Survei Pew: 48 Persen Penduduk Indonesia Percaya Sihir dan Kutukan

Jumali
Jumali Selasa, 02 Juni 2026 11:47 WIB
Survei Pew: 48 Persen Penduduk Indonesia Percaya Sihir dan Kutukan

Ilustrasi/Freepik

Harianjogja.com, JOGJA—Hampir setengah dari penduduk dewasa di Indonesia masih mempercayai keberadaan sihir, kutukan, dan praktik meramal masa depan. Fakta ini diungkap oleh lembaga riset terkemuka asal Amerika Serikat, Pew Research Center, dalam survei global yang melibatkan 35 negara.

Berdasarkan data yang dikutip oleh akun analis Seasia Stats, Selasa (2/6/2026), Indonesia menempati peringkat ketujuh di Asia dengan tingkat kepercayaan sebesar 48 persen. Angka ini berarti nyaris separuh dari total responden di Indonesia meyakini bahwa mantra, kutukan, atau sihir memiliki kekuatan nyata yang dapat memengaruhi kehidupan seseorang.

Di atas Indonesia terdapat India dan Thailand yang masing-masing mencatat 49 persen, serta Bangladesh di bawahnya dengan 43 persen.

Sementara itu, negara-negara Asia Tenggara lainnya justru mencatat angka lebih tinggi. Malaysia berada di posisi pertama dengan 61 persen, disusul Filipina 55 persen, serta Singapura dan Turki yang sama-sama berada di angka 52 persen.

Di sisi lain, negara maju seperti Jepang dan Korea Selatan berada di posisi terbawah dengan tingkat kepercayaan masing-masing hanya 20 persen dan 25 persen.

Kontras Kepercayaan di Indonesia

Terdapat fenomena menarik dalam hasil riset ini terkait Indonesia. Meskipun tingkat kepercayaan terhadap sihir dan kutukan cukup tinggi (48 persen), minat masyarakat terhadap praktik meramal masa depan, seperti horoskop atau ramalan nasib, justru tercatat sangat rendah, yakni hanya 7 persen.

Hal ini menjadikan Indonesia salah satu negara dengan kontras kepercayaan paling tajam di dunia, di mana masyarakat lebih condong pada kekuatan gaib yang bersifat memengaruhi kehidupan daripada praktik prediksi masa depan.

Profil Penduduk yang Percaya pada Kekuatan Gaib

Penelitian Pew Research Center juga membedah karakteristik demografis masyarakat yang lebih condong percaya pada hal-hal mistis.

Di mana, kelompok wanita cenderung lebih percaya dibandingkan pria. Sedangkan individu yang lebih muda lebih banyak yang percaya dibandingkan kelompok usia tua.

Sedangkan individu yang rutin berdoa setiap hari memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk percaya bahwa sihir atau kutukan dapat memberikan pengaruh nyata pada kehidupan mereka.

Secara global, tingkat kepercayaan ini sangat bervariasi. Di kawasan Afrika Sub-Sahara, persentase kepercayaan ini sangat tinggi, dengan Ghana mencapai angka 87 persen. Sebaliknya, negara-negara di Eropa, Amerika Utara, Australia, dan Asia Timur menunjukkan tingkat kepercayaan yang cenderung rendah, umumnya di bawah sepertiga populasi.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online