Tak Selalu Aman Minuman Ini Dikaitkan dengan Gangguan Detak Jantung
Minuman pemanis buatan ternyata dikaitkan dengan risiko detak jantung tidak teratur hingga 20 persen.
Foto ilustrasi sayuran. - Magnific
Harianjogja.com, JAKARTA—Wanita pascamenopause yang lebih banyak mengonsumsi makanan nabati berpotensi memiliki risiko penyakit kardiovaskular lebih rendah. Temuan tersebut terlihat pada penelitian terhadap hampir 67.000 wanita yang mengikuti pola makan Planetary Health Diet.
Penelitian yang dipresentasikan dalam pertemuan tahunan American Society for Nutrition itu melibatkan wanita pascamenopause berusia sekitar 63 tahun yang tidak memiliki penyakit kardiovaskular ketika penelitian dimulai.
Menu Harian
Para peneliti menggunakan kuesioner untuk menilai tingkat kesesuaian pola makan peserta dengan Planetary Health Diet. Pola makan tersebut mengutamakan bahan pangan nabati, tetapi tidak sepenuhnya menghilangkan makanan yang berasal dari hewan.
Peserta yang mengikuti pola tersebut dianjurkan memperbanyak buah, sayuran, biji-bijian utuh, kacang-kacangan, dan kacang pohon (nuts).
Ikan, unggas, produk susu, telur, serta lemak tak jenuh masih dapat dikonsumsi dalam jumlah kecil. Sebaliknya, konsumsi daging merah, daging olahan, biji-bijian olahan, dan gula tambahan dibatasi.
Donya Shahamati, MS, mahasiswa doktoral di UC Irvine’s Joe C. Wen School of Population & Public Health sekaligus penulis utama penelitian, mengatakan pola tersebut memiliki kemiripan dengan diet Mediterania.
Keduanya sama-sama menempatkan buah, sayuran, dan lemak sehat sebagai bagian penting menu. Namun, Planetary Health Diet memiliki perhatian khusus terhadap dampak lingkungan sehingga pembatasan daging merah dibuat lebih ketat.
Risiko Kardiovaskular
Para peneliti kemudian mengikuti kondisi kesehatan peserta selama sekitar 20 tahun. Hasilnya, kelompok wanita yang pola makannya paling mendekati Planetary Health Diet memiliki risiko penyakit kardiovaskular 28% lebih rendah dibandingkan kelompok dengan pola makan yang paling jauh dari diet tersebut.
Penurunan risiko itu mencakup sejumlah penyakit, termasuk stroke, gagal jantung, dan penyakit jantung koroner.
Peserta tidak harus menjalankan pola makan tersebut secara sempurna. Tingkat kepatuhan sedang juga sudah dikaitkan dengan risiko kardiovaskular yang lebih rendah.
Hasil penelitian tetap terlihat setelah memperhitungkan sejumlah faktor lain yang berkaitan dengan kesehatan jantung, seperti aktivitas fisik, BMI (Indeks Massa Tubuh), dan jumlah asupan kalori.
Sejalan Penelitian
Penelitian ini belum menguji secara khusus mekanisme Planetary Health Diet dalam menjaga kesehatan jantung. Namun, hasilnya dinilai sejalan dengan penelitian sebelumnya mengenai pola makan berbasis nabati.
Pola makan tersebut telah dikaitkan dengan perbaikan beberapa faktor risiko penyakit jantung, termasuk kolesterol, tekanan darah, dan peradangan.
Sarah Glinski, RD, ahli gizi terdaftar sekaligus penulis kesehatan asal Kanada, mengatakan temuan tersebut memperkuat hubungan antara pola makan yang didominasi bahan nabati dan tingkat penyakit jantung yang lebih rendah.
“Pola makan yang didominasi bahan nabati berkaitan dengan tingkat penyakit jantung yang lebih rendah,” kata Glinski kepada Health.
Meski demikian, hasil penelitian belum sepenuhnya final. Temuan tersebut baru dipresentasikan dalam konferensi dan belum diterbitkan pada jurnal yang ditelaah sejawat (peer-reviewed).
Data yang digunakan juga berasal dari laporan mandiri peserta sehingga masih memiliki kemungkinan bias. Penelitian tersebut pun belum membuktikan bahwa Planetary Health Diet lebih unggul dibandingkan pola makan berbasis nabati lainnya, termasuk diet Mediterania dan DASH.
Pilihan Diet
Matt Kerr, RD, manajer dietetik di Strive Health, menilai pola makan yang memperbanyak serat dan lemak sehat serta mengurangi garam dan lemak jenuh tetap dapat membantu menjaga kesehatan jantung.
“Saat merekomendasikan diet, saya akan menganggap diet ini sebagai opsi yang kuat, tetapi bukan satu-satunya pilihan,” kata Kerr kepada Health, Minggu (23/8/2026).
Dengan demikian, Planetary Health Diet dapat menjadi salah satu pilihan, bukan satu-satunya pola makan yang dapat diterapkan untuk menjaga kesehatan jantung.
Pola makan tersebut juga dikaitkan dengan manfaat kesehatan lain. Studi besar pada 2024 menghubungkan Planetary Health Diet dengan kesehatan jantung yang lebih baik serta risiko kematian yang lebih rendah akibat kanker, penyakit pernapasan, dan penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer.
Glinski menilai pola tersebut memiliki kelebihan karena masih memberi ruang bagi konsumsi produk hewani dalam jumlah terbatas. Selain itu, pola makan tersebut dirancang dengan mempertimbangkan manfaat bagi lingkungan.
Tidak Perlu Drastis
Orang yang tertarik mencoba Planetary Health Diet tidak harus langsung mengubah seluruh pola makan. Shahamati menyarankan perubahan dilakukan secara bertahap dan realistis.
Contohnya, sarapan dapat diganti dengan oatmeal daripada sereal. Mentega dapat diganti minyak zaitun, sementara konsumsi daging dapat dikurangi dengan menetapkan satu hari tanpa daging dalam sepekan.
“Orang-orang tidak perlu makan dengan sempurna untuk mendapatkan manfaatnya,” tambahnya. “Mulailah dari hal kecil daripada mencoba mengubah semuanya sekaligus.”
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Health
Minuman pemanis buatan ternyata dikaitkan dengan risiko detak jantung tidak teratur hingga 20 persen.
An Se-young meraih gelar juara dunia 2026 setelah mengalahkan Akane Yamaguchi tanpa kehilangan satu gim di New Delhi.
Di Klaten ada Kampung Dolanan Sidowayah yang kini menghadirkan permainan tradisional, edukasi sains, siklus air, dan penjernihan air.
Sekitar 30 anak Magelang memamerkan 46 karya lukisan dalam Ruang Khayal Anak #1 di Loka Budaya hingga 27 Agustus 2026.
Hari pertama Cherrypop 2026 di Candi Prambanan menyatukan beragam genre, menghadirkan musisi “mitos”, pop Jawa, hingga musisi Jepang.
Studi terhadap hampir 67.000 wanita pascamenopause menemukan Planetary Health Diet dikaitkan dengan risiko kardiovaskular 28% lebih rendah.