Rahasia di Balik Gerakan Tubuh, 5 Tanda Seseorang Sedang Berbohong

Jumali
Jumali Sabtu, 18 Juli 2026 12:57 WIB
Rahasia di Balik Gerakan Tubuh, 5 Tanda Seseorang Sedang Berbohong

Ilustrasi berbohong./Freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Saat berbicara dengan seseorang, kita cenderung lebih fokus pada kata-kata yang diucapkan. Padahal, di balik setiap kalimat yang keluar dari mulut lawan bicara, ada "pesan rahasia" yang tersembunyi dalam gerakan tubuh.

Bahasa tubuh sering kali memberikan petunjuk penting tentang apa yang sebenarnya dirasakan atau disembunyikan seseorang—bahkan ketika kata-kata mereka mengatakan hal yang sebaliknya. Namun, para psikolog mengingatkan bahwa tidak ada satu pun gerakan tubuh yang bisa dijadikan bukti pasti seseorang sedang berbohong. Bahasa tubuh sebaiknya dipahami sebagai petunjuk yang perlu dilihat bersama konteks, situasi, dan pola perilaku seseorang secara keseluruhan.

Pernahkah Anda merasa ada yang "aneh" dari lawan bicara, tetapi tidak bisa menjelaskannya secara rasional? Mungkin itu adalah bahasa tubuh yang berbicara lebih keras daripada kata-kata. Mengenali tanda-tanda ini tidak hanya berguna dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga bisa menjadi keterampilan berharga dalam hubungan personal, dunia kerja, hingga negosiasi bisnis.

Berikut adalah lima gerakan tubuh yang kerap dikaitkan dengan kebohongan, lengkap dengan penjelasan ilmiah dan konteks penggunaannya.

1. Pola Bicara yang Berubah: Saat Suara Berbohong

Salah satu tanda yang sering diperhatikan adalah perubahan pada cara seseorang berbicara. Nada suara bisa berubah, jeda bicara menjadi lebih panjang, atau ritme berbicara terasa tidak seperti biasanya. Mantan profiler kriminal FBI, Gregg McCrary, yang dikutip Forensics Colleges, menjelaskan bahwa suara maupun gerak-gerik seseorang dapat berubah ketika mereka tidak mengatakan hal yang sebenarnya. Perubahan ini sering kali tidak disadari oleh pembicara, tetapi justru sangat terasa oleh pendengar yang jeli.

Karena itu, dalam proses wawancara, penyelidik biasanya terlebih dahulu mengajukan pertanyaan sederhana, seperti nama atau tempat tinggal, untuk mengetahui pola komunikasi normal seseorang. Perubahan yang muncul saat menjawab pertanyaan tertentu kemudian dapat menjadi petunjuk adanya ketidakjujuran. Misalnya, seseorang yang biasanya berbicara lancar tiba-tiba terbata-bata atau sering mengulang kata saat ditanya tentang alibi mereka.

2. Ucapan Tidak Selaras dengan Gerakan Tubuh: Konflik Batin yang Terlihat

Ketidaksesuaian antara ucapan dan bahasa tubuh juga kerap menjadi sinyal yang perlu diperhatikan. Misalnya, seseorang mengatakan "iya", tetapi secara bersamaan menggelengkan kepala. Gerakan yang saling bertolak belakang seperti ini dapat menunjukkan adanya konflik antara apa yang diucapkan dan apa yang sebenarnya dirasakan. Psikolog klinis dari Center for Anxiety and Related Disorders, Boston University, menyebut ketidakselarasan antara ucapan dan gerakan tubuh bisa menjadi indikasi bahwa seseorang sedang menyembunyikan sesuatu. Namun, tanda ini tetap perlu dipadukan dengan pengamatan lain, bukan dijadikan kesimpulan tunggal.

Contoh lain yang umum terjadi adalah ketika seseorang mengatakan "saya baik-baik saja" sambil menyilangkan tangan di dada dan menghindari kontak mata. Kombinasi ini sering kali menunjukkan bahwa kondisi mereka sebenarnya tidak baik-baik saja, tetapi mereka memilih untuk tidak mengatakannya secara langsung.

