Netflix Kehilangan Potensi Rp628 Triliun Usai Kebijakan Baru

Jumali
Jumali Sabtu, 18 Juli 2026 08:07 WIB
Netflix Kehilangan Potensi Rp628 Triliun Usai Kebijakan Baru

Ilustrasi. /Freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Netflix menghadapi tekanan besar dari pasar modal setelah sahamnya merosot lebih dari 10% pada perdagangan Jumat (17/7/2026) waktu Amerika Serikat. Penurunan tajam tersebut berpotensi menghapus lebih dari US$35 miliar atau sekitar Rp628 triliun dari nilai kapitalisasi pasar perusahaan.

Sebelum pelemahan terjadi, kapitalisasi pasar Netflix berada di kisaran US$313 miliar atau sekitar Rp5.616 triliun. Namun serangkaian pengumuman terbaru perusahaan memicu kekhawatiran investor mengenai prospek pertumbuhan bisnis ke depan.

Tekanan terbesar datang setelah Netflix memberikan proyeksi pertumbuhan pendapatan yang lebih lambat untuk kuartal berikutnya. Di saat yang sama, perusahaan juga mengumumkan perubahan kebijakan pelaporan data penonton yang dinilai mengurangi transparansi terhadap investor.

Mulai 2027, Netflix hanya akan mempublikasikan data jam tayang atau watch hours satu kali dalam setahun. Kebijakan tersebut berbeda dengan praktik sebelumnya yang dilakukan dua kali setiap tahun.

Keputusan itu memperpanjang tren berkurangnya keterbukaan informasi perusahaan. Tahun lalu, Netflix lebih dahulu menghentikan publikasi data jumlah pelanggan yang selama bertahun-tahun menjadi salah satu indikator utama pertumbuhan bisnis streaming.

Akibatnya, investor kini memiliki lebih sedikit alat ukur untuk menilai performa perusahaan, terutama ketika persaingan industri hiburan digital semakin ketat. Selain harus menghadapi platform streaming lain, Netflix juga berhadapan dengan dominasi YouTube yang terus memperkuat posisi di pasar video digital global.

Kepala Riset Teknologi Quilter Cheviot, Ben Barringer, menilai pasar biasanya merespons negatif ketika perusahaan mengurangi informasi yang tersedia bagi investor.

“Setiap kali Anda menghilangkan satu poin data dari investor ketika hasilnya tidak sebaik sebelumnya, Anda akan dihukum oleh pasar,” ujar Barringer, dikutip dari Reuters.

Kekhawatiran investor tidak hanya berkaitan dengan masalah transparansi. Pasar juga mempertanyakan sumber pertumbuhan baru Netflix setelah upaya mengakuisisi Warner Bros yang dilakukan awal tahun ini gagal terwujud.

Padahal, akuisisi tersebut sempat dipandang sebagai salah satu langkah strategis untuk memperkuat katalog konten sekaligus memperluas peluang bisnis perusahaan.

Di sisi lain, model layanan streaming berbasis iklan yang sebelumnya diharapkan menjadi mesin pertumbuhan baru juga dinilai belum menunjukkan perkembangan sesuai ekspektasi.

Beberapa analis menilai daya tarik katalog konten Netflix pada 2026 belum mampu menyamai kekuatan program-program besar yang dirilis tahun sebelumnya. Pada 2025, perusahaan sukses menarik perhatian pasar melalui musim terakhir serial Stranger Things dan Squid Game yang menjadi fenomena global.

Situasi tersebut membuat investor semakin mempertanyakan kemampuan Netflix mempertahankan laju pertumbuhan pendapatan dan keterlibatan pengguna dalam jangka panjang.

Data pasar menunjukkan tekanan terhadap saham Netflix sebenarnya telah berlangsung cukup lama. Sejak mencapai rekor tertinggi pada Juni 2025, harga saham perusahaan sudah turun sekitar 44%.

Sementara sepanjang 2026 saja, nilai saham Netflix telah terkoreksi lebih dari 20%.

Direktur Riset Forrester, Mike Proulx, menilai langkah perusahaan mengurangi keterbukaan data justru memperbesar spekulasi pasar terhadap kondisi bisnis yang sebenarnya.

“Menarik kembali laporan keterlibatan tepat pada saat keterlibatan menjadi sorotan memberikan kesan ‘tidak ada yang perlu dilihat di sini’,” katanya.

Keterlibatan pengguna menjadi faktor yang sangat diperhatikan karena saham Netflix selama ini diperdagangkan dengan valuasi premium dibandingkan banyak perusahaan media lain.

Saat ini valuasi Netflix tercatat hampir 20 kali proyeksi laba untuk 12 bulan ke depan. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan Walt Disney yang berada di kisaran 13,5 kali dan Comcast sekitar 6,6 kali.

Meski pasar bereaksi negatif, sebagian analis masih melihat peluang pemulihan. Sedikitnya 18 analis memangkas target harga saham Netflix setelah perusahaan merilis proyeksi pendapatan dan laba yang berada di bawah ekspektasi Wall Street.

Namun demikian, target harga median para analis masih berada sekitar 40% di atas posisi harga penutupan saham Netflix pada perdagangan Kamis sebelumnya. Hal itu menunjukkan sebagian pelaku pasar masih percaya perusahaan memiliki ruang untuk bangkit meski sedang menghadapi tekanan kepercayaan dari investor.

Kini perhatian pasar tertuju pada kemampuan Netflix membuktikan bahwa strategi bisnisnya masih mampu menghasilkan pertumbuhan berkelanjutan, meskipun perusahaan memilih semakin selektif dalam membuka data kinerja kepada publik.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online