agar melindungi anak-anak. Sebab, anak-anak termasuk kelompok paling rentan terhadap dampak paparan polusi udara dan partikel berbahaya.

Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. Khairiyadi, Sp.A, Subsp.Respi.(K), M.Kes, mengingatkan masyarakat agar mewaspadai hujan pertama setelah karhutla. Perhatian khusus juga perlu diberikan terhadap air hujan yang ditampung untuk kebutuhan sehari-hari.

“Pada kawasan karhutla, tidak disarankan mandi hujan karena ada gas yang bereaksi dengan air, terutama kalau kebakaran parah, jangan mandi hujan pada hujan pertama,” kata Khairiyadi dalam seminar daring oleh IDAI pada Selasa (3/11/2026).

Hujan Pertama Membawa Polutan Karhutla

Khairiyadi menjelaskan hujan pertama yang turun setelah kebakaran berperan membersihkan polutan di udara. Dalam proses tersebut, sisa partikel maupun gas beracun dari kebakaran dapat terbawa turun bersama air hujan hingga ke permukaan tanah.

Karena itu, masyarakat disarankan menunggu beberapa kali hujan deras sebelum melakukan aktivitas mandi hujan.

“Setelah beberapa kali hujan atau tiga kali hujan deras, baru boleh mandi hujan. Saya lihat pada hujan pertama, gembira sekali mandi hujan, padahal ini bahaya,” tambah Khairiyadi.

Imbauan tersebut menjadi perhatian penting bagi orang tua, terutama untuk mencegah anak-anak bermain atau mandi hujan ketika hujan pertama turun. Masyarakat juga perlu lebih berhati-hati terhadap paparan asap yang masih mungkin terjadi setelah kebakaran.

Penelitian Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan kebakaran hutan dapat memengaruhi karakteristik kimiawi air hujan dan kualitas udara. Dampak tersebut berkaitan dengan meningkatnya partikel berukuran sangat kecil yang berbahaya bagi kesehatan tubuh.

BMKG Kalimantan Barat juga menjelaskan partikel debu, asap, jelaga, dan partikulat halus dari karhutla berpotensi terbawa tetesan hujan. Risiko ini terutama perlu diperhatikan pada hujan awal setelah periode udara tercemar.

Partikel PM2.5 dari Karhutla Perlu Diwaspadai

Dalam seminar tersebut, Khairiyadi memaparkan komposisi polutan dari karhutla dan erupsi gunung berapi memiliki sejumlah kesamaan, termasuk partikel PM2.5 dan PM10. Namun, dia menilai PM2.5 yang berasal dari karhutla dapat lebih berbahaya dibandingkan partikulat dari letusan gunung berapi.

Salah satu faktor yang perlu diperhatikan adalah karakteristik kebakaran lahan gambut. Kebakaran jenis ini tidak hanya menghanguskan vegetasi di permukaan, tetapi juga dapat terus membara di bawah tanah selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan.

Kondisi tersebut memungkinkan asap terus dihasilkan dalam waktu lama sehingga memperpanjang paparan polusi bagi masyarakat di sekitar wilayah terdampak.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan partikel PM2.5 berukuran sangat kecil sehingga dapat masuk jauh ke dalam paru-paru, bahkan mencapai aliran darah.

Paparan asap dapat memicu iritasi mata dan saluran pernapasan, memperburuk asma, serta meningkatkan risiko gangguan kesehatan lainnya. Anak-anak menjadi salah satu kelompok paling rentan karena saluran pernapasan mereka masih dalam tahap perkembangan.

Air Hujan Pertama Sebaiknya Tidak Ditampung

Selain menghindari mandi hujan, masyarakat di wilayah terdampak karhutla juga diimbau tidak menampung air hujan pertama untuk kebutuhan sehari-hari.

Dilansir dari Departemen Kesehatan Australia Barat, air hujan yang ditampung selama atau setelah kebakaran berpotensi terkontaminasi abu, asap, puing, bakteri, maupun bahan pemadam kebakaran.

Apabila terdapat risiko kontaminasi, masyarakat disarankan tidak menggunakan air dari tangki penampungan untuk minum, memasak, mandi, ataupun menyikat gigi sampai keamanannya dapat dipastikan.

Masyarakat di wilayah terdampak karhutla juga perlu mengikuti informasi kualitas udara dan rekomendasi pemerintah setempat. Kualitas air hujan yang ditampung sebaiknya diperiksa sebelum digunakan, terutama apabila tangki penampungan terkena abu dan puing sisa kebakaran.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Bisnis.com

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online