Kulit Lansia Lebih Rentan Sinar Matahari, Ini Penyebabnya

Newswire
Newswire Minggu, 08 November 2026 19:07 WIB
Kulit Lansia Lebih Rentan Sinar Matahari, Ini Penyebabnya

Kulit gatal-gatal. - Foto ilustrasi Freepik

Harianjogja.com, JAKARTA—Kulit menjadi lebih rentan mengalami kerusakan akibat paparan sinar matahari seiring bertambahnya usia. Kondisi ini berkaitan dengan penipisan lapisan kulit, berkurangnya produksi kolagen, serta melambatnya kemampuan tubuh memperbaiki sel yang rusak.

Perubahan tersebut membuat orang lanjut usia lebih mudah mengalami dampak paparan sinar ultraviolet (UV). Kerusakan yang terakumulasi dalam jangka panjang bahkan dapat meningkatkan risiko kanker kulit.

Dikutip dari Health, Senin (9/11), dokter spesialis kulit sekaligus profesor klinis di University of Miami, Katlein Franca, menjelaskan lapisan epidermis dan dermis semakin menipis seiring proses penuaan.

Kondisi itu diikuti penurunan kolagen, protein yang berperan menjaga struktur dan elastisitas kulit. Akibatnya, kemampuan kulit mempertahankan perlindungan alaminya ikut berkurang.

Regenerasi Kulit Melambat Seiring Bertambahnya Usia

Selain perubahan struktur, proses pergantian sel kulit juga berlangsung lebih lambat. Penurunan proses tersebut bahkan dapat mencapai setengahnya antara usia 30-an dan 70-an.

Dampaknya, kulit membutuhkan waktu lebih panjang untuk memperbaiki kerusakan yang terjadi akibat paparan sinar matahari.

Perlindungan alami terhadap sinar UV juga berkurang karena jumlah melanosit semakin menurun. Melanosit merupakan sel yang menghasilkan melanin atau pigmen pemberi warna kulit.

Dokter spesialis kulit Tanya Nino dari Providence Health and Services menambahkan perubahan hormon, terutama ketika menopause, dapat memperburuk kondisi kulit.

Penurunan hormon estrogen selama menopause dapat mengurangi produksi kolagen sekaligus melemahkan lapisan pelindung kulit. Kondisi tersebut membuat sel kulit lebih rentan mengalami kerusakan akibat paparan matahari.

Obat-obatan Tertentu Bisa Meningkatkan Sensitivitas

Faktor lain yang dapat membuat kulit lebih sensitif terhadap sinar matahari adalah penggunaan obat-obatan tertentu. Kondisi ini dikenal sebagai fotosensitivitas, yakni reaksi kulit yang lebih mudah muncul setelah terpapar sinar matahari.

Reaksinya dapat berupa ruam atau gejala yang menyerupai kulit terbakar. Beberapa obat yang berpotensi memicu kondisi tersebut meliputi antibiotik tertentu, obat diuretik, obat penurun kolesterol, retinoid, serta obat antiinflamasi nonsteroid.

Dokter spesialis kulit Debra Jaliman dari Mount Sinai menyarankan seseorang berkonsultasi dengan dokter apabila mengalami reaksi kulit yang tidak biasa setelah terpapar matahari.

Cara Melindungi Kulit dari Paparan Sinar UV

Paparan sinar ultraviolet yang berulang selama bertahun-tahun dapat menyebabkan kerusakan kulit dan meningkatkan risiko kanker kulit. Karena itu, perlindungan terhadap sinar matahari tetap diperlukan, terutama ketika kemampuan alami kulit menghadapi paparan UV mulai menurun.

Dokter menyarankan penggunaan tabir surya berspektrum luas dengan SPF minimal 30. Pemakaiannya perlu diulang setiap dua jam agar perlindungan tetap terjaga.

Perlindungan juga dapat diperkuat dengan mengenakan topi bertepi lebar, kacamata hitam, serta pakaian yang menutupi kulit.

Selain itu, masyarakat disarankan membatasi aktivitas di bawah paparan matahari langsung pada pukul 10.00 hingga 16.00. Pada rentang waktu tersebut, intensitas sinar ultraviolet umumnya berada pada tingkat paling kuat.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online