Sering Kesemutan? Dokter Jelaskan Gejala Gangguan Saraf Tepi

Newswire
Newswire Kamis, 20 Agustus 2026 11:07 WIB
Sering Kesemutan? Dokter Jelaskan Gejala Gangguan Saraf Tepi

Ilustrasi kaki./Freepik

Harianjogja.com, TANGERANG—Kesemutan dan baal yang muncul pada tubuh tidak selalu merupakan keluhan ringan. Dokter spesialis anestesiologi dan terapi intensif Siloam Hospitals, dr. Andreas Willianto, mengatakan gangguan saraf tepi biasanya diawali dengan gejala seperti baal, kesemutan, rasa seperti tersetrum, kelemahan, hingga gangguan gerak.

Keluhan tersebut dapat muncul pada area leher, bahu, lengan, tangan, maupun tungkai. Gangguan pada bahu dan lengan, misalnya, dapat berkaitan dengan cedera saraf akibat trauma, gangguan pada pleksus brakialis, penjepitan saraf, nyeri saraf kronis, maupun tumor saraf tepi.

"Keluhan pada saraf tepi memerlukan pemeriksaan menyeluruh untuk menemukan cedera saraf. Sebab gangguan saraf tepi dapat memengaruhi kemampuan seseorang untuk beraktivitas dan hidup mandiri," kata dr. Andreas Willianto di Tangerang, Kamis.

Mengenal Fungsi Saraf Tepi

Saraf tepi merupakan jaringan saraf yang menghubungkan otak dan sumsum tulang belakang dengan berbagai bagian tubuh. Jaringan tersebut berperan membawa sensasi sentuhan, panas, dingin, dan nyeri, sekaligus meneruskan perintah tubuh untuk bergerak.

"Bila saraf mengalami tekanan atau cedera, penghantaran sinyal tersebut dapat terganggu," ujarnya.

Gangguan pada saraf tepi karena itu dapat memengaruhi fungsi gerak maupun kemampuan seseorang menjalankan aktivitas sehari-hari. Pemeriksaan menyeluruh diperlukan untuk mengetahui adanya cedera atau gangguan pada jaringan saraf tersebut.

Penanganan Bisa Melalui Bedah Saraf Tepi

Kepala Staf Medik Fungsional Neuroscience Siloam Hospitals dr. Ferry Senjaya mengatakan salah satu pilihan penanganan gangguan saraf tepi adalah Peripheral Nerve Surgery atau bedah saraf tepi.

Prosedur tersebut berupa operasi untuk memperbaiki, melepaskan, menyambungkan, atau mengalihkan saraf yang mengalami kerusakan di luar otak dan sumsum tulang belakang.

"Pada kondisi tertentu, saraf dapat diperbaiki melalui operasi mikro dengan menyambungkan kembali ujung saraf, menggunakan nerve graft/conduit dan melakukan neurolysis untuk membebaskan saraf yang terjepit," katanya.

Penanganan gangguan saraf tepi tidak hanya dilakukan melalui tindakan operasi. Pasien juga dapat menjalani rehabilitasi medik untuk mempertahankan kemampuan yang masih baik sekaligus melatih kembali fungsi yang mengalami penurunan.

Pemulihan Saraf Memerlukan Evaluasi Berkala

Dokter spesialis kedokteran fisik & rehabilitasi, dr Theresia D. Arini, mengatakan rehabilitasi medik bagi pasien yang mengalami gangguan saraf tepi mencakup sejumlah kegiatan.

Program tersebut meliputi latihan gerak, penguatan, pengelolaan nyeri, serta latihan aktivitas sehari-hari. Lama latihan ditentukan berdasarkan jenis gangguan, tindakan yang dijalani, dan perkembangan pasien.

"Pemulihan saraf tidak selalu berlangsung cepat. Karena itu, sasaran rehabilitasi disesuaikan dengan kondisi pasien dan dievaluasi secara berkala. Fokusnya dapat berubah, mulai dari mengatasi keluhan nyeri, menjaga kekuatan otot dan fleksibilitas sendi hingga memperbaiki postur dan mencapai kemandirian," katanya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online