127 Pelajar DIY Terima Beasiswa Mentari Lazismu UMY
Lazismu UMY menyalurkan Beasiswa Mentari kepada 127 pelajar DIY dengan total dana Rp79,315 juta. Pendaftaran Beasiswa Sang Surya dibuka 22 Juli 2026.
Ilustrasi pneumonia pada anak. - Freepik
Harianjogja.com, JAKARTA—Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan bahwa paparan polusi udara dapat berdampak langsung terhadap kesehatan sistem pernapasan anak, bahkan memicu penurunan fungsi paru meski anak terlihat sehat dan tetap menjalankan aktivitas sehari-hari.
Temuan tersebut disampaikan Anggota Unit Kerja Koordinasi Respirologi IDAI, dr. Cynthia Centauri, Sp.A., Subsp.Respi.(K), berdasarkan hasil penelitian yang dilakukannya pada 2024 terhadap anak-anak sekolah di wilayah Jakarta dengan tingkat polusi udara tinggi.
Penelitian Temukan 13,3 Persen Anak Mengalami Penurunan Fungsi Paru
Dalam seminar bertajuk "Dampak Polusi Udara pada Anak" yang diikuti secara daring dari Jakarta pada Selasa, Cynthia menjelaskan penelitian selama enam bulan itu menemukan 13,3 persen anak mengalami penurunan fungsi paru-paru berdasarkan hasil pemeriksaan spirometri.
Menariknya, anak-anak tersebut tidak menunjukkan gejala yang mencolok dan tetap menjalani aktivitas seperti biasa.
"Dari penelitian itu saya mendapatkan sebanyak 13,3 persen anak yang tampaknya sehat, tidak ada gangguan aktivitas, tidak sesak, bersekolah biasa, sudah ada penurunan fungsi paru," kata Cynthia.
Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa semakin tinggi kadar partikulat PM2.5 di lingkungan, semakin besar pula gangguan fungsi paru-paru yang terdeteksi melalui pemeriksaan spirometri untuk mengevaluasi fungsi paru.
Anak Lebih Rentan Terpapar Polusi Udara
Menurut Cynthia, anak memiliki risiko lebih tinggi mengalami dampak polusi udara dibandingkan orang dewasa karena mereka menghirup udara dua hingga tiga kali lebih banyak.
Di sisi lain, saluran pernapasan anak masih berada dalam tahap pertumbuhan sehingga kerusakan paru-paru akibat paparan polusi udara berpotensi menetap hingga usia dewasa.
Ia menjelaskan paparan polusi udara dapat terjadi baik ketika anak berada di luar maupun di dalam ruangan.
Sumber Polusi Berasal dari Luar dan Dalam Rumah
Saat berada di luar ruangan, anak dapat terpapar polusi akibat emisi kendaraan bermotor, pembakaran sampah, aktivitas industri, hingga kebakaran hutan.
Sementara di dalam ruangan, sumber polusi dapat berasal dari asap rokok, asap vape, debu, cat, pernis, lem, serta senyawa organik volatil atau Volatile Organic Compounds (VOC).
Selain itu, Cynthia menambahkan bahwa anak yang tinggal di sekitar jalan raya memiliki risiko lebih tinggi terkena dampak Traffic Related Air Pollution (TRAP) atau polusi udara yang berasal dari lalu lintas kendaraan.
Risiko Tidak Hanya pada Paru-Paru
Paparan polusi udara tidak hanya meningkatkan risiko gangguan pada sistem pernapasan, tetapi juga dapat memicu berbagai masalah kesehatan lainnya.
Menurut Cynthia, dampaknya meliputi infeksi saluran pernapasan, asma, bronkitis, penurunan fungsi paru-paru, hingga gangguan pada jantung, pembuluh darah, dan sistem saraf.
Cara Mengurangi Paparan Polusi pada Anak
Untuk meminimalkan dampak polusi udara terhadap kesehatan anak, Cynthia mengimbau masyarakat mengurangi berbagai sumber pencemar di lingkungan sekitar.
Ia menyarankan agar aktivitas membakar sampah serta merokok maupun menggunakan vape tidak dilakukan di dekat anak-anak.
Selain itu, anak sebaiknya tidak terlalu sering berada di kawasan dengan tingkat polusi udara tinggi dan menggunakan masker apabila diperlukan.
Sebagai langkah tambahan, penggunaan alat penyaring udara (air purifier) serta penanaman tumbuhan yang dapat membantu mengurangi polutan di lingkungan tempat tinggal juga dapat menjadi pilihan untuk menekan risiko paparan polusi udara terhadap kesehatan anak.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Lazismu UMY menyalurkan Beasiswa Mentari kepada 127 pelajar DIY dengan total dana Rp79,315 juta. Pendaftaran Beasiswa Sang Surya dibuka 22 Juli 2026.
Uni Eropa wajibkan kamera pemantau pengemudi (DMS) di mobil baru mulai 7 Juli 2026. Sistem ADDW deteksi distraksi dan kantuk. AEB canggih juga diwajibkan.
Pakar UGM mengingatkan bahaya heat stroke di tengah suhu panas ekstrem. Kondisi ini dapat merusak fungsi organ dan otak hingga berujung kematian jika terlambat
Cek jadwal KRL Jogja–Solo dari Tugu ke Palur. Simak jam keberangkatan lengkap dan imbauan penumpang.
Jadwal lengkap KRL Solo–Jogja dari Palur hingga Tugu. Simak jam keberangkatan terbaru dan imbauan KAI.
Veda Ega Pratama puas jadi tercepat di practice Moto3 Jerman (1'25.848), tetapi targetkan perbaikan. Bangkit dari posisi 23 di FP1. "Setelan motor lebih baik.