Britney Spears Rilis Lagu yang Ditulis Bareng Justin Timberlake pada 2001
Britney Spears merilis lagu arsip She’ll Never Be Me yang ditulis bersama Justin Timberlake. Lagu ini masuk edisi 25 tahun album Britney.
Foto ilustrasi uang rupiah - Freepik
Harianjogja.com, JOGJA—Tahun ajaran baru tidak hanya identik dengan pembelian seragam, buku, dan perlengkapan sekolah. Bagi banyak keluarga, momen ini juga menjadi waktu untuk kembali menyusun anggaran harian anak, termasuk menentukan besaran uang saku yang akan diberikan setiap hari.
Meski terlihat sederhana, pemberian uang saku sebenarnya memiliki peran yang jauh lebih besar daripada sekadar memenuhi kebutuhan makan atau jajan selama berada di sekolah. Uang saku dapat menjadi sarana pendidikan finansial pertama yang diterima anak sebelum mereka mengenal konsep pengelolaan keuangan yang lebih kompleks saat dewasa.
Karena itu, para orang tua perlu mempertimbangkan berbagai aspek sebelum menentukan nominal uang saku. Tidak ada angka baku yang berlaku untuk semua anak karena kebutuhan setiap keluarga berbeda-beda.
Dilansir dari sejumlah sumber, salah satu faktor utama yang perlu diperhatikan adalah usia dan jenjang pendidikan. Kebutuhan siswa sekolah dasar tentu tidak sama dengan siswa SMP maupun SMA. Semakin tinggi jenjang pendidikan, biasanya kebutuhan sehari-hari juga meningkat, baik untuk transportasi, konsumsi, maupun kebutuhan penunjang pembelajaran.
Selain itu, lokasi tempat tinggal juga menjadi faktor penting. Biaya hidup di kota besar umumnya lebih tinggi dibandingkan daerah dengan tingkat pengeluaran yang lebih rendah. Harga makanan, ongkos transportasi, hingga kebutuhan sekolah sehari-hari dapat memengaruhi besaran uang saku yang diperlukan anak.
Orang tua juga disarankan menghitung kebutuhan riil yang digunakan selama jam sekolah. Komponen yang bisa dimasukkan antara lain biaya transportasi, makan siang atau camilan, serta kebutuhan tambahan seperti fotokopi, alat tulis, atau keperluan mendadak lainnya.
Namun yang tak kalah penting adalah menyesuaikan nominal dengan kondisi keuangan keluarga. Memberikan uang saku tidak perlu mengikuti jumlah yang diterima teman-teman anak apabila memang tidak sesuai dengan kemampuan finansial keluarga. Konsistensi dan pengelolaan yang tepat justru lebih penting dibandingkan besarnya nominal yang diberikan.
Sebagai gambaran sederhana, seorang siswa SMP yang membutuhkan ongkos transportasi Rp10.000 per hari, uang makan Rp15.000, serta kebutuhan sekolah sekitar Rp5.000 berarti memerlukan sekitar Rp30.000 setiap hari. Jika sekolah berlangsung lima hari dalam seminggu, kebutuhan uang saku mencapai sekitar Rp150.000 per minggu atau sekitar Rp600.000 dalam satu bulan.
Selain memenuhi kebutuhan harian, uang saku juga dapat menjadi media pembelajaran untuk membangun kebiasaan menabung. Orang tua dapat mengajak anak menyisihkan sekitar 10 hingga 20 persen dari uang yang diterima setiap hari atau setiap minggu.
Dana tersebut dapat disimpan dalam celengan, rekening tabungan khusus anak, maupun platform keuangan yang sesuai dengan usia mereka. Dengan cara ini, anak mulai memahami bahwa tidak semua uang harus dihabiskan sekaligus dan sebagian perlu disimpan untuk kebutuhan masa depan.
Pembelajaran sederhana seperti membedakan kebutuhan dan keinginan, menyusun prioritas pengeluaran, hingga menyisihkan uang untuk tabungan merupakan keterampilan yang akan sangat berguna ketika anak beranjak dewasa.
Pada akhirnya, tujuan utama pemberian uang saku bukanlah seberapa besar nominal yang diterima anak setiap hari. Nilai terpenting justru terletak pada proses pembelajaran yang menyertainya. Dengan perencanaan yang tepat, uang saku dapat membantu membentuk karakter anak menjadi lebih disiplin, bertanggung jawab, dan mandiri dalam mengelola keuangan sejak usia dini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Britney Spears merilis lagu arsip She’ll Never Be Me yang ditulis bersama Justin Timberlake. Lagu ini masuk edisi 25 tahun album Britney.
IMF memperingatkan tekanan utang negara berkembang akibat konflik AS-Iran, sementara perlambatan investasi AI berisiko menekan ekonomi global.
Rupiah melemah 18 poin ke Rp17.918 per dolar AS pada Rabu (14/10/2026), tertekan kenaikan harga minyak dunia dan menanti data inflasi AS.
Polda Metro Jaya menaikkan kasus penganiayaan pengurus BEM UI Hafidz Hernanda ke penyidikan. Polisi memeriksa tujuh saksi dan menelusuri 26 titik CCTV.
KPK mencatat pemulihan aset negara Rp603 miliar hingga triwulan III 2026, termasuk Rp106 miliar dari perkara korupsi pejabat ATR/BPN.
Kelurahan Sorosutan, Jogja, mengembangkan Gemati untuk mendampingi warga dengan gangguan jiwa. Dukungan keluarga menjadi tantangan pemulihan.