RFA Tiroid, Solusi Tanpa Operasi dan Bekas Luka

Newswire
Newswire Sabtu, 30 Mei 2026 15:07 WIB
RFA Tiroid, Solusi Tanpa Operasi dan Bekas Luka

Foto ilustrasi. /Ist-Freepik

Harianjogja.com, TANGERANG—Kabar baik bagi penderita benjolan tiroid. Kini, ada metode pengobatan modern tanpa operasi besar yang tidak meninggalkan bekas luka di leher, yakni radiofrequency ablation (RFA).

Konsultan Endokrinologi, Metabolik, dan Diabetes Eka Hospital MT Haryono, dr. Marshell Tendean, menjelaskan bahwa RFA merupakan prosedur minimal invasif untuk mengatasi nodul atau benjolan tiroid jinak.

“Metode ini menggunakan energi gelombang radio yang menghasilkan panas untuk menghancurkan sel-sel benjolan tanpa merusak jaringan sehat di sekitarnya,” ujarnya dalam keterangan resmi, Sabtu (30/5/2026)

Dalam prosedurnya, dokter akan memanfaatkan panduan USG secara real time untuk memasukkan jarum berukuran sangat kecil langsung ke pusat nodul. Energi panas dari ujung jarum tersebut kemudian bekerja mengecilkan jaringan benjolan secara bertahap.

Menurut Marshell, salah satu kekhawatiran terbesar pasien tiroid adalah bekas luka operasi yang terlihat jelas di leher. Hal ini kerap membuat banyak orang menunda pengobatan.

“RFA bisa menjadi solusi karena tidak meninggalkan bekas luka, tanpa rawat inap, dan fungsi kelenjar tiroid tetap terjaga,” katanya.

Dibandingkan operasi konvensional, metode ini dinilai memiliki sejumlah keunggulan, seperti risiko komplikasi yang lebih rendah serta waktu pemulihan yang lebih cepat. Pasien bahkan bisa kembali beraktivitas dalam waktu singkat setelah tindakan.

Meski demikian, tidak semua pasien dapat menjalani prosedur ini. RFA lebih direkomendasikan bagi penderita dengan nodul tiroid yang telah dipastikan jinak melalui biopsi dan pemeriksaan USG.

Selain itu, tindakan ini cocok bagi pasien yang mengalami gejala seperti sulit menelan, rasa mengganjal di leher, gangguan pernapasan, atau memiliki benjolan yang mengganggu penampilan.

RFA juga menjadi alternatif bagi pasien yang menolak operasi besar atau memiliki risiko tinggi jika menjalani anestesi total.

Marshell mengungkapkan tingkat keberhasilan metode ini tergolong tinggi. Volume benjolan dapat berkurang hingga 50-80 persen dalam beberapa bulan setelah tindakan dilakukan.

Namun, hasilnya tidak instan. Benjolan tidak langsung hilang setelah prosedur, melainkan mengecil secara bertahap seiring proses alami tubuh dalam menyerap jaringan yang telah dihancurkan.

“Biasanya dalam 1 hingga 3 bulan sudah terlihat perubahan, dan hasil maksimal dapat dicapai dalam 6 hingga 12 bulan,” jelasnya.

Ia menambahkan, risiko kambuh relatif rendah jika nodul telah dihancurkan secara optimal. Meski begitu, karena kelenjar tiroid tidak diangkat, kemungkinan munculnya nodul baru di area lain tetap ada.

Oleh karena itu, pasien disarankan untuk rutin melakukan kontrol dan pemeriksaan USG guna memantau kondisi tiroid dalam jangka panjang.

Dengan berbagai keunggulan yang ditawarkan, RFA menjadi salah satu inovasi medis yang memberikan harapan baru bagi penderita gangguan tiroid tanpa harus menjalani operasi besar.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Share

Abdul Hamied Razak
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online