Ratusan Ribu Kondom Diduga Palsu Disita di Eropa

Jumali
Jumali Selasa, 07 Juli 2026 23:57 WIB
Ratusan Ribu Kondom Diduga Palsu Disita di Eropa

Ilustrasi kondom. /Reuters

Harianjogja.com, JOGJA— Otoritas Eropa menyita lebih dari 200.000 kondom yang diduga tidak memenuhi standar kesehatan Uni Eropa setelah produk tersebut masuk ke pasar dengan deklarasi sebagai mainan. Temuan ini menjadi perhatian karena produk yang beredar menggunakan nama dan logo sejumlah merek terkenal sehingga berpotensi mengecoh konsumen.

Penyitaan dilakukan dalam operasi bersama yang melibatkan aparat di Rumania, Serbia, dan Spanyol. Selain menyita barang bukti, penyelidikan juga mengarah pada jaringan distribusi lintas negara yang diduga berada di balik peredaran produk tersebut.

Di Uni Eropa, kondom dikategorikan sebagai alat medis yang wajib memenuhi berbagai persyaratan kesehatan dan keselamatan sebelum dipasarkan.

Proses pengujian mencakup pengendalian kontaminasi mikroba, biokompatibilitas material, ketahanan terhadap kebocoran, standar dimensi, masa simpan, serta stabilitas produk selama penggunaan.

Karena masuk dengan klasifikasi berbeda, produk yang disita diduga tidak melalui rangkaian pengujian yang diwajibkan bagi alat kesehatan.

Kepala badan anti-penipuan Eropa, Petr Klement, menegaskan risiko yang dapat ditimbulkan dari penggunaan produk yang tidak memenuhi standar tersebut.

"Kondom palsu berbahaya. Kondom tersebut tidak diuji, tidak terkontrol, dan tidak aman," kata Petr Klement dikutip dari Euronews, Selasa (7/7/2026).

Menurut otoritas setempat, penggunaan produk yang tidak memenuhi standar dapat meningkatkan risiko penularan infeksi menular seksual dan kehamilan yang tidak direncanakan apabila fungsi perlindungannya tidak bekerja sebagaimana mestinya.

Selain itu, terdapat potensi paparan bahan atau material yang belum melalui pengujian keamanan sebagaimana dipersyaratkan dalam regulasi Uni Eropa.

Dalam operasi tersebut, aparat menyita produk dengan nilai lebih dari 200.000 euro atau sekitar Rp4 miliar.

Penyelidikan juga melibatkan kerja sama dengan otoritas di Tiongkok untuk menelusuri jalur distribusi dan mengidentifikasi pihak eksportir yang terlibat.

Meski identitas eksportir telah diketahui penyidik, informasi tersebut belum diumumkan kepada publik karena proses investigasi masih berlangsung.

Kasus ini kembali menyoroti tantangan yang dihadapi otoritas Eropa dalam mengawasi peredaran produk palsu yang masuk melalui jalur perdagangan internasional.

Selain berdampak pada perlindungan konsumen, peredaran produk yang tidak memenuhi standar juga berpotensi mengganggu sistem pengawasan alat kesehatan yang selama ini diterapkan secara ketat di Uni Eropa.

Otoritas mengimbau masyarakat untuk membeli produk kesehatan melalui saluran distribusi resmi dan memperhatikan informasi pada kemasan guna mengurangi risiko memperoleh barang yang tidak memenuhi standar keamanan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online