3. Isyarat Wajah yang Sulit Disembunyikan

Wajah sering kali menampilkan ekspresi yang sulit dikendalikan secara sadar. Beberapa isyarat yang kerap dikaitkan dengan kebohongan antara lain mata yang terlalu sering berkedip, menyipitkan mata, menggigit bibir, memalingkan wajah, atau justru menatap lawan bicara terlalu intens. Penelitian dari University of California, Los Angeles (UCLA) juga menemukan bahwa saat menghadapi pertanyaan sensitif atau ketika berusaha menyembunyikan sesuatu, seseorang dapat secara refleks mengerutkan atau mengatupkan bibir. Gerakan mikro ini sering kali tidak disadari oleh pelaku, tetapi sangat terlihat oleh pengamat yang teliti.

Meski begitu, isyarat-isyarat tersebut juga bisa muncul karena gugup, cemas, atau merasa tidak nyaman dalam situasi tertentu. Seorang yang sedang wawancara kerja, misalnya, mungkin menunjukkan tanda-tanda yang sama tanpa harus berbohong. Oleh karena itu, penting untuk membaca tanda-tanda ini dalam konteks yang lebih luas.

4. Senyum yang Terasa Tidak Alami

Ekspresi wajah yang tampak dipaksakan juga dapat menjadi petunjuk lain. Senyum yang hanya melibatkan bibir tanpa diikuti perubahan pada area mata sering dianggap sebagai senyum yang kurang tulus. Begitu pula dengan senyum yang bertahan terlalu lama atau muncul pada momen yang kurang tepat. Dalam psikologi, senyum yang tulus umumnya melibatkan otot di sekitar mata (yang dikenal sebagai otot orbicularis oculi) sehingga wajah tampak lebih alami dan hangat. Sebaliknya, senyum yang dibuat-buat cenderung hanya terlihat pada bagian mulut dan terasa kaku.

Perhatikan perbedaan antara senyum saat seseorang benar-benar bahagia dan senyum saat mereka dipaksa untuk bersikap sopan. Perbedaan ini bisa menjadi petunjuk berharga untuk membaca emosi yang sebenarnya.

5. Sering Menyentuh Hidung: Refleks atau Kebohongan?

Menyentuh hidung berulang kali juga sering dikaitkan dengan kebohongan. Sejumlah ahli menjelaskan bahwa saat seseorang mengalami tekanan mental atau berpikir keras, aliran darah ke area wajah dapat meningkat sehingga memicu sensasi gatal di hidung. Akibatnya, orang tersebut secara refleks menyentuh atau mengusap hidungnya. Namun, perlu diingat bahwa kebiasaan ini juga bisa dipicu oleh alergi, kulit yang gatal, atau kebiasaan sehari-hari sehingga tidak selalu berarti seseorang sedang berbohong.

Di sinilah pentingnya membaca konteks: jika seseorang tiba-tiba sering menyentuh hidung saat menjawab pertanyaan tertentu, tetapi tidak melakukannya saat topik lain, maka ada kemungkinan ketidaknyamanan atau ketidakjujuran sedang terjadi. Tapi jika mereka melakukannya sepanjang waktu, mungkin itu hanya kebiasaan atau masalah kesehatan.

Memahami bahasa tubuh adalah keterampilan yang sangat berharga, tetapi juga memerlukan kehati-hatian. Tidak ada satu pun gerakan tubuh yang bisa dijadikan bukti mutlak adanya kebohongan. Bahasa tubuh adalah petunjuk, bukan vonis. Kombinasikan pengamatan Anda dengan konteks situasi, pola perilaku normal orang tersebut, dan informasi lain yang Anda miliki. Dengan latihan dan kesadaran, Anda bisa menjadi pendengar yang lebih baik—bukan hanya mendengar kata-kata, tetapi juga membaca pesan yang tersembunyi di balik gerakan tubuh. Dan ingat, keterampilan ini bukan untuk menuduh, melainkan untuk memahami.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online