APBN 2026: Subsidi Tembus Rp203,7 Triliun, Daya Beli Dijaga
Realisasi subsidi dan kompensasi APBN 2026 capai Rp203,7 triliun. Pemerintah jaga daya beli dan stabilitas harga.
Susu - Foto ilustrasi dibuat oleh AI/StockCake
Harianjogja.com, JAKARTA – Pemenuhan gizi anak sejak usia dini menjadi salah satu fondasi utama dalam mendukung tumbuh kembang yang optimal. Pada fase ini, orang tua semakin teliti dalam membaca label gizi produk, mulai dari kandungan karbohidrat, protein, lemak, vitamin, hingga mineral yang tercantum dalam kemasan.
Namun, perhatian terhadap komposisi nutrisi saja dinilai belum cukup. Cara sebuah produk diproses sebelum sampai ke tangan konsumen juga memiliki pengaruh besar terhadap kualitas gizi yang diterima anak.
Pada produk susu formula, misalnya, proses produksi umumnya melalui beberapa tahapan seperti pencampuran, pemanasan, homogenisasi, evaporasi, hingga pengeringan. Rangkaian proses ini bertujuan menjaga keamanan pangan dan memperpanjang daya simpan produk. Meski demikian, proses yang terlalu intensif berpotensi memengaruhi struktur alami beberapa zat gizi dalam susu.
Sebaliknya, susu segar yang diproses menjadi susu bubuk melalui metode yang lebih sederhana disebut dapat membantu mempertahankan kesegaran bahan baku serta menjaga kandungan gizi alaminya lebih optimal.
Kajian ilmiah menunjukkan bahwa pemanasan berulang dan proses pengolahan yang panjang dapat mengubah struktur protein serta komponen penting lain dalam susu. Dampaknya, hal ini bisa memengaruhi daya cerna dan efektivitas penyerapan zat gizi oleh tubuh anak.
Dokter gizi, Dr. Arif Sabta Aji, S.Gz, menegaskan bahwa kebiasaan orang tua dalam membaca label gizi merupakan langkah penting dalam memilih produk yang tepat. Namun, ia mengingatkan agar perhatian tidak hanya berhenti pada tabel nutrisi semata.
“Nama bahan yang tercantum di urutan pertama pada daftar komposisi mencerminkan kandungan utama dari produk tersebut,” ujarnya dikutip Sabtu (6/6/2026).
Ia menambahkan bahwa pemahaman terhadap komposisi dan proses produksi akan membantu orang tua mengambil keputusan yang lebih tepat dalam memilih asupan untuk anak.
Seiring perkembangan teknologi pangan, sejumlah inovasi kini mulai mengarah pada proses produksi yang lebih sederhana dan terkontrol. Pendekatan ini bertujuan menjaga kualitas bahan baku, meminimalkan perubahan protein, serta memastikan keamanan mikrobiologis produk tetap terjaga.
Proses produksi yang lebih singkat juga dinilai dapat membantu mempertahankan karakter alami susu, sehingga kualitas gizi lebih terjaga hingga produk siap dikonsumsi.
Meski demikian, para ahli tetap menegaskan bahwa Air Susu Ibu (ASI) merupakan pilihan terbaik untuk bayi, terutama pada usia 0–6 bulan pertama kehidupan. Susu formula hanya dianjurkan dalam kondisi tertentu dengan pengawasan tenaga kesehatan.
Orang tua pun diimbau untuk tidak hanya terpaku pada iklan atau klaim produk, tetapi juga aktif berkonsultasi dengan tenaga medis serta memahami komposisi secara menyeluruh sebelum memilih produk untuk anak. Dengan demikian, keputusan yang diambil dapat benar-benar mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Realisasi subsidi dan kompensasi APBN 2026 capai Rp203,7 triliun. Pemerintah jaga daya beli dan stabilitas harga.
Psikolog jelaskan sindrom pasca haji yang membuat jamaah merasa rindu dan sulit beradaptasi setelah pulang dari Tanah Suci.
Pemerintah RI memproyeksikan tarif AS ke produk Indonesia bisa mencapai 18% usai investigasi Section 301 Trade Act. Ini penjelasannya.
Dalam rangka memperingati hari jadinya yang ke-11 pada 6 Juni 2026, Burz@ Hotel Yogyakarta menyelenggarakan serangkaian kegiatan Corporate Social Responsibility
Cuaca ekstrem di Sumatera Utara merusak 20 rumah di Serdang Bedagai. BPBD mencatat sejumlah wilayah terdampak tanpa korban jiwa.
Kemenpar dorong wisata wellness sebagai strategi baru pariwisata Indonesia. Pasar global mencapai US$6,8 triliun dan terus tumbuh